Thursday, July 16, 2020

Tips Kenapa Jadi Au Pair di Denmark?|Fashion Style

Melanjutkan cerita pencarian keluarga angkat di tahun kedua , sehari setelah wawancara dengan Louise, si ibu Denmark, esoknya dia langsung mengirimkan saya jadwal pekerjaan via email. Sejauh yang saya baca, tidak ada pekerjaan yang terlihat terlalu memberatkan. Semuanya terkesan oke-oke saja dan Louise mengatakan akan kembali menghubungi karena dia masih punya jadwal wawancara dengan dua kandidat lainnya.

Dua hari kemudian, sebuah electronic mail dari Energy Au Pair mengatakan kalau keluarga Louise sudah mengkonfirmasi untuk menerima saya sebagai au pair mereka. Padahal saat itu saya masih dan sedang dalam proses diskusi dengan beberapa keluarga lain di Belanda. Walaupun sudah oke dengan jadwal kerja yang ditawarkan Louise, tapi saya tidak tahu kalau dia sudah mengkonfirmasi langsung ke pihak agensi dalam waktu secepat itu.

Jujur saja, saya sebenarnya belum berani mengatakan "siap a hundred% jadi au pair di Denmark" saat membalas email Louise. Beberapa pertanyaan lainnya seputar tugas dan jam kerja tetap saya tanyakan ke Louise demi mengulur waktu. Di saat yang bersamaan, saya juga masih sibuk berbalasan e-mail dengan dua orang keluarga di Belanda yang menurut saya juga oke-oke.

Pertanyaan-pertanyaan yang cukup menegaskan "belum cukup siap ke Denmark" akhirnya membuat Louise bertanya kembali apakah saya benar-benar mau menjadi au pair untuk keluarga mereka. Louise benar-benar menyadari kalau saya sedang dalam keraguan dan sepertinya banyak pertimbangan di otak saya saat itu.

Setelah beberapa hari bimbang tentang keputusan memilih keluarga mana yang oke, akhirnya saya tetap memilih Denmark dibandingkan Belanda. Dua negara ini memang bukan negara tujuan awal saya. Kedua negara ini juga "sudah" memiliki reputasi cukup buruk di mata saya mengenai kekerasan pada au pair. Lalu kenapa tetap ingin ke Denmark DAN jadi au pair lagi?

Saya belum pernah ke Denmark, tapi pernah mampir dan mendengar banyak cerita tentang Belanda dari teman-teman au pair yang sebelumnya pernah kesana. Banyak yang mengatakan, dibandingkan Denmark, kehidupan di Belanda lebih seru dan rame. Warga Belanda yang juga cenderung ramah dan open dengan orang baru membuat negara ini banyak kelebihannya. But well, it's all about my gut!

Saya percaya tiap negara itu punya kelebihannya masing-masing. Dari namanya saja, Denmark memang tidaklah setenar Belanda, Perancis, atau Jerman. Bahkan banyak juga yang tidak tahu letak geografis Denmark itu tepatnya di Eropa bagian mana. Tapi saya memang bukanlah orang yang cukup percaya tentang "kata orang" sebelum saya sendiri melihat dan merasakannya. Lagipula, Belanda sudah terlalu mainstream sebagai tujuan au pair Indonesia.

Sebenarnya saya juga belum kenal negara-negara Skandinavia sebelumnya. Pernah masuk jadi salah satu member MLM kosmetik asal Swedia, membuat saya akhirnya penasaran dengan Stockholm dan kota-kota di negara Skandinavia lainnya. Sebelum jadi au pair di Belgia, seorang teman juga sudah berpesan ke saya untuk sesegera mungkin melihat Aurora Borealis di langit Eropa Utara saat musim dingin. Keinginan ini sebenarnya adalah keinginan pribadinya si dia yang memang belum bisa tercapai. Denmark memang masuk ke bagian Eropa Utara dan sudah cukup dekat ke Norwegia utara yang katanya bisa lebih jelas melihat Aurora Borealis saat musim dingin. Sewaktu di Belgia, keinginan untuk melihat cahaya utara ini memang sudah ada. Namun karena keterbatasan dana dan waktu, akhirnya keinginan ini harus saya tunda dulu. That's the point!

Dibandingkan Amsterdam, Kopenhagen pernah menjadi peringkat pertama kota teraman di dunia. Sementara tahun ini, lagi-lagi Kopenhagen masuk di antara 10 kota yang layak huni di dunia. Walaupun nantinya saya tidak tinggal di ibukota, tapi jarak kota yang akan saya tinggali hanya sekitar 12 km dari Kopenhagen. Lagipula, Denmark memang sudah mendapatkan reputasi baik sebagai negara dengan tingkat kriminalitas yang sangat rendah. Intinya negara ini benar-benar nyaman untuk ditinggali deh!

Denmark terkesan lebih artistik dan cultural menurut saya. Oke, ini sedikit subjektif. Saya juga mungkin tidak sepenuhnya mengeksplor Belanda dengan lebih baik. Tiap tahun Kopenhagen selalu terlibat dalam penyelenggaraan salah satu acara fashion terbesar, Copenhagen Fashion Week, yang menegaskan bahwa warga Kopenhagen memang stylish dan memiliki desainer oke.

Sementara banyak yang mengatakan Belanda memang penuh sejarah, namun anti-style. Saya memang bukan pengikut tren yang hedonis, tapi selain Copenhagen Fashion Week, banyak juga competition kebudayaan dan seni di ibukota sering diselenggarakan dengan akses yang mudah bagi pengunjung.

Dibandingkan Danish dan Dutch, jelas saja saya lebih memilih Dutch. Saya sudah pernah belajar dan menguasai Bahasa Belanda level dasar sebelumnya. Akan lebih baik jika saya memang memilih Belanda sebagai tujuan au pair untuk meneruskan level Bahasa Belanda lebih lanjut. Sementara Bahasa Denmark, tidak terlalu penting untuk dipelajari kan ya? Tapi, eh, tapi, bahasa Denmark mirip-mirip Bahasa Swedia dan Norwegia. Bukankah lucu juga mempelajari Bahasa Denmark yang mungkin nantinya bisa sekalian mengerti sedikit Bahasa Swedia atau Norwegia?

Walaupun saya juga belum tahu apakah nanti Bahasa Denmark akan berguna untuk karir di masa mendatang, tapi bukankah sebagai au pair ini memang kewajiban? Bahasa Inggris saja tidak akan cukup untuk berkomunikasi dengan host kids maupun orang lokal. Meskipun yang saya tahu orang Denmark umumnya bisa berbahasa Inggris dengan baik, namun akan lebih baik mempelajari satu bahasa bukan untuk tujuan tertentu melainkan komunikasi sehari-hari.

Saat berdiskusi dengan Louise dan keluarga Belanda lainnya, yang paling royal memang keluarga dari Denmark. Mereka bersedia menanggung tiket PP, asuransi, biaya administrasi Danish Immigration Service, dan uang saku di Denmark juga lebih tinggi dibandingkan Belanda. Per tanggal 1 Juli 2015, uang saku au pair di Denmark dinaikkan menjadi minimum 4000DKK (sebelum dipotong pajak 8%). Prinsip saya untuk jadi au pair, mengeluarkan biaya seminim mungkin. Setidaknya, biaya yang saya habiskan cukuplah untuk mengurus visa di Jakarta saja.

Oke, biaya hidup di Denmark memang lebih tinggi 20 hingga 30 persen ketimbang Belanda, wajar jika uang sakunya juga tinggi. Seorang teman eks au pair di Belanda juga mengatakan kalau sebenarnya keluarga Belanda banyak juga yang mau menanggung tiket pesawat PP, biaya kursus, dan biaya lainnya, tergantung tawar-menawar. Tapi karena tawaran dan jadwal kerja dari Louise lebih reasonable, akhirnya saya tetap memilih Denmark sebelum berdiskusi lebih jauh dengan keluarga di Belanda.

Diri saya, semoga ini benar-benar keputusan yang terbaik!

Wednesday, July 15, 2020

Tips Pesta Menyambut Kelahiran Bayi ala Maroko|Fashion Style

Dua minggu pertama tinggal di Belgia, keluarga angkat saya sedang sibuk-sibuknya menyiapkan persalinan anak kedua mereka yang diberi nama Issa. Si ibu yang tadinya berharap si anak kedua ini akan lahir di tanggal yang sama dengan kakaknya, 24 Maret, meleset menjadi five April 2015.

Dua hari setelah persalinan, saya baru bisa menjenguk si ibu di rumah sakit. Karena pihak keluarga sedang sibuk-sibuknya, saya mesti datang ke rumah sakit sendirian. Mereka hanya memberikan alamat dan juga nomor kamar di CHU Brugmann - Victor Horta Site. Berhubung tempatnya sering dilewati, akhirnya saya bisa sampai disana lewat bantuan Google Maps setelah muter-muter kebingungan. Mencari kamarnya pun tidak gampang, karena saya mesti bertanya dulu dengan beberapa perawat yang lewat. Alhamdulillah mereka berbicara bahasa Inggris dengan baik dan sangat membantu.

Sama seperti di Indonesia, saat mengunjungi orang di rumah sakit, biasanya kita membawakan buah tangan dari rumah. Sayangnya karena bingung mesti membawa apa, akhirnya saya kesana dengan tangan kosong. Padahal menurut budaya Barat, membawakan bunga sebagai tanda "selamat atau ikut merayakan kebahagian" merupakan hal yang layak walaupun tidak penting.

Bukan hanya tamu yang membawakan bunga atau hadiah, namun keluarga pasien biasanya juga menyiapkan suvenir sebagai ucapan terima kasih. Karena bayinya laki-laki, keluarga saya memang sudah mendekorasi kamar dengan nuansa biru muda dan kuning. Suvenir yang disediakan pun lucu-lucu dan semuanya bisa dibawa pulang oleh tamu. Ada garam mandi yang juga berwarna biru dan kuning, popcorn manis dan asin, bunga mini dan potnya, dan juga cokelat berwarna sama. Tamu-tamu yang datang pun memang tidak semaruk dan sekiasu (stereotip tidak mau rugi) orang Indonesia. Jadi mereka hanya membawa pulang barang yang mereka suka dan itupun jumlahnya tidak lebih dari satu.

Satu bulan kemudian, tepatnya di bulan Mei, akan diadakan lagi pesta menyambut kelahiran Issa oleh para kerabat si ibu dan bapak. Awalnya saya berpikir mungkin pesta ini sama dengan aqiqahan di Indonesia; mengundang orang banyak, potong rambut bayi, lalu rebutan bendera uang. Namun ternyata berbeda dengan tradisi Maroko.

Untuk menyambut kelahiran bayi baru, si ibu akan mengadakan pesta yang hanya dihadiri oleh wanita. Sementara beberapa minggu kemudian, si bapak yang akan mengadakan syukuran sederhana dan hanya akan dihadiri oleh para lelaki saja. Tradisi memisahkan lelaki dan wanita dalam sebuah pesta ini memang sudah jadi khas orang Arab. Walaupun Maroko masuk ke dalam wilayah Afrika, namun budaya mereka mirip dengan budaya orang Arab yang sedikit sentimentil untuk urusan lelaki dan wanita. Sementara cukur rambut sudah dilakukan di rumah sakit tempat si ibu melahirkan disaksikan para keluarga saja.

Karena acara akan digelar pada Sabtu malam, saya datang sore harinya setelah jalan-jalan dulu di Brussels. Karena hari itu adalah hari libur saya, si ibu memang tidak masalah kalau saya datang belakangan. Banyak juga anggota keluarga yang masih membantu merangkai bunga dan menyusun makanan-makanan kecil di ruangan saat saya datang kesana.

Lokasi pesta berada di wilayah terhijau di Brussels, Tervuren, yang sedikit jauh dari pusat kota. Tempat ini pun menjadi tempat yang sama saat si ibu dan bapak menikah dulu. "Jadinya seperti nostalgia beberapa tahun lalu", kata si ibu.

Yang saya sangat suka dari pestanya orang Barat adalah mereka sangat mempertimbangkan soal dekorasi. Walaupun keluarga angkat saya yang dulu orang Maroko, namun karena mereka lahir dan besar di Belgia, gaya hidup mereka sudah beradaptasi dengan budaya Barat. Karena ini pesta wanita alias emak-emak, para emak ini akan membawa anaknya juga ke pesta. Agar si emak bisa leluasa berpesta dengan temannya, si anak biasanya akan dibuatkan pojokan khusus dengan tujuan mereka bisa betah berlama-lama di pesta. You know-lah ya kalo emak-emak udah pesta. Lama boookkk..

Jam 6 sore, si ibu dan keluarga wanitanya lagi asik berhias. Sementara saya sendiri masih kucel menjaga Ines yang masih sibuk bermain kesana kemari. Sekitar jam 8 malam, saya baru niat ganti baju dan berhias di toilet. Sebelum saya berangkat ke Belgia, si ibu memang sudah mewanti-wanti untuk membawa pakaian pesta ke Belgia. Karena bingung juga pestanya nanti seperti apa, akhirnya saya bawa saja outfit yang sangat Indonesia, batik!

Walaupun pesta ini khusus untuk para wanita, si bapak, kakek, adik, kakak, dan keponakannya si ibu yang laki-laki juga ikut datang. Mereka berada di lantai paling atas, terpisah dengan para tamu. Intinya mereka tetap tidak boleh turun ke bawah. Walaupun tersembunyi, mereka tetap rapi memakai jas dan sepatu pantofel, lho!

Lucunya, meskipun sudah di Belgia, tetap saja masih ketemu budaya ngaret. Acara yang harusnya mulai jam 9 malam, jadi mundur jam 10 malam menunggu tamu datang. Para emak-emak, nenek-nenek, dan gadis muda yang datang semuanya cantik-cantik. Mereka yang tadinya memakai jilbab atau hijab dan keluar rumah tanpa make up sedikit pun, tampil semalam bak putri dan ratu. Mereka melepas semua atribut muslimah tersebut, berdandan dengan polesan make up warna-warni, serta mengeriting ataupun menyanggul rambut mereka dengan heboh. Gaun-gaun yang mereka pakai pun seksi-seksi hingga membuat saya lupa kalau tampilan mereka sehari-harinya sangat konservatif.

Acaranya pun tidaklah serumit di Indonesia yang penuh pidato bergilir dari sana sini. Saat kursi tamu sudah mulai terisi penuh, para pelayan yang juga semuanya wanita masuk ke dalam ruangan membawakan appetizer berupa sup tomat. Selanjutnya acara hanya diisi dengan nyanyian khas Arab-Maroko yang diiringi tabuhan gendang dari grup musik yang semua personelnya wanita berjilbab panjang, bahkan memakai burqah. Sayangnya, para perempuan tersebut menolak saat fotonya akan saya ambil.

Jangan berpikir dulu kalau musik pengiring ini mirip grup-grup rebana ibu-ibu pengajian di Indonesia. Alunan musik-musik yang dimainkan justru sangat asik dan nge-beat. Semakin malam, tempo musiknya pun semakin kencang dan membuat semua tamu bergoyang di depan. Tujuan pesta ini memang seperti itu, bernyanyi dan bergoyang. Karena semuanya wanita, tidak ada yang merasa malu bergoyang heboh menunjukkan perut atau pinggul mereka. Namun karena mayoritas wanita ini memakai jilbab kesehariannya, saya tidak bisa menampilkan foto kehebohan dan keseruan mereka saat menari.

Karena tugas menyebalkan menjaga Ines dan mengawasi anak-anak tamu lainnya, saya tidak bisa sering-sering masuk ke ruang pesta yang hangat. Jadinya cuma bisa mengamati pesta wanita ala Maroko tersebut dari pintu yang terbuka lebar. Pojokan anak dan ruangan pesta memang terletak di ruang yang berbeda.

Yang saya sebal dari pesta orang Barat adalah mereka benar-benar mengutamakan keseruan acara ketimbang memikirkan makanan. Di Indonesia, kita bisa saja datang sangat terlambat di pesta pernikahan seseorang hanya demi makan siang. Sementara di sini, saya mesti menunggu menu utama datang hampir jam 2 pagi. Untungnya karena banyak makanan di pojokan anak, tidak terlalu kelaparan. Hiks..

Jam setengah 2 pagi, salah seorang pelayan mengantarkan makanan utama berupa ikan yang hanya dibubuhi garam dan lada, serta beberapa potong kentang. Menurut saya, menu utama  ini benar-benar tidak sebanding dengan rasa kelaparan di tengah kedinginan musim semi. Meskipun berada dalam satu gedung, saya bertugas di bagian luar ruangan pesta yang tetap saja dingin di tengah malam.

Acara hampir selesai setelah pelayan mulai mengantarkan makanan penutup berupa kue-kue manis khas Maroko. Musik pun biasanya dimainkan dengan tempo semakin cepat dan seru. Kalau sudah sangat cepat seperti itu, tandanya pesta akan usai. Benar saja, jam setengah three teng pesta ditutup dan para tamu mulai meninggalkan lokasi.

Berbeda dengan para emak yang berpesta heboh di gedung, sekitar dua minggu kemudian giliran si bapak yang mengadakan pesta di rumah. Rumput-rumput yang memenuhi halaman depan rumah pun mulai ditebas dan dibersihkan. Tenda-tenda putih sederhana didirikan sehari sebelum pesta digelar. Meja-meja bundar mulai disusun di halaman untuk menyambut tamu.

Tidak ada alunan musik heboh seperti pestanya emak-emak, acara si bapak hanya diisi dengan makan, makan, dan makan lagi. Tamu-tamu kenalan dan temannya si bapak datang, duduk di kursi yang telah disediakan, lalu menunggu makanan datang. Makanan yang disajikan pun lebih sederhana dan sangat khas Maroko. Dalam satu piring bulat besar biasanya berisi daging sapi atau kambing yang dikare dan dengan roti baguette besar-besar. Satu meja, satu piring, sehingga makannya pun rame-rame. Acara yang digelar siang hari ini pun hanya berlangsung sekitar 3 jam sebelum akhirnya ditutup lagi dengan menyediakan kue-kue manis Maroko.

Tips Akhirnya Visa Denmark Saya di-Issue!|Fashion Style

Proses menunggu visa Denmark kali ini benar-benar membosankan. Apalagi saya di rumah hanya menganggur dan tidak ada kegiatan berarti. Sudah ada desakan dari pihak keluarga untuk mencari pekerjaan saja di Indonesia. Jujur saja, saya juga sudah pasrah kalau memang visa ditolak karena alasan tertentu. Saya juga sudah siap mencari pekerjaan dan menetap saja di Indonesia. Tapi Alhamdulillah visa akhirnya disetujui tanpa kendala apapun.

Visa jangka panjang Denmark membutuhkan waktu maksimum 2 bulan sebelum disetujui pihak kerajaan Denmark. Berbeda jika kita ingin mengajukan visa turis atau visa jangka pendek yang hanya 15 hari kerja. Tepat dua bulan semenjak mengajukan aplikasi visa di VFS Global, lalu esoknya wawancara di Kedubes Denmark, saya dikabari kalau visa Denmark saya sudah disetujui. Ibu Wita, resepsionis kedutaan, menelpon untuk memberikan informasi lebih lanjut melalui email. Setelah dikonfirmasi ulang via email, Ibu Wita mengirimkan surat keterangan elektronik dari Danish Labor and Recruitment Service, serta ilustrasi visa yang akan ditempelkan di paspor. Surat keterangan dari pihak Denmark ini sangat jelas berisi informasi penting tentang status, hak dan kewajiban sebagai au pair, serta mengenai izin tinggal.

Sempat ada sedikit keraguan kalau saja visa akan ditolak. Apalagi pihak keluarga yang memang sudah enggan memberikan izin tinggal di luar negeri untuk kedua kalinya, pastilah sangat bahagia seandainya saya tidak jadi berangkat.

Sebenarnya tidak ada alasan pemerintah Denmark untuk menolak visa au pair karena biasanya syarat dan jaminan dari keluarga angkat yang dibutuhkan memang sudah lengkap. Mungkin saja memang ada yang visanya pernah ditolak, namun kemungkinan tersebut kecil sekali. Apalagi kalau dari awal kita memang sudah memenuhi kualifikasi menjadi au pair di Denmark.

Karena saya sudah meminta paspor dan dokumen lainnya dikirimkan via pos, dua hari kemudian kiriman dari VFS Global pun datang. Kiriman yang berisi paspor dan print out surat keterangan dari Danish Labor and Recuitment Service tersebut sangat aman dan tidak rusak sedikit pun. Surat keterangan ini jangan sampai hilang dan harus dibawa saat mengajukan CPR number di Denmark. Jangka waktu visa yang diberikan pun hanya sampai 180 hari, yang artinya saya hanya punya waktu 5 hari untuk mendapatkan nomor induk penduduk atau CPR number saat pertama kali mendarat di Denmark.

Tivoli, I'm coming!

Tips Membuat SIM Internasional di Jakarta|Fashion Style

Belajar dari pengalaman tahun lalu di Belgia, akhirnya saya memutuskan untuk membuat SIM internasional sebelum keberangkatan ke Denmark. Saya yang biasanya jadi sopir, harus absen setahun di belakang kemudi. Tidak ada yang salah cuma jadi penumpang, tapi kadang kerinduan tancap gasoline di jalanan terasa majemuk.

Apalagi sewaktu harus belanja di supermarket di komune sebelah, saya mesti pasrah mengayuh sepeda dengan keadaan angin dan cuaca yang dingin. Padahal saat itu ada mobil menganggur di rumah yang bisa digunakan. Tapi karena ketiadaan SIM yang valid, saya juga takut menggunakan mobil tersebut. Padahal jarak tempuh supermarket itu hanya 5 menit naik mobil, namun harus ditempuh selama 15 menit menggunakan sepeda. Saya juga harus menggendong ransel berat berisi belanjaan, lalu menggantung dua tas besar di stang sepeda yang isinya juga barang belanjaan. Menyedihkan sekali!

Sebelum ke Belgia, saya memang sudah berniat membuat SIM internasional di Jakarta. Tapi karena saat itu keluarga angkat yang pertama tidak butuh orang yang bisa menyetir, akhirnya saya urungkan saja. Lagipula kalaupun harus menyetir, katanya SIM dapat dibuat langsung di Belgia dan biaya ditanggung oleh mereka sepenuhnya.

Berbeda dengan keluarga angkat yang kedua, mereka sebenarnya membutuhkan orang yang memang bisa menyetir. Walaupun setiap hari saya bisa menggunakan sepeda, tapi kadang mengantar jemput mereka naik mobil ke sekolah adalah jalan terbaik saat cuaca sedang buruk. Keluarga yang kedua ini pun sering kali meninggalkan mobil van mereka di rumah. Saat cuaca sedang bagus, mereka malah lebih memilih naik sepeda berdua ke kantor. Makanya saat awal-awal tinggal di rumah mereka, dua mobil di rumah selalu menganggur di halaman. Lucunya keluarga ini sering sekali meninggalkan kunci mobil yang masih menggantung di dalam mobil. Tapi jangan heran, kabarnya tidak pernah terdengar ada kasus pencurian di desa sekecil Laarne.

Sebelum saya, keluarga ini sebenarnya pernah punya au pair asal Afrika Selatan yang sempat juga membuat SIM Belgia langsung di Laarne. Saat itu dia hanya perlu melampirkan SIM asli (yang menurut saya sudah berbahasa Inggris) untuk ditukarkan ke SIM Belgia di balai kota. Setelah itu, akan ada ujian menyetir untuk memastikan kalau dia bisa beradaptasi dengan jalanan di Eropa. Seperti halnya di Indonesia, di Afrika Selatan pun mobil akan melaju di laju kiri. Perbedaan lajur saat menyetir ini sempat membuat au pair ini tidak pede di jalanan Belgia. Sehingga walaupun sudah mendapatkan SIM Belgia, dia sendiri pun tidak pernah menyetir.

Karena takut akan terjadi kasus yang sama, akhirnya keluarga angkat yang kedua ini tidak mewajibkan saya menyetir. Di awal mereka sempat mengatakan, kalau memang sempat, mereka bisa mengajarkan saya terbiasa dulu dengan setir kiri, lalu bersedia membuatkan saya SIM Belgia. Tapi karena mereka sudah cukup sibuk untuk urusan kantor, rencana ini tidak pernah terealisasi.

*

Louise memang tidak mewajibkan saya menyetir di Denmark, namun dia juga tidak keberatan saya memakai mobilnya disaat tertentu. Mengingat saya juga akan tinggal lebih dari satu tahun di Denmark, tidak ada salahnya membuat SIM internasional untuk jaga-jaga. Sambil mengajukan aplikasi visa di Jakarta, sekalian saja mampir ke Korlantas Polri membuat SIM.

Syarat yang dibutuhkan untuk membuat SIM internasional:

1. Dua lembar pas foto terbaru ukuran 4x6 berlatar belakang biru. Sebisa mungkin berpakaian rapih saat di foto, minimum berkemeja. Sebaiknya menggunakan dasi untuk pria dan blazer untuk wanita.

2. Selembar fotokopi dan SIM A asli yang masih berlaku.

3. Selembar fotokopi dan KTP asli yang masih berlaku.

4. Selembar fotokopi dan paspor asli yang masih berlaku.

Five. Selembar materai Rp. 6000.

6. Membayar biaya pembuatan SIM internasional:

- Rp. 250.000 (baru)

- Rp. 225.000 (perpanjangan)

Tempat pembuatan SIM internasional:

KORPS Lalu Lintas Polri (halte TransJakarta terdekat Pancoran)

Jl. MT Haryono Kav. 37-38 Jakarta 12770 Telp: 021-500669

Jam pelayanan: Senin-Jumat jam 08.30-15.00 WIB. Libur untuk hari Sabtu-Minggu dan hari-hari besar lainnya.

Setelah mengambil nomor antrian, saya tidak harus menunggu lama untuk dipanggil ke meja pengumpulan berkas. Saya malah gugup sendiri mengisi formulir pengajuan karena si ibu polisi yang melayani selalu menyemangati untuk buru-buru. Setelah selesai menyerahkan berkas, saya menuju loket untuk membayar biaya pembuatan SIM. Sekitar 2 menit kemudian, saya dipanggil kembali untuk pengambilan foto dan data biometrik dipandu pak polisi yang sangat ramah. Karena harus mengambil information biometrik seperti sidik jari, maka proses pembuatan SIM internasional ini tidak dapat diwakilkan.

Proses pembuatan SIM internasional ini sangat cepat, hanya sekitar 15 menit, lalu kita akan dipanggil kembali untuk mengambil SIM yang telah jadi serta buku panduan mengemudi di seluruh negara. SIM internasional ini pun wujudnya bukan seperti kartu yang biasa kita punya, tapi lebih seperti buku seukuran paspor berwarna biru berisi records diri dalam beberapa bahasa internasional. SIM internasional yang berlaku 3 tahun ini dapat digunakan secara worldwide asal didampingi SIM Indonesia yang asli saat menyetir nantinya.

Tuesday, July 14, 2020

Tips Ternyata Emirates!|Fashion Style

Sebulan sebelum keberangkatan, bahkan sebelum tahu kapan Louise akan membelikan tiket, saya sudah hunting duluan kira-kira maskapai apa yang saya harapkan. Dari daftar Skyscanner, saya selalui menemui Thai Airlines memiliki tarif terendah untuk keberangkatan ke Kopenhagen di awal September. Disusul Aeroflot, maskapai asal Rusia yang saya tidak pernah mendengar sebelumnya.

Saya selalu berharap semoga saja akan terbang lagi dengan pesawat asal Timur Tengah seperti Qatar Airways, Emirates, atau Etihad. Kenapa pesawat Timur Tengah, karena selain bagasinya muat 30kg, makanannya halal, di bandaranya disediakan mushola, dan sudah terkenal memiliki reputasi yang sangat baik di dunia penerbangan. Pesawat Eropa seperti Lufthansa atau KLM memang biasanya mahal, namun yang saya tahu mereka hanya menampung bagasi hingga 23 kg saja. Duh, saya sangat yakin barang yang akan saya bawa memang mendekati 30 kg nantinya!

Selain itu, naik maskapai Timur Tengah menuju Eropa biasanya akan transit dulu menunggu penerbangan berikutnya. Artinya kalau waktu tempuh menuju Eropa bisa sampai 15 jam (di luar waktu transit), 8 jam menuju ke salah satu kota di Timur Tengah, lalu 7 jamnya menuju Eropa. Saya pernah naik pesawat selama 15 jam nonstop dari Amsterdam ke Jakarta dengan Garuda Indonesia dan terus terang saja saya kurang nyaman berada di pesawat selama itu.

Dua minggu kemudian, akhirnya Louise mengirimkan email rekomendasi maskapai apa yang sepertinya akan saya gunakan. Mereka menawarkan Emirates dengan waktu transit 3 jam di Dubai. Saya memang tidak betah lama-lama berada di bandara sendirian. Padahal, kalaupun saya mau jalan-jalan sebentar di Dubai, saya bisa saja menawarkan opsi transit yang lebih lama. Saat itu opsi transit terlama bisa nine hingga thirteen jam.

Luckily, Louise juga menawarkan untuk membayari tiket pesawat dari Palembang ke Jakarta. Karena ibu saya dan si bungsu ingin mengantarkan sampai Jakarta, akhirnya kami sepakat terbang bersama Sriwijaya Air saja, dilanjutkan naik free shuttle bus ke Terminal 2. Kalau tidak ingin repot naik shuttle bus, silakan menggunakan maskapai Garuda Indonesia yang juga akan tiba di Terminal 2.

Bus switch free of charge ini dapat ditemui di depan bagian informasi di dekat gerbang keberangkatan di Bandara Soekarno Hatta. Busnya memang tidak terlalu besar, tapi seorang "kernet" tetap akan membantu menaruh koper besar kita di bagasi seandainya dalam bus sudah penuh. Tapi tenang saja, bus akan datang tiap 10 hingga 20 menit sekali.

Maskapai dari Timur Tengah biasanya akan berangkat dini hari dari Jakarta. Tidak perlu repot membawa jaket tebal ke dalam pesawat, karena biasanya sudah disediakan selimut oleh pihak maskapai. Berbeda dengan Qatar Airways yang menyiapkan selimut, masker mata, penutup telinga, dan kaus kaki, saya hanya mendapatkan selimut saja saat terbang bersama Emirates.

Lama penerbangan hingga 15 jam, memastikan kita akan mendapatkan dua kali jatah makan besar selain snack. Para awak kabin biasanya akan memberikan menu makanan yang dapat dipilih saat di pesawat. Tapi karena sedikit membatasi pilihan makanan, akhirnya saya reservasi duluan through website sebelum keberangkatan.

Kalau memang sedang diet, ada banyak pilihan makanan yang dapat dipesan sesuai program diet kita. Karena berangkat dini hari, perut saya biasanya sudah menolak diberi makanan terlalu berat. Saya pun memilih menu vegetarian menuju Dubai, lalu menuseafood menuju Kopenhagen. Enaknya reservasi via website, makanan yang saya pesan diantarkan terlebih dahulu oleh awak kabinnya mau dimanapun tempat duduk kita. Jadi tidak perlu didatangi langsung sembari antri menunggu penumpang yang lain.

Saat tiba di Dubai pun, saya tidak bisa lihat toko kanan kiri terlalu lama karena nyatanya 3 jam bukanlah waktu yang panjang. Menuju terminal connection flight, saya harus antri menunggu kereta, dilanjutkan naik lift ke arah terminal yang tepat. Belum sampai sejam saya duduk di ruang tunggu, penumpang ternyata sudah bisa naik ke pesawat diantar oleh bus sebelumnya.What a long journey!

Jam 13.10 CEST, saya sampai di bandara internasional Kopenhagen, mengambil bagasi, lalu keluar bandara menemui Louise dan Brian yang sudah berada di garis depan menyambut saya.

"Welcome to Denmark! Welcome to Copenhagen!", kata Louise hangat sambil memeluk saya diikuti oleh Brian.

Tips Hasil Perburuan Oleh-oleh Khas di Tanah Langka|Fashion Style

Dua minggu ke belakang saya sempat kebingungan kira-kira oleh-oleh khas Indonesia apa yang akan dibawa ke Denmark. Indonesia sangat luas dengan kebudayaan yang berbeda-beda. Semakin dicari, saya makin kebingungan karena banyaknya benda-benda yang bisa mewakili Indonesia untuk bisa dibawa kesana.

Dari Sumatera ke Irian Jaya, kerajinan tangan etnik-etnik yang super duper cantik dan lucu cukup menggoda untuk dibeli. Contohnya saja kain-kain batik, songket, atau ulos yang sangat Indonesia sekali. Atau ada juga kerajinan tangan seperti miniatur perak, patung-patung kayu, atau topeng khas Bali dan Jawa. Semakin melihat kerajinan tangan khas Indonesia, semakin membuat saya jatuh cinta dengan negeri ini. Orang Indonesia kurang kreatif dan nyeni apalagi coba ya? Dari perhiasan sampai perabotan rumah tangga, semuanya handmade yang dibuat dengan sangat detail.

Sempat terpikir untuk membeli kain atau pakaian batik jadi, tapi sedikit ragu apakah akan dipakai atau tidak. Walaupun batik memiliki motif yang sangat rumit dan cantik, belum tentu mereka suka dengan warnanya. Orang Eropa memang cenderung suka tampil elegan dan simpel dengan mengurangi motif di pakaian mereka. Akhirnya saya skip batik dari daftar oleh-oleh.

Saya juga sempat ingin memesan beberapa kerajinan tangan seperti wayang dari budaya Jawa, patung asmat khas Papua, atau topeng khas Bali through online. Tapi niat tersebut dibatalkan karena saran dari ibu saya untuk mencari oleh-oleh langsung saja di Palembang.

Kalau ingin membawakan oleh-oleh ke luar kota memang mudah saja, ada pempek, kemplang bakar, atau songket. Tapi saya tidak yakin akan membawa makanan basah seperti pempek ke luar negeri. Membawa hasil kain tenunan songket pun sepertinya bukan ide yang terlalu bagus mengingat biasanya kami menggunakan songket saat kondangan atau hari pernikahan.

Berbeda dengan kota-kota di Pulau Jawa dan Bali, Palembang adalah tanah langka untuk mencari macam-macam kerajinan tangan. Palembang memang bukan kota tempat berkembangnya industri kreatif seperti Jogja atau Bandung. Kerajinan kayu atau perak akan sangat mahal dijual di kota ini. Lain halnya jika ingin cari pempek atau makanan kering lainnya, sangat mudah sekali ditemukan dimana-mana. Palembang memang bukan kota seni, tapi kota kuliner.

Sebenarnya terdapat banyak juga toko di Pasar 16 dan Ilir Barat yang menjual songket dan batik Palembang. Beberapa toko ini biasanya juga menjual dompet, tas, wadah tisu, atau gantungan kunci berbahan dasar songket yang harganya cukup murah. Sayangnya miniatur Jembatan Ampera atau pajangan dinding kebanyakan dikemas dengan kotak atau figura kaca yang sangat tidak aman dimasukkan ke koper. Pelabuhan saya berakhir di satu toko kerajinan di daerah Mayor Ruslan, di depan SMKN 6 Palembang.

Sebelum mempopulerkan kota-kota lain di Indonesia, saya membawa oleh-oleh khas Sumatera Selatan ini untuk dipamerkan ke mereka:

1. Kopi khas dari Semendo dan Pagar Alam

Saya memang bukan penikmat kopi, tapi membawakan kopi ini akan selalu membuat saya rindu bertemu nenek. Semendo adalah dusun kecil yang terkenal akan biji kopinya yang khas dan nikmat. Sementara Pagar Alam adalah kota yang berada di kaki gunung Dempo. Kopi Luwak sendiri menggambarkan keaslian kopi Indonesia dari biji kopi hasil eek si luwak yang terkenal mahal itu.

2. Teh khas Dempo

Pucuk teh yang diambil langsung dari puncak Gunung Dempo dan sangat khas Sumatera Selatan sekali. Tehnya juga tanpa bahan pengawet, sehingga tidak kalah dengan teh organik yang dijual di Eropa.

3. Pajangan kayu Jembatan Ampera

Walaupun sangat mainstream, tapi saya ingin ada yang dipamerkan tentang Indonesia di rumah mereka. Sama halnya dengan batik dan wayang yang sudah jadi world heritage, kerajinan kayu ini saya harap bisa juga mewakili salah satu khas-nya Indonesia di Palembang.

4. Make up case songket

Melihat warna-warni cantik songket yang membungkusnya, membuat saya ingin membeli semua tempat pensil atau wadah make up ini. Tapi karena Palembang juga merupakan turunan budaya Cina, jadi warna songket tertua seperti emas dan merah yang saya pilih.

Five. Rupa-rupa gantungan kunci songket

Boneka barbie berbalutkan busana pengantin khas Palembang yang lucu atau dompet songket mini yang juga berfungsi sebagai gantungan kunci ini sama-sama membuat saya tergoda membeli.

Oh ya, sebelum memberikan oleh-oleh dalam bentuk apapun, baiknya kita bertanya dengan pertanyaan pancingan dulu apakah kira-kira barang yang kita bawa akan disukai mereka. Saya yang tadinya ingin bertanya, menemui kenyataan ternyata keluarga ini tidak suka kopi dan teh. Akhirnya karena takut tidak diminum, beberapa kopi dan teh yang sudah saya bawa disimpan dulu untuk keluarga angkat di Laarne. Saya memang sudah berencana berkunjung lagi ke rumah mereka sekalian mengambil barang-barang musim dingin yang sengaja saya tinggalkan. Sementara untuk keluarga di Denmark, saya tinggalkan sebungkus untuk icip-icip tamu.

Rupa-rupa kerajinan tangan di Indonesia memang beragam bentuknya. Tidak perlu juga berpikir terlalu keras dan tidak percaya diri dengan barang apa yang akan kita bawa. Sesungguhnya hal yang paling bermakna dari hadiah atau oleh-oleh bukanlah isi atau rupanya, tapi lebih ke packaging hadiah itu sendiri dan perasaan surprise atau bahagia saat menerimanya.

Tips Tip: Menata Isi Bagasi Ke Luar Negeri|Fashion Style

Entah kenapa suatu kali ingin juga bepergian tanpa membawa tas besar selain tas yang hanya menyangkut di tangan. Saya malas sekali menyortir isi lemari yang harus dibawa ke luar negeri (ataupun luar kota) karena ujung-ujungnya walaupun sudah di-list satu per satu, tetap saja ada yang ketinggalan. But well, it's really true that packing is not for everyone.

Ibu saya sudah menduga kalau koper muatan orang pergi umroh yang sempat saya bawa ke Belgia, tidak akan muat menampung barang-barang yang akan saya bawa ke Denmark. Terlebih lagi beliau sepertinya sudah punya ancang-ancang membelikan saya koper baru yang lebih besar. Benar saja, lima menit sebelum toko ditutup, ibu saya langsung saja menarik salah satu koper, yang memang sudah kami lihat beberapa hari sebelumnya, ke kasir.

Taraaaa.. Akhirnya saya punya koper baru bermuatan 70 liter bermaterial nilon. Saya memang tidak memilih koper bermaterial plastik seperti pilihan orang kebanyakan. Menurut saya, koper bermaterial nilon dengan banyak resleting di luar dan dalamnnya lebih fungsional. Lagipula, koper ini bisa diduduki (baca: dipaksa nutup) kalau memang isinya sudah kepenuhan dan tidak bisa diresleting lagi. ;D

Sewaktu berangkat ke Belgia setahun lalu, saya membayangkan tidak akan membeli banyak barang hingga membawa cukup banyak pakaian ke dalam koper. Nyatanya, banyak juga pakaian yang tidak terpakai dan saya juga harus membuang 60% pakaian saat akan pulang ke Indonesia karena koper tidak muat lagi. Makanya di tahun kedua hijrah ke Eropa kali ini, saya benar-benar sudah menyortir isi lemari yang usable saja. Selain membawa dokumen-dokumen penting, berikut beberapa tip yang semoga bermanfaat saat menata bawaan ke dalam koper.

1. Membawa pakaian yang sering digunakan

Walaupun sudah punya pakaian satu lemari, seorang perempuan biasanya tetap saja merasa tidak punya pakaian. Tapi di antara banyak pakaian itu, pastinya kita punya pakaian andalan yang setiap minggunya selalu dipakai. Nah, bawalah pakaian tersebut dan lupakan membawa pakaian yang di Indonesia saja tidak pernah digunakan.

Agar lebih aman, bawalah pakaian dengan warna dasar seperti hitam, abu-abu, dan putih. Warna-warna pakaian dasar seperti ini selalu cocok di-mix & match dengan warna apapun. Kalau memang kebetulan datang di musim panas, bawa juga beberapa potong pakaian berwarna terang dengan motif seru. Musim semi biasanya identik dengan warna pastel yang lembut, musim gugur lebih sering menggunakan warna earthy seperti cokelat, merah marun, atau krem, sementara musim dingin yang sendu selalu dipenuhi oleh orang yang berpakaian gelap seperti hitam, abu-abu, atau biru tua.

Yakinlah, biasanya kita akan tergoda untuk membeli lagi beberapa pakaian di negara tujuan saat sedang diskon. Membawa pakaian yang sering kita gunakan di Indonesia, setidaknya dapat menghemat isi dompet. Kalaupun memang terpaksa membeli, fokuskan pada pakaian musim dingin yang modelnya lebih classy dan beragam dibandingkan di Indonesia.

Jenis pakaian pun bisa bervariasi dengan memasukkan daftar kaos oblong, tank top, batik atau jenis kain khas Indonesia lainnya, kemeja, blazer, gaun santai, atau rok. Bawa juga beberapa potong kaos kaki, long john (pakaian termal), baju olahraga, stocking hitam, scarf bermotif seru, dan cardigan. Oh ya, bagi yang suka pakai jeans dan kebetulan bertubuh petite khas orang Asia, boleh juga membawa beberapa potong jeans berukuran pas dari lemari. Potongan jeans bule panjang normalnya 29 inchi yang akan membuat ujung jeans menumpuk di mata kaki.

2. Jangan bawa semua sepatu!

Awal-awal kedatangan, saya masih nyaman menggunakan sneakers baseball atau sepatu kanvas yang cocok untuk diajak jalan. Entah kenapa saya merasa banyak sepatu olahraga justru hanya keren dipakai, namun tidak nyaman diajak berjalan jauh. Membawa banyak jenis sepatu pun juga sebenarnya bukannya tidak boleh, tapi sekali lagi, yakinlah kalau kita biasanya juga akan tergoda membeli sepatu lagi sesampainya di negara tujuan.

Namun tidak ada salahnya membawa beberapa jenis sepatu dari Indonesia yang tetap akan terpakai dan membuat kita nyaman berjalan kaki, seperti flat shoes, summer sandals, sneakers baseball, atau sepatu kanvas. Kalau memang ingin tampil kece sesekali, membawa midi heels juga cukup oke untuk jalanan Eropa. Kalaupun tidak sempat membeli boot di Indonesia, tetap bisa membelinya di negara tujuan dengan kisaran harga dan model yang lebih bervariasi.

3. Bawalah makanan atau bumbu-bumbu Indonesia

Makanan Barat kebanyakan hambar atau hanya berasa asin. Membawa sambal sachet bisa membantu menghidupkan rasa saat kita makan di restoran atau kafe. Bawa juga beberapa ruas serai (lemongrass), daun jeruk purut, atau kunyit untuk persiapan masak makanan Indonesia. Atau kalau tidak mau repot, beli saja bahan-bahan tersebut dalam bentuk bubuk. Boleh juga membawa beberapa bungkus mie instan sebagai penghilang rasa kangen di awal-awal. Tapi tidak perlu kebanyakan juga, karena beberapa bahan makanan bisa dengan mudah ditemukan di toko Asia yang ada di negara barat.

4. Gunakan space maker

Space maker sangat berguna untuk menata isi koper kita agar lebih banyak muatan. Belilah space maker dengan ukuran yang bervariasi agar bisa lebih sering digunakan saat bepergian. Gulung dulu pakaian sebelum dimasukan ke dalam space maker, lalu kempiskan dengan bantuan vacuum cleaner agar udara lebih mudah keluar dari kantung.

Tapi jangan salah, walaupun sudah dikempiskan, kita harus cepat menutup isi koper agar space maker tidak kembali mengembung karena kemasukan angin. Baiknya mengempiskan space maker sesaat sebelum kita menutup isi koper agar lebih mudah menata dan menutupnya.

Kebutuhan setiap orang memang tidak sama. Jangan lupa pula masukkan obat-obatan yang biasanya selalu kita gunakan di Indonesia. Seperti saya, yang kalau perut kembung selalu mengoleskan minyak kayu putih, mau tidak mau perlu juga membawa beberapa botol ke Eropa. Yang suka baca buku, tidak perlu juga memenuhi isi koper dengan buku-buku yang cukup memberatkan. E-book yang lebih praktis bisa dengan mudah kita beli dan simpan di ponsel atau laptop. Yang paling penting, perhatikan dulu berapa kilo batas maksimum bagasi maskapai yang akan kita gunakan. Kalau over baggage, siap-siap keluar duit lebih ya. Selamat packing!