Thursday, July 2, 2020

Tips Fakta Tentang Bahasa Denmark|Fashion Style

Wohooo.. Sudah nyaris satu tahun yang lalu saya membuat postingan tentang bahasa Denmark , tahun ini saya sudah masuk Modul 4. Apa yang menarik dari modul ini? Pelajaran tata bahasa makin sulit, tapi saya belum bisa juga bicara dengan baik.

Di kelas saya, mayoritas siswanya memang nyaris 90% bisa berbahasa Inggris dengan lancar. Daripada capek-capek memikirkan kata per kata dan menyusun hingga jadi kalimat dalam bahasa Denmark, saya dan mereka keseringan berganti ke bahasa Inggris saja. Jadi bisa dibayangkan betapa beratnya perjuangan siswa kelas saya di bagian speaking bahasa Denmark ini.

Teman-teman au pair ataupun non-au pair yang dulu sempat mengambil kelas bahasa Denmark, banyak yang memutuskan menyerah. Begitu pun juga saya. Meskipun sempatupdandown menyusun mood datang ke sekolah, akhirnya saya putuskan untuk kembali datang ke kelas menemui teman-teman seperjuangan. Semakin dipelajari, semakin banyak fakta menarik soal bahasa bangsa Viking ini.

1. Datar dan tanpa irama

Bahasa Denmark diakui sebagai bahasa terjelek di Skandinavia oleh banyak orang. Tidak seperti bahasa Swedia yang lemah gemulai dan bernada, ataupun bahasa Norwegia yang lebih jelas cara bacanya, bahasa Denmark lebih mirip orang lagi kumur-kumur. Tidak hanya fantastic datar, tapi nyaris semua huruf dimakan.

Gara-gara label "terjelek" namun juga tersulit inilah, banyak pendatang memutuskan malas belajar bahasa Denmark. Alasan lainnya, tanpa bahasa Denmark pun, mereka tetap bisa bertahan hidup di kota-kota besar hanya dengan bahasa Inggris.

2. Rigsdansk

Sama seperti negara mana pun, tiap location biasanya memiliki dialek atau aksen di setiap bahasa resmi mereka. Di Denmark, dialek orang Aalborg berbeda dengan orang Ringk?Bing. Pun begitu dengan dua dialek tersebut, sangat berbeda dengan dialek orang-orang yang tinggal di sekitar location Kopenhagen.

Rigsdansk atau rich Danish sebenarnya merupakan tata bahasa resmi yang dipakai di Denmark hingga saat ini. Rigsdansk biasanya diajarkan di sekolah ataupun dipakai saat acara formal.

Lucunya, rigsdansk sering dikaitkan oleh bahasa orang-orang middle class di tahun 1800-an. Di tahun 1970-an, karena pusat pemerintahan ada di Kopenhagen, rigsdansk menjadi tata bahasa resmi sekaligus dialek tetap para Copenhageners ataupun orang-orang yang tinggal di area Sjælland.

Karena perbedaan dialek inilah, orang-orang Sjælland biasanya kesulitan mengerti dialek orang Jutland ataupun Bornholm. Mereka lebih sering disebut bahasa petani ataupun bahasa lower class karena tidak menggunakan standar bahasa Denmark yang dipakai oleh para Copenhageners.

3. Terkesan kasar

Saat belajar bahasa Inggris, kita sudah diajarkan soal pembagian bahasa formal dan non-formal. Untuk memanggil orang yang tak dikenal pun, kita tahu harus memanggil mereka dengan sebutan Sir atau Madam, jika tidak tahu nama belakang orang tersebut. Pun begitu saat saya belajar bahasa Prancis dan Belanda sewaktu di Belgia.

Di Denmark (dan juga bahasa Nordik lainnya), formalitas bukanlah ketetapan dari standarisasi satu bahasa. Selain kata undskyld yang berarti maaf (atau excuse me), saya tidak mengenal kata lemah lembut lainnya.

Atmosfir antara siswa dan guru pun tercipta dengan sangat kasual. Yang tua tidak gila hormat hanya untuk dipanggil Pak, yang muda pun tidak perlu pikir panjang hanya untuk bersikap sopan.

Ketiadaan bahasa formal, logat yang datar dan tanpa berirama, cocok saja jika bahasa ini terdengar cukup kasar di telinga.

Four. Betapa liberalnya bahasa ini

Orang Denmark termasuk yang sangat bebas dalam pemakaian bahasa mereka. Tidak seperti orang-orang di Britania Raya yang sangat sopan dan takut untuk memakai kata-kata kasar, orang Denmark justru sebaliknya.

Kata-kata makian yang bermakna seksual, kasar, dan tidak pantas dianggap biasa saja digunakan dalam percakapan sehari-hari. Karena terpengaruh tontonan Amerika, anak-anak kecil di Denmark sudah sangat akrab dengan F! word. Belum lagi para orang dewasa yang sering lepas kontrol mengucapkan kata serupa.

Di lirik lagu, deadline koran, ataupun majalah, kata-kata pinjaman dari Inggris-Amerika yang bermakna negatif sering dipakai. Karena hal inilah, tidak heran kalau orang Denmark juga dicap sebagai bangsa yang hobicursing.

Host kid saya yang baru berumur 5 tahun, bebas saja mengatai orang tuanya. Saya pernah mendengar gadis kecil ini sampai berteriak-teriak, "Ayah bodoh!" atau "Betapa bodohnya orang tua ku ini!". Seorang teman pernah bercerita, sepupunya yang berusia 13 tahun, bebas saja mengatakan, "Dasar ibu bodoh, such a b**ch!"

Reaksi orang tua mereka? Biasa saja. Malah hanya bertanya dengan lemah lembut, "Kenapa? Kenapa ibu sampai dikatai bodoh?"

Dulu, saat satu kata kasar keluar dari mulut kecil kami, orang tua saya tidak segan-segan mengambil cabe merah atau rawit untuk dimasukkin ke mulut kami. Memang tidak pernah terjadi karena hanya menakut-nakuti. Tapi jelas sekali, kalau no place for bad words at home!

Wednesday, July 1, 2020

Tips Mempelajari Karakter Para Cowok di Tiap Bagian Eropa|Fashion Style

*I talk a lot about European boys in this blog, but seriously, this is always the hottest topic for girls! ;)

Oke, salahkan pengalaman saya yang jadi serial dater selama tinggal di Eropa. Tapi gara-gara pengalaman ini, saya juga bisa bertemu banyak orang baru sekalian mempelajari karakter mereka.

Cowok-cowok yang saya temui ini juga tidak semuanya saya kencani. Beberapa dari mereka saya kenal saat workshop, festival, ataupun dari teman. Beruntung sekali, banyak juga teman-teman cewek yang mau menceritakan pengalamannya saat berkencan dari cowok ini, cowok itu, and all of them have wrapped up neatly in my head!

Secara umum, tulisan yang saya ceritakan disini murni hasil pengalaman pribadi, pengalaman teman, ataupun si cowok yang menilai bangsanya secara langsung. Letak geografis Eropanya mungkin sedikit rancu, tapi saya mengelompokkan mereka berdasarkan jarak negara dan karakter yang saling berdekatan.

Kita semua benci stereotipe, tapi walau bagaimana pun kita tetaplah bagian dari stereotipe itu.So, ladies, you want to know more? Enjoy!

The monotonous northerners

Kalau kamu memang mengidolakan cowok-cowok berotot, bertato-tapi-kyut, berambut pirang, bermata biru, dan stylish, liriklah para cowok di bagian utara Eropa. Para cowok ini kebanyakan pandai di bidang teknologi dan desain. They're undoubtedly uber creative and charming!

Sayangnya, cowok-cowok Nordik terkenal super garing saat merayu lawan jenis. Mereka tipikal cowok membosankan yang tidak akan bisa jadi sosok gentleman a la drama idaman cewek. Jangan heran kalau kebanyakan dari mereka jarang sekali SMS atau textingan. Mereka sebenarnya adalah cowok mandiri yang akan memberi kita space yang begitu luas dan tidak akan pernah mencecar pertanyaan songong semacam "lagi apa?" atau "sudah makan belom?" setiap hari.

Karena persamaan hak dan derajat antara pria dan wanita di negara mereka, para cowok Nordik juga tidak membeli perhatian wanita dengan makan malam romantis, bunga, ataupun banjiran ungkapan cinta. Mereka juga cukup berhati-hati melangkah dan memutuskan apakah suatu hubungan itu hanya sebatas kencan, friend with benefits, atau serious relationship.

Tapi karena persamaan derajat ini, para cowok Nordik biasanya sudah terbiasa membantu urusan rumah tangga semisal mencuci piring, memasak, hingga mengurus anak. Mereka memang bukan tipe gentleman yang kita cari, tapi mungkin justru mereka lah, para cowok mandiri yang kita butuhkan. They will take care of you, be honest, and respect you to the fullest.

Lucunya, tak jarang lho, para cowok Nordik merasa jiwa gentleman mereka terkubur sehingga mencari pasangan di wilayah lain. Mereka menganggap, para cewek Eropa Utara terlalu sulit dimengerti, banyak ekspektasi, dan sok mandiri.

Warriors from the West

Bukan pengagum cowok-cowok pirang? Mungkin kamu akan jatuh cinta dengan sosok feminin-maskulin cowok Prancis, talkative Germans, dan the hot brunette Belgian and Dutch guys!

Saya juga suka cowok-cowok berambut brunette yang super kece dan ganteng seperti Michael Fassbender ataupun Clément Sibony. They are so damn hot, huh? Ehe.

Cowok-cowok Eropa Barat biasanya sangat mumpuni di bidang teknologi dan sains. Jangan heran kalau kebanyakan para cowok ini hanya sibuk dengan gadget canggih dan buku-buku pintar mereka. Tidak seperti cowok Nordik yang sedikit dingin dan tertutup, para cowok di Eropa Barat biasanya lebih terbuka, adventurous, dan menyenangkan.

Saat para cowok Barat sudah berhasil mendekati cewek, mereka adalah tipe pejantan tangguh yang akan mengejar si cewek dimana pun kapan pun. Mereka juga tidak malu menunjukkan sisi maskulin dengan menawarkan tumpangan, membayari makan, ataupun mengunjungi negara asal si cewek kalau memang sedang LDR.

Meskipunhumourless dan pemalu di awal, tapi cowok Eropa Barat termasuk salah satu the greatest lovers. Lucunya, banyak juga anggapan, cowok-cowok ini super perhitungan dengan uang mereka. They could count every single thing they've (not yet) spent.

Casanovas stay within the south

Saya mengelompokkan para cowok Spanyol, Portugal, dan Italia sebagai Casanova. Apa yang menarik dari mereka? Macho, tukang gombal, ahli menebar kata-kata cinta, dan tentu saja, ganteng alami! Cek deretan pemain bola dari Spanyol dan Portugal kalau belum juga percaya! ;)

Entah kenapa, imej cowok-cowok playboy tetap saja menempel ke para makhluk Adam ini. Mereka memang terkenal jenaka, sangat terbuka, bersahabat, dan ramah terhadap orang baru. Tidak seperti cowok-cowok Eropa Barat, para Casanova juga pede saat mendekati para cewek. They're so confident and have a ball!

Karena terlatih untuk menghargai dan memperlakukan cewek dengan baik, para Casanova biasanya tahu bagaimana bersikap layaknya gentleman. Mereka terkenal agresif dalam menunjukkan rasa cinta terhadap pasangan, bersedia membayari makan saat kencan, dan tidak malu memberikan bunga meskipun belum jadian.

Tapi, jangan harap mendapatkan posisi pertama di hati para Casanova ini. Nyatanya, mereka tetap menempatkan ibu mereka di urutan pertama. Karena harga sewa yang mahal di negara mereka, banyak juga para cowok yang masih tinggal dengan orang tua meskipun di atas usia 25 tahun. Hal ini juga yang membuat para cowok ini sangat dekat dengan keluarga mereka.

Saat para cowok Nordik bersikap hati-hati dan jujur dengan perkataan mereka, para Casanova justru bisa saja terlalu lebay dan membual. You have to make sure that you ARE the one.

In the center of cuteness

Salahkan saya lagi jika harus memasukkan deretan cowok Balkan dan negara-negara Eropa Tengah seperti Republik Ceko, Slovenia, atau Kroasia, di daftar ini. Sangat sulit membagi-bagi wilayah Eropa secara geografis.

Kalau kamu ingin melihat perpaduan hidung Timur Tengah, kulit Eropa Utara, dan keseksian Eropa Barat, kamu harus berlabuh di hati para cowok Balkan!They are so good looking creatures!

Saya pernah bertemu dengan seorang cowok Bosnia muslim yang saat itu sedang membenari lampu di rumah keluarga Denmark ini. Mukanya putih bersih bersipu merah karena hawa dingin. Badannya tinggi tegap, senyumnya manis, dan wanginya—alamak—jadimelting!

Eh serius, ini cowok pakai parfum merk apa ya? Saat dia lewat, seruangan dipenuhi wangi si dia. Di dinding bekas dia bersandar pun, masih ketempelan parfumnya! *Ini penting tapi lupakan ya.*

Cowok-cowok Albania, Austria, Republik Ceko, atau Kroasia memang tidak se-macho para cowok Eropa Selatan, tapi mereka adalah para cowok yang akan membuat para cewek meleleh karena terlalu cute.

Selain memiliki muka perpaduan dari wilayah Eropa di sekitarnya, para cowok Eropa Tengah juga sangat pemalu, lho. Anehnya, mereka tidak akan malu mabuk dan sok jadi lelaki saat bersama teman. Namun, mendadak jadi sok misterius tapi sebenarnya malu ketika berhadapan dengan lawan jenis.

Meskipun para cowok ini bisa jadi sangat cerewet, terbuka, dan senang bercanda, tapi entah kenapa mereka kebanyakan lebih memilih pasangan dari kultur yang sama. Yah!

The humblest easterners

Apakah cowok-cowok dari timur Eropa belum terdeteksi radar? Then it has to be! Faktanya, mereka adalah para true gentleman dibandingkan cowok Eropa mana pun!

Oke, secara penampilan, cowok-cowok Eropa Timur memang tidak se-stylish cowok Eropa Utara. Tapi jangan salah, cowok-cowok ini juga kebanyakan mengerti teknologi dan sains. Banyak cowok dari Romania, Latvia, Polandia, atau Lithuania yang saya temui bekerja di bidang IT bahkan arsitektur.

Tapi karena sering mendapatkan imej negatif soal bangsa gipsy yang hobi mencuri, penduduk Eropa Timur banyak dinilai sebelah mata oleh penduduk Eropa lain. Makanya, para cowok Eropa Timur yang saya temui, biasanya akan lebih banyak berkicau tentang pekerjaan dan sekolah. Mereka tidak ingin dicap bodoh oleh bangsa lain, jadi topik soal hot job dan cool university adalah yang sering dibicarakan.

Pada umumnya, cowok-cowok Eropa Timur sangat rendah hati, tidak terlalu peduli dengan tren terbaru, dan cukup hati-hati saat mendekati cewek. Mereka tidak akan pernah seagresif para Casanova ataupun seniat cowok dari Barat. Tapi nyatanya, mereka tetap bisa menunjukkan sisi maskulin dan menjadi gentleman yang seperti para cewek inginkan.

Kalau cowok-cowok Eropa lain masih ingin memikirkan karir dan masa depan, para cowok Timur justru tidak takut pada komitmen dan pernikahan. Lucunya, entah kenapa saya merasa cowok-cowok Eropa Timur kadang terlalu jujur terhadap perasaan mereka ke lawan jenis. Tidak terlalu misterius dan terkesan mudah ditebak, layaknya cara pendekatan cowok-cowok Indonesia.

Dibandingkan wilayah Eropa lain, para cowok Timur juga termasuk yang paling religius. Meskipun tidak ingin mengaku sebagai orang yang keluar masuk gereja tiap minggu, tapi sedari kecil mereka sudah ditanamkan untuk mempercayai sesuatu Yang Besar di alam ini. Superb!

Nah, kalian sendiri, lebih suka cowok Eropa bagian mana? ;)

Tips Menengok Harga Tur Pariwisata di Islandia|Fashion Style

Meneruskan kembali cerita saya di Reykjavík , tidak lengkap rasanya membahas Islandia tanpa embel-embel Aurora Borealis. Selain memiliki keindahan alam yang dramatis, Islandia juga adalah satu tempat terbaik memburu aurora saat musim dingin. Tapi apakah semudah itu melihat aurora di Reyjkjavík?

Di daftar What Should I Do Before Dying saya sudah menuliskan "melihat Aurora Borealis" lima tahun silam, jika ada kesempatan liburan di Eropa. Harapan pun saya gantung tinggi-tinggi saat memutuskan liburan ke Reykjavík November tahun lalu. Selanjutnya, saya mulai mencari info bagaimana cara bisa memburu si aurora di Islandia.

Meskipun memiliki pemandangan yang indah, namun untuk mengeksplor keindahan Islandia tidak bisa hanya di satu tempat semisal Reykjav?K. Banyak tur pariwisata di Islandia dirancang bagi pecinta alam untuk mengeksplor tempat-tempat terbaik yang jauh dari pusat kota. Mengunjungi tempat ini pun biasanya tidak bisa satu atau dua hari, serta biaya yang dibutuhkan juga tidak murah.

Selain ikut tur, sebenarnya bisa saja kita menyewa mobil lalu mengemudi sendiri ke tempat yang lebih jauh. Namun tentu saja akan lebih baik kalau bepergian bersama teman atau keluarga, jadi biaya sewa mobil bisa dibagi rata. Sayangnya karena saya sendirian, hanya punya waktu dua hari pula, mau tidak mau harus menyerah dengan ikut tur.

Di Reykjavík, selain tur melihat aurora, banyak juga tur yang menawarkan pariwisata lain seperti melihat paus atau burung puffin, tur seharian ke Golden Circle, tiket masuk ke Blue Lagoon, ataupun sekedar wisata kuliner khas Islandia. Ada dua website agensi yang direkomendasikan, Special Tours Getaway to Iceland , dan Reykjavík Excursion.

Karena tidak terlalu tertarik dengan Blue Lagoon?Sendirian pula?Saya memutuskan untuk fokus ke auora saja. Ada dua alternatif melihat aurora yang ditawarkan pihak agensi; lewat darat dengan menggunakan bus, ataupun via laut dengan menggunakan kapal.

Harga mengikuti tur aurora dengan bus dan kapal juga berbeda. Northern Light by Boat di Special Tours  berlangsung selama 2-2,5 jam, dipatok harga 9900 ISK atau 82€. Sementara jika berminat melihat aurora dengan menggunakan bus, bisa dipesan lewat agensi Reykjavík Excursionseharga 6400ISK atau 53€.

Saya melihat kedua agen pariwisata ini adalah yang paling terkenal di Islandia. Selain bisa melihat aurora thru darat atau laut, Reykjavik Excursion juga menyediakan banyak paket tur kombinasi tergantung dengan musim. Dibandingkan dengan Special Tours, tur aurora menggunakan kapal di Reykjav?Ok Excursion dipatok dengan harga yang lebih tinggi, eleven.900 ISK atau ninety six?. Dih!

Jika tertarik melihat paus di lautan Reykjav?K, sila merogoh kocek 9900 ISK untuk three-three,5 jam tur. Atau bisa juga mengikuti tur seharian The Golden Circle seharga 10.500 ISK atau 87? Dimulai dari mengunjungi pusat geotermal di Strokkur, hingga ke Gullfoss (Golden Falls) yang bisa menyembur dari tanah hingga ketinggian 32 m.

Karena Aurora Borealis dan kemunculan paus adalah hal yang alami dan tidak bisa diprediksi, pihak agensi tur biasanya tetap akan memberikan jaminan uang kembali kalau seandainya tur terpaksa dibatalkan karena keadaan cuaca. Special Tours juga memberikan kesempatan mengganti tiket yang sudah dibeli dengan voucher makan 3-course di Kopar, salah satu restoran terbaik di downtown.

Satu lagi, karena tiket tur termasuk mahal, pihak agensi juga memberikan kesempatan kepada pelanggan yang sudah ikut tur namun tidak terlihat aurora atau paus, untuk ikut lagi di tur-tur selanjutnya. Jadi, tiket mahal yang sudah dibeli tidak hanya sah hari itu saja. Kapan pun, jika ada kesempatan kembali lagi ke Islandia, kita bisa ikut lagi tur mereka dengan hanya menunjukkan kode booking. Even for the next 5 years!

Tips Islandia: Perburuan Aurora di Atas Kapal|Fashion Style

Setelah mengecek harga paket tur yang ada di beberapa website agensi di Islandia, saya akhirnya memutuskan membeli paket Northern Lights by Boat dan Whale Watching di Special Tours dengan masing-masing harga 9900 ISK. Karena membeli dua paket tur, saya mendapatkan diskon 1000 ISK dari pihak agensi.

Sepuluh hari sebelum keberangkatan, saya terus-terusan mengecek prakiraan cuaca di Reykjav?Okay. Beberapa hari ke belakang, Reykjav?K sedang diguyur hujan deras ditambah angin kencang. Kalau memang saat saya disana ternyata hujan, sayang sekali kalau harus membatalkan tur aurora dan paus yang sudah direncanakan.

Finally saya sudah di Reykjavík. Beruntung sekali weekend kali ini Reykjavík sedang good mood, tiada hujan, tiada salju. Suhu saat itu hanya 1°C, tapi anginnya kencang gila-gilaan. Muka saya sampai merah-merah serasa ditampar. Karena merasa sudah pas dengan pakaian yang digunakan, saya pun sampai sengaja tidak membawabeanie hat dan syal. Tolol!

Tur pertama saya adalah Northern Lights through Boat yang akan dimulai jam 9 malam. Lima belas menit sebelum tur, saya sampai di depan kapal yang akan digunakan untuk tur. Seorang kru cewek dari pihak agensi sudah berdiri tepat di depan kapal untuk mengecek nomor reserving dan tiket tamu.

Bagian dalam kapal terdiri dari dua lantai, bagian paling bawah dan tengah. Tidak terlalu ingin terombang-ambing ombak, saya pun memilih duduk di lantai kedua. Seorang gadis muda Jerman dan ibunya mempersilakan saya duduk di dekat mereka ketika tahu saya datang sendirian. Banyak tempat duduk sudah mulai terisi penuh. Kebanyakan orang memang datang bersama teman, keluarga, ataupun pacar, tidak ngenes seperti saya yang jadi single fighter malam itu.

Jam nine teng, kapal mulai bergerak meninggalkan pelabuhan. Seorang kru, yang ternyata adalah cewek di depan kapal tadi, datang dan menyambut tamu. Dia menjelaskan tentang keamanan, isi kapal, dan tur yang akan berjalan hingga tengah malam.

Karena aurora adalah fenomena alam yang tidak bisa diprediksi, si cewek menghimbau agar tamu tetap bisa mengikuti tur-tur di hari berikutnya jika malam itu belum puas. "Please remember, you are in the North Atlantic! Even it's colder, but try to enjoy and have fun." tambahnya lagi. Ketika mendengar kata-kata itu, entah kenapa seketika saya merasa sudah terlalu jauh dari rumah.

Dua puluh menit awal, kapal mulai bergerak lebih cepat hingga empat puluh menit berikutnya. Kapal mulai terombang-ambing ombak kencang sampai membuat seseorang yang berjalan di atas kapal harus lebih hati-hati melangkah.

Dari awal, si cewek juga sudah memberikan instruksi untuk menggunakan jaket penahan dingin, mirip jaket astronot, yang sudah disediakan oleh kapal. Sialnya, jaket tersebut ada di lantai bawah. Artinya, saya harus berjalan pelan ke bawah dan memasang jaket dalam keadaan kapal disko begini. Aduh!

Saat melihat banyak orang yang mulai angkat pantat turun ke bawah, saya pun memaksakan diri berjalan. Kepala saya sudah mulai nyut-nyutan sebenarnya. Ditambah lagi harus memasang jaket dari bagian kaki hingga ke leher. Karena kapal sedang bergerak cepat, saya dan beberapa orang harus terombang-ambing kesana kemari hingga terjatuh, sebelum jaket benar-benar terpasang.

Lebih dari satu jam diombang-ambing ombak, kapal akhirnya menurunkan jangkar di tengah lautan jauh dari keramaian pusat kota. Orang-orang pun mulai keluar menuju dek bagian atas kapal. Sembari menunggu aurora muncul, seorang kru laki-laki bercerita menggunakan pengeras suara bagaimana aurora bisa muncul, cara agar mereka muncul, ataupun cerita-cerita lain yang berhubungan. Lucunya, si kru ini sampai bernyanyi untuk "memanggil" aurora.

Setelah selesai gilirannya, kru cewek yang tadi menyambut kami, berganti mic memberikan informasi serta cerita-cerita lain tentang aurora. Suaranya yang lembut seperti sedang memohon agar si aurora muncul ketika 30 menit berselang belum juga ada tanda-tanda cahaya menari di langit Reykjavík. Layaknya kepercayaan orang-orang Viking di Islandia, si cewek juga menyuruh para tamu kapal menyilangkan tangan ke langit untuk memanggil aurora. Aneh ya.

Meskipun sudah memakai jaket anti angin, tapi badan saya tetap merasa kedinginan. Karena tidak memakai topi, telinga dan kepala pun ikut dingin. Tidak juga melihat aurora malam itu, saya kembali lagi ke dalam kapal menghangatkan diri. Beberapa tamu juga terlihat tertidur karena mabuk laut. Di sisi lain, saya melihat seorang keluarga Belanda yang sepertinya tidak tertarik dengan aurora, hanya mengobrol santai layaknya di kafe.

Perut saya mulai tidak enak, ditambah pusing dan mual, sepertinya saya juga mabuk laut. Satu jam di atas kapal disko membuat badan saya terombang-ambing kesana-kemari. Harapan hebat melihat aurora pun saya tanggalkan jauh-jauh ketika tidak sanggup lagi keluar masuk dek tanpa mesti ditampar angin Islandia.

Sebenarnya saya mendengar jelas si kru cewek beberapa kali memanggil tamu untuk menangkap aurora dengan kekuatan lemah yang muncul di langit. Aurora sendiri sebenarnya tidak hanya berwarna hijau, tapi juga bisa jadi abu-abu ataupun merah muda tergantung dengan kekuatan cahaya itu sendiri. Meskipun kita sering melihat di foto kemagisan si aurora, tapi faktanya, sangat sulit melihat aurora dengan mata telanjang saat kekuatan cahaya sedang lemah.

Setelah cukup lama kapal terdiam, akhirnya si kru memutuskan untuk menghentikan perburuan aurora malam itu. Untunglah kapal bergerak dengan laju lambat saat kembali ke pelabuhan. Para tamu pun mulai kembali ke tempat duduk mereka dengan muka pucat. Gadis muda Jerman dan ibunya menyapa saya lagi, lalu menceritakan tentang aurora yang tak berhasil mereka lihat, hingga si gadis yang juga sedang mabuk laut seperti saya.

Melihat saya menaruh kepala di atas meja, seorang kru datang menghampiri untuk menanyakan keadaan. Saat tahu sedang tidak fit, dia menawari permen jahe untuk diemut. Tidak membantu, tapi lumayanlah. Good service.

Saat perjalanan balik menuju pelabuhan, seorang kru menunjukkan beberapa foto yang berhasil ditangkap oleh dua orang tamu. Terlihat bersitan aurora berwarna hijau di langit Reykjav?Okay muncul malam itu. Lensa kamera dengan pengaturan lensa yang baik memang bisa menangkap aurora yang tidak bisa ditangkap oleh mata telanjang. Di dalam kapal pun juga sudah ditempeli guidelines bagaimana mengatur lensa DSLR agar mampu menangkap objek secara maksimum.

Oke, aurora memang muncul dengan kekuatan lemah, tapi badan saya juga ikut melemah ini. Lupakanlah si aurora, saya hanya ingin secepatnya kembali ke hostel dan istirahat!

PS:

Karena keadaan kapal yang bergerak kencang, saya tidak bisa mengambil foto saat di dalam kapal. Saat kapal sudah turun jangkar, saya juga tidak bisa mengambil kamera karena tersimpan di mantel (yang sudah dibungkus rapih jaket astronot)

Tuesday, June 30, 2020

Tips Eat Clean: Smoked Salmon Salad|Fashion Style

I do LOVE smoked salmon. No pleasant find in the groceries beside taking packs of smoked salmon inside the shelves to my buying basket. I can eat them with a sandwich, alone, or rolled into my sushi.

It's this type of responsible pleasure to continually emerge as eating more than 100 gram smoked salmon almost each day. Okay, blame me for this. But, I'm a salty food aficionado and smoked salmon are simply too true.

Whether silky-easy and bloodless-smoked, served over cheese-smeared bagel, or as the hot-smoked, richly flaky, rosy-purple centerpiece of a charcuterie platter, smoked salmon is a culinary indulgence that can easily be bought in normal grocery stores in addition to specialty food stores. While salmon is a nutritious and wholesome protein preference, smoked salmon increases the sodium content of the fish.

There is also concern that eating smoked foods can increase cancer risk. There is some evidence, albeit weak, that high intakes of smoked foods—in particular meat and fish— increase the risk of stomach cancer. The best way to balance my sodium intake is by including plenty of fruits and vegetables in my daily diet. A high intake of fruits and vegetables is associated with protection from stomach cancer.

My Danish family treasure salad! They eat salad almost every day with their "dry" meal. Salad is like oase for their mouth after eating too much meat. No need salad if they eat rice with curry. But whenever I see my host dad prepares salad for dinner, it's so intriguing. He really takes care of what should he puts in his bowl. There is always green from the leaves (of course!) and red inside.

"Food is a visible component. Salad is sort of a refreshment at the desk. Once you spot some thing clean, something pink, something fancy, your eyes will note and your mouth receives watered. You need it!" he stated.

To be honest, I disliked salad. In Indonesia, it's now not common for us to consume raw greens. Everything desires to be steamed or at least semi-cooked. Eating raw leaves way which you are equal with cows and goats. So, not our aspect.

But because I love my body, I love salmon, and I try to adore eating clean, I'm trying to fancy my bowl for lunch. I think my host dad is right, we need colours in our plates. I have to eat raw food and fresh vegetables more! So, I've made this recipe for myself.

Smoked Salmon Salad

Beautifully brilliant mixture of everything in our fridge!

Ingredients:

Crispy lettuce

50 g smoked salmon

half can of sweet corn

1 tomato

1/four cucumber

1 slice of rye bread

1 avocado

A pinch of cayenne pepper (I'm a huge fan of highly spiced meals)

I like gambling with colours and put almost the entirety in our fridge into my massive bowl. I was no longer in reality sure approximately the flavor, but exceedingly loved it! Even even though it is easy, but all the extraordinary elements and the spicy dressing made this a snazzy facet dish or adorable lunch essential dish. Since I organized it in a huge bowl, so it turned into pretty sure filling.

Tips Bebasnya Bermesraan di Tempat Umum|Fashion Style

Beberapa minggu yang lalu, saya sempat menemani seorang cowok Korea-Amerika yang datang ke Kopenhagen karena urusan pekerjaan. Karena hanya datang beberapa hari saja, si cowok bermaksud minta temani minum-minum sekalian ngobrol.

Kopenhagen adalah kota kedua yang dia kunjungi setelah London. Setelah ngerumpi seru, saya tahu kalau si cowok sebenarnya bukan orang yang maniak jalan-jalan seperti saya. Kalau bukan karena urusan pekerjaan, si dia lebih senang menetap saja di Philadelphia dan minum-minum bersama temannya.

Karena tidak terlalu suka jalan-jalan dan eksplor tempat baru, cowok ini juga terlalu "everyday" alias menganggap Eropa terlalu aneh.

"Di Amerika, kalau kamu sendirian di bar, biasanya akan ada saja yang mengajak ngobrol dari kanan kiri. Sangat mudah cari kenalan ataupun sekedar teman ngerumpi. Di Denmark, semuanya terkesan individualis dan tertutup," komentarnya.

Welcome to Denmark!

"Tadi saya ke toilet, melewati sepasang muda mudi di sofa sana. It's so weird! Mereka ciuman tanpa henti. Pas saya selesai dan lewat, ciumannya juga masih lanjut," katanya lagi ketika kami sedang berada di sebuah bar fancy favorit saya.

Saya nyengir, "iya, memang begitu (di Denmark). Tidak akan ada yang peduli apa yang kamu lakukan, asalkan jangan berhubungan seks saja disini."

"What? Aneh! Itu tidak sopan, you know? Di Amerika, kalau kamu ingin melakukan yang seperti itu, mending di tempat tertutup. Ada sih yang ciuman di tempat umum, tapi kebanyakan anak-anak ABG yang lagi kasmaran lah. Pokoknya PDA (Public Display Affection) itu terlalu kekanakkan. Mungkin kalau kamu melihat di tv, kayaknya semua film ada bumbu ciuman dan seksnya. Tapi faktanya, seks masih tabu di Amerika."

Si cowok ini berkali-kali mengecap Denmark negara aneh karena sungguh berbeda dari Amerika. Budaya rekan kerja, sistem sosial, hingga betapa bebasnya capcipcup di tempat umum.

Welcome to Scandinavia!

Saya akui, negara-negara Skandinavia (dan Nordik) termasuk yang sangat terbuka terhadap nudity dan seks. Di negara ini, seks bukan lagi hal yang dianggap tabu. Banyak buku dan siaran tv yang secara langsung menunjukkan tentang nudism.

Saya pernah melihat salah satu buku Emilia, host kid saya, tentang proses bagaimana bayi dibuat hingga masa persalinan. Di buku tersebut pun terpampang jelas bagaimana si ilustrator menggambarkan alat kelamin, hubungan ranjang, hingga keadaan bayi keluar dari itunya si ibu.

Karena keliberalan inilah, banyak juga anak-anak ABG yang tidak malu menceritakan tentang cerita seks mereka dengan orang tua. Hubungan seks juga seringkali jadi percobaan dulu sebelum ingin dibawa kemana sebuah hubungan. Banyak anak muda yang berkenalan dengan lawan jenis di bar, tidur dan berhubungan, lalu lihat saja besok paginya. Kalau tidak ada sex compatibility antara mereka, bye! Kalau ternyata ada, pertemuan baru berlanjut di kafe sekalian ngopi-ngopi seru.

Makanya jangan heran dan jijik kalau menemukan banyak pasangan yang tidak malu mengumbar kemesraan di dalam kereta, bar yang penuh orang, tengah jalan, hingga bus kota. Intinya, di negara yang sungguh berbeda dari negara kita, cukup tunjukkan rasa respek saja terhadap mereka. Jangan terus-terusan dipandangi, apalagi diberikan pandangan sinis. Sekali lagi, urusi saja urusan kita sendiri.

...and after all, this what travel teaches us, immersing the differences.

Photo: The Jane

Tips Semua Au Pair di Denmark Tinggal di Basement?|Fashion Style

Ada cerita lucu dan sedikitoffensive tentang tempat tinggal au pair di Denmark yang sebenarnya baru juga saya sadari.

Suatu hari saat saya dan teman-teman sedang makan malam di restoran, beberapa di antara kami ada yang menyinggung soal mengapa banyak sekali orang Denmark yang berlibur ke Thailand. Lalu seorang teman nyeletuk, "selain murah, biasanya mereka mencari perempuan. Satu lagi tuh, Filipina."

"Oh ya? Kenapa?" tanya saya pura-pura bego.

"Soalnya banyak pria Denmark yang bosan dan kesulitan cari perempuan disini. Kamu tahu kan, cewek-cewek Denmark sulitnya bukan main."

"Oh iya tuh, Filipina. Banyak yang liburan kesana, terus pulangnya bawa suvenir cewek-cewek Filipina untuk disimpan di-basement jadi au pair," kata seorang teman cowok lain secara santai.

"Ah, kamar kamu juga bukannya di basement ya?" tanya Ieva, teman cewek asal Latvia, yang saat itu di samping saya sembari nyengir kuda.

"Biiippp! Biiipp! Biiiippp!!" kata Dan, seorang teman cowok, tiba-tiba memperingatkan sesuatu. "Man, it's so offensive. She's an au pair," lanjutnya sambil melihat ke arah saya.

Teman cowok tadi yang memang sebenarnya tidak tahu saya au pair, jadi kelabakan dan tidak enak sendiri. Mukanya dari yang nyengar-nyengir jadi berubah tidak nyaman. Sebenarnya si cowok ini juga baru saya kenal hari itu dari si Dan.

"Tapi dia bukan orang Filipina kok. Dia orang Prancis. Tapi meskipun dia tinggal dibasement, si keluarganya ini memang punya rumah yang super besar," ralat si cowok mencoba untuk tidak menyinggung saya lebih jauh.

Sebenarnya tidak ada kata-kata dia yang bermaksud menyinggung saya dan au pair lainnya. Tapi memang, kata-kata "jadi suvenir di-basement" cukup membuat saya bertanya-tanya. Saya tidak banyak memiliki teman au pair di Denmark, namun dari dua orang teman yang pernah saya kunjungi rumah keluarga angkatnya, kamar mereka memang juga berada di basement.

Suatu kali, saya juga berkesempatan mengunjungi rumah seorang teman au pair yang baru saya kenal dan bertemu dengan teman au pair dia yang lainnya. Entah memang kebetulan atau tidak, 90% dari mereka mengatakan kalau kamar mereka juga berada di basement.

Sebenarnya kamar saya yang berada di basement serasa apartemen pribadi karena memiliki dapur, kamar mandi, hingga ruang gym sendiri. Privasi pun rasanya lebih terjaga karena serasa tinggal di goa. Lalu entah kenapa, sama seperti kamar teman-teman au pair lainnya, kamar tidur yang ada di basement biasanya lebih besar dari kamar utama dan kamar anak-anak si keluarga angkat.

Saya tidak menemukan ada yang salah dari kamar-kamar ini. Tapi memang iya, mengapa justru hampir semua kamar au pair di Denmark berada di bawah tanah?

Hingga satu hari, Vicky, teman Indonesia saya mengatakan kalau sebenarnya ilegal memiliki kamar tidur di basement.

"Iya, Nin. Jadi keluarga aku ini ngomong, kalau sebenarnya basement tidak layak dijadikan kamar tidur. Di Denmark, kamar tidur yang berada di bawah tanah ilegal dan kalaupun ingin menjadikan basement sebagai kamar tidur, si keluarga ini mesti melapor dan membayar pajak properti lebih tinggi."

"Tapi kenapa ilegal ya? Bukannya kita disediakan ruangan pribadi dan kamar mandi sendiri?"

"Iya, memang. Tapi bayangkan saja, bawah tanah jadi kamar tidur? Sebenarnya kurang layak kan? Meskipun sudah diberi heater ataupun semua perabotan, tapi jatuhnya tetap saja tidak layak. Intinya si keluarga angkat harus melapor dulu dan membayar pajak mahal kalau ingin ada orang yang mendiami bawah tanah sebagai kamar tidur," tambahnya lagi.

Dari pengalaman ini, saya juga memperhatikan bahwa rumah-rumah di Denmark memang kebanyakan memiliki ruangan lain di bawah tanah. Karena temperatur suhu yang lembab, ruang bawah tanah justru sering digunakan sebagai ruang penyimpanan wine ataupun tempat cuci dan jemur pakaian.

Kalau pun ingin menambahkan ruangan tidur di bawah tanah, beberapa kebijakan harus diterapkan saat membangun ruangan tersebut. Seperti contohnya memiliki jendela yang cukup besar untuk memungkin si penghuni dapat keluar jika terjadi kebakaran, lalu juga memiliki ventilasi yang baik sebagai pertukaran udara, ataupun space yang luas agar tidak pengap.

Saya pribadi cukup bahagia dengan kamar bawah tanah yang sudah saya tempati hampir dua tahun ini. Meskipun, cukup banyak juga teman-teman non au pair yang sedikit lucu ketika tahu saya tinggal di bawah tanah. Secara keseluruhan, kamar saya cukup luas, jendelanya juga besar, kamar mandi hanya selemparan batu dari kamar tidur, hingga ruang nonton tv sangat luas yang sangat jarang dipakai keluarga ini.

Satu hal, menurut saya keberadaan jendela menjadi remarkable krusial mengingat keadaan temperatur di bawah tanah yang kadang terlalu lembab. Minusnya, ruangan bawah tanah bisa jadi sangat berdebu dibandingkan ruangan lainnya.

Satu cerita pendek lain, karena berada di bawah tanah, biasanya pipa-pipa yang berada di ruangan atas tersambung di plafon ruangan bawah tanah. Karena saat itu pipa wastafel air di dapur atas sedang ada masalah, akhirnya keluarga saya memanggil tukang pipa untuk membersihkan sisa makanan yang menyumbat. Sialnya, entah apa yang terjadi, saat si tukang sedang menyedot pipa, kamar saya justru kebanjiran air dari lantai atas. Merembesnya dari mana? Dari plafon dan lelampuan! Karena insiden ini, saya mesti rela mengungsi dulu di ruang television selama satu bulan sebelum akhirnya kamar saya benar-benar siap untuk dihuni kembali.

So, what do you watched? Is it nonetheless unlawful to have our very own area and massive privacy?