Wednesday, June 24, 2020

Tips 5 Alasan Semua Orang Menanti Musim Panas|Fashion Style

Memasuki bulan Agustus, suhu musim panas di Eropa mulai sedikit bergeser menjadi hangat-hangat sejuk. Liburan ke Wina bulan lalu, saya mesti mengumpat dalam hati karena panasnya bisa sampai 34 derajat! Jujur, saya bukan penyuka musim panas meskipun sudah 20 tahun lebih tinggal di Indonesia.

Walaupun musim panas identik dengan rasa bahagia dan suka cita, tapi saya juga benci hal-hal klasik seperti keringat, para serangga yang mulai girang beterbangan, ataupun kulit yang mulai gosong. Tapi sejujurnya, musim panas juga membawa warna tersendiri dalam satu tahun. Inilah alasan mengapa warga empat musim tetap mencintai dan selalu menanti musim panas!

1. 2. 3. Matahari

Yesh! Alasannya adalah karena sinar matahari yang membawa rasa hangat dan siang hari yang panjang. Dalam satu tahun, warga empat musim harus menggerutu karena lebih dari 8 bulan mereka harus menutup diri dari jaket, mantel, dan segala pernak-perniknya yang sungguh ribet. Saat musim panas datang, inilah waktunya bersuka cita memamerkan bentuk tubuh, menggosongkan kulit, ataupun memakai baju neon yang hanya pas dengan spektrum matahari.

Karena siang hari yang lebih panjang, aktifitas warga empat musim pun menjadi aktif karena ditemani sang surya hingga tengah malam. Saat berkunjung ke Reykjav?Ok di musim panas, baru sekalinya itu saya menyaksikan matahari yang hanya menggantung di langit tanpa sepenuhnya terbenam. Matahari hanya membenamkan setengah diri jam 12 malam, lalu bersinar apik kembali jam 3 pagi.

Sayangnya, musim panas tahun ini di Eropa Utara sedikit mengecewakan karena terus-terusan diguyur hujan dan temperatur yang terbilang masih dingin. Suhu rata-rata siang hari 17-20 derajat, lalu turun drastis menjadi thirteen derajat di malam hari. Di Reykjav?Okay, suhu di tengah hari bolong bisa hanya 11 derajat, yang memaksa orang harus tetap memakai jaket tebal.

4. Libur panjang

Hari terbahagia para anak sekolah dan orang tua adalah saat musim panas. Libur sekolah biasanya dimulai dari akhir Juni hingga awal Agustus atau awal September. Kapan lagi bisa menikmati sinar matahari lebih lama, kalau bukan di musim ini. Makanya banyak juga perusahaan dan kantor yang sedikit "memaksa" karyawan mereka untuk mengambil cuti.

Sebalnya, karena bertepatan dengan libur panjang, banyak pantai dan tempat liburan jadi penuh sesak oleh turis. Sisi positifnya, banyak tempat-tempat seru seperti amusement park ataupun museum yang memang hanya dibuka saat suhu mulai bersahabat dengan kulit.

Five. Festival seru

Hari yang lebih panjang dan cuaca yang lebih hangat hanya bisa berarti satu hal: musim festival. Dibandingkan dengan ketiga musim lainnya, festival terseru dan terbanyak memang digelar saat musim panas. Dari open air cinema, konser musik, ataupun lomba olahraga yang bertemakan outdoor, hanya akan ditemui di bulan Juni hingga Agustus.

Tidak perlu juga merasa miserable dan gundah gulana karena tidak bisa liburan ke pantai, karena warga empat musim tahu kemana harus berlabuh saat akhir pekan datang; pergi ke salah satu festival musik seru bersama teman ataupun pacar, lalu meneguk bir dingin saat matahari terbenam.

BONUS!! It is a berry sweet season!

Stroberi, rasberi, bluberi, ceri, sampai huckleberry, they bring a load of happiness and colours in the summer!

Tips Mencontek Gaya Eropa, Belanja Murah di Indonesia|Fashion Style

Beberapa hari yang lalu, seorang teman lama menghubungi saya via sosial media. Teman saya ini ternyata akan liburan selama beberapa hari ke Eropa. Gara-gara postingan tentang pelajaran fashion , tiba-tiba saya merasa jadi fashion guru karena dicecar banyak pertanyaan tentang pakaian seperti apa yang cocok untuk dipakai di Eropa.

Karena berencana liburan di pertengahan September, si teman sering kali menanyakan apakah cocok memakai boot dan mantel saat liburan ke Eropa di penghujung musim panas. Jawabannya, no! Penghujung musim panas di negara empat musim tidak bisa diprediksi. Kadang lembab, tapi juga bisa sangat kering.

Di Eropa Utara, suhu bisa sangat hangat di siang hari, tapi mendadak turun jadi thirteen derajat di malam hari. Makanya ketimbang boot dan mantel tebal, membawa pakaian yang multifungsional saat liburan ke negara empat musim menjadi sangat mutlak.

Kembali ke teman saya tadi, meskipun tipikal cewek stylish dan pandai berdandan, si doski sebenarnya seorang #PejuangIrit . Artinya, dia bisa saja bergaya sebegitu fenomenalnya, berdandan sebegitu menornya, tapi tetap saja suka berburu barang murah hanya untuk memenuhi gayanya sehari-hari. Pertanyaan dia selanjutnya, dimana bisa mendapatkan barang-barang bergaya Eropa di Indonesia, tanpa harus merogoh kocek sedalam kantong celananya Zara ataupun MANGO.

1. Belanja ke pasar barang bekas

Sejujurnya, saya juga mantan #PejuangIrit . I (still) love secondhand market! Saking cinta dan adiktifnya, saya tidak akan pulang dari pasar sebelum uang habis. Bah!

Yang saya suka dari pasar barang bekas, selain bisa menemukan barang unik dan lucu, saya juga sering menemukan banyak koleksi style khas Eropa yang masih bagus-bagus. Dari mantel, sweater, syal, hingga kaos kaki berbahan wool, semuanya lengkap. Memang sih, kadang modelnya terlalu jadul ataupun ukurannya yang hanya satu. Tapi apa salahnya bergerilya ke kios pakaian satu in line with satu kan?

Psstt... belanja di pasar barang bekas juga bisa berarti dua hal, olahraga dan berhitung cepat Matematika. Go bargain them!

2. Belanja on line

Kalau memang tidak ingin repot mencari pakaian di pasar barang bekas, banyak sekali toko fashion online yang bisa dijadikan pilihan untuk berbelanja. Saya juga sebenarnya pecinta belanja online karena simpeldan lebih banyak pilihan.

Tapi, belanja online juga mesti cerdas. Tidak semua tempat belanja on-line menjual barang yang sama dengan harga yang sama pula. Makanya sebelum memutuskan membeli pakaian di satu toko, jangan malas untuk membandingkan dulu ke beberapa toko on line lainnya.

Salah satu barang fashion Eropa multifungsional adalah jaket parka. Selain membawa beberapa potong kaos, pakaian mini, dan get dressed, saya juga menganjurkan si teman untuk membawa jaket parka berwarna herbal atau gelap untuk berjaga dari angin malam.

Awalnya saya mengira jaket parka di Indonesia bisa sangat mahal. Tapi lihat apa yang saya temukan di kedua toko ini! Mahal memang, jaket parka yang dijual Lazada. Namun saya tiba-tibaspeechless saat melihat jaket parka  berbahan katun yang benar-benar sama dijual dengan harga super super super murah di website-nya Shopee .

Selisih harga hingga Rp 141.000 yang sadis

Jaket ini saya temukan di koleksi Garansi Harga Termurah, Uang Kembali 2x Lipat . Dalam kampanye ini, Shopee akan mengembalikan uang kita kalau seandainya ditemukan barang yang sama dengan harga lebih murah di e-commerce lain. Beberapa barang fashion cewek  ataupun cowok yang saya cek di koleksi yang sama pun, murahnya juga ampun-ampunan. Plus, gratis ongkos kirim untuk minimum pembelanjaan tertentu.

Sebenarnya ada beberapa e-commerce terkenal lainnya yang bisa dijadikan opsi belanja, seperti Buka Lapak atau Tokopedia. Berikut perbandingan harga jaket parka dari dua e-commerce lain.

Melirik harga Shopee, selisih harga dari e-trade ini masih bisa beli gorengan

Dilihat dari perbandingan harga jaket parka empat e-commerce terkenal di atas, bisa dipastikan kalau harga termurah masih dipegang Shopee.Makanya menurut saya, pilihan belanja online lewat Shopee bisa jadi salah satu alternatif irit.Again, be a smart shopper!

Three. Belanja di pasar murah

Sejujurnya saya hanya akan datang ke pilihan terakhir ini jika memang kebetulan sedang di luar dan ingin windows shopping. Sekalian lihat-lihat toko, siapa tahu memang ada barang yang dicari.

Meskipun tidak selalu mendapatkan barang fashion dengan gaya Eropa, tapi biasanya harga yang dipatok pun lumayan murah dan bisa ditawar dibandingkan harus datang ke toko mahal yang ada di mall. Banyak juga get dressed-get dressed lucu ataupun kemeja murah untuk menambah perbendaharaan isi lemari yang bisa dipakai di Indonesia, ataupun saat liburan ke negara empat musim.

Kuncinya, kalau memang harus membeli pakaian di Indonesia hanya untuk dibawa liburan ke Eropa, bawalah pakaian berpotongan simpel dan berwarna natural. Orang-orang Eropa sangat anti memakai pakaian ribet, banyak motif, ataupun tabrak warna. Di musim panas yang extremely good hangat pun, jangan heran kalau banyak juga penduduk Eropa yang memakai pakaian hitam.

Tips Gadis Filipina vs Gadis Indonesia di Eropa|Fashion Style

Perlu saya garis bawahi, cewek-cewek Filipina merupakan pribadi yang tangguh, berani, dan sangat sayang keluarga. Bagi mereka, Eropa bukan hanya tanah impian, tapi juga tempat mengais rezeki. Tidak hanya Eropa, keberadaan mereka pun bisa terbilang banyak di negara maju seperti Singapura, Jepang, ataupun Amerika. Berbeda dengan para pejuang devisa negara Indonesia yang kebanyakan mendiami negara di Timur Tengah dan Cina Selatan untuk bekerja sebagai TKW.

Para gadis Filipina biasanya mulai bekerja sebagai nanny, housemaid, ataupun perawat di luar negeri saat usia mereka menginjak 20-an. Jangan salah, meskipun bekerja sebagai pembantu rumah tangga, tapi beberapa dari mereka punya gelar sarjana, lho! Karena Filipina jajahan Spanyol dan Amerika, sangat diuntungkan dengan banyak sekali orang yang bisa berbahasa Inggris (dan Spanyol) walaupun mereka tinggal di desa.

Tidak seperti orang tua Indonesia yang banyak melarang anak mereka merantau, orang tua Filipina justru kebanyakan memaksa anak-anak mereka untuk bekerja di luar negeri sedini mungkin. Mengapa, karena masalah perekonomian keluarga. Kalau si gadis tidak ingin bekerja keluar negeri, asap di dapur tidak bisa mengepul lama.

Bekerja di Filipina pun tidak gampang. Meski memiliki gelar sarjana, persaingan yang sangat tinggi di dunia kerja membuat mereka kadang rendah diri dan menyerah. Belum lagi dengan gaji yang tidak terlalu besar, lagi-lagi membuat mereka berpikir dua kali jika harus menafkahi keluarga. Satu-satunya jalan adalah dengan bekerja di luar negeri lewat bantuan agensi ataupun jalur mandiri.

Di Eropa, cewek-cewek muda Filipina sering kali dijumpai di daerah utara. Denmark dan Norwegia adalah dua negara terpopuler di Eropa bagi para cewek-cewek ini untuk bekerja sebagai au pair. Selain karena uang sakunya paling tinggi, izin tinggal hingga 2 tahun membuat mereka betah berlama-lama mendiami dua negara ini.

Hebatnya, mental cewek-cewek Filipina sangat kuat dan tanpa malu. Orang Indonesia yang tidak paham dengan konteks au pair, biasanya akan langsung menilai pekerjaan ini layaknya pembantu. Tapi bagi para cewek Filipina, au pair merupakan jalan termudah mendapatkan visa dan bekerja di Eropa.

Supernya lagi, cewek-cewek ini juga 'pandai' meloncat dari satu negara ke negara lain. Selesai di Denmark, mereka langsung buru-buru ke Norwegia. Selesai disana, mereka akan berpikir keras untuk pindah ke Spanyol, Belanda, ataupun negara Eropa lainnya, meskipun hanya bekerja sebagai cleaning lady. Habis masa kerja di Eropa, lagi-lagi, mereka tidak kehabisan akal untuk loncat ke Amerika. Prinsip mereka, once you are abroad, no more way back home.

Gara-gara hal inilah, dulunya pemerintah Denmark (2014) sampai menghadiahi uang hingga 6.500 DKK bagi au pair yang sudah selesai au pairing selama 2 tahun, tidak hamil, dan bersedia kembali ke negara asal mereka. Kabarnya, dulu banyak au pair Filipina manja yang sering overstayed, hingga mencari banyak cara untuk tetap tinggal lama di Denmark. Bisa dengan mencari pacar, memaksa untuk dinikahi, ataupun sengaja hamil agar masa tinggal mereka lebih lama.

Lain ceritanya dengan gadis-gadis Indonesia. Bagi para au pair Indonesia, Eropa merupakan tanah impian dengan segala kemewahan yang ada. Au pair Indonesia yang saya kenal, biasanya akan mengambil banyak kesempatan yang ada selama di Eropa, seperti tidak malas datang ke sekolah bahasa, travelling, ataupun benar-benar merasakan atmosfir luar negeri selama berada di Eropa. We are not looking for money, but opportunity.

Tentu saja, uang saku yang didapat boleh ditabung dan dibawa kembali ke Indonesia. Kebanyakan au pair Indonesia juga melihat Eropa sebagai kesempatan untuk melanjutkan studi. Makanya tidak jarang, setelah masa au pair selesai, para gadis muda ini akan datang lagi ke Eropa untuk sekolah.

Berbeda dengan banyak au pair Filipina yang saya kenal, mereka biasanya akan malas datang ke sekolah bahasa. Alasannya simpel, tidak ada motivasi mempelajari bahasa tersebut karena nyatanya mereka tidak akan tinggal lama. Au pair yang awalnya adalah pertukaran budaya pun, realitanya malah jadi sarana mengais rezeki. Tujuan mereka hanya satu, menafkahi keluarga.

Sialnya, karena ada penyalahgunaan konsep au pair oleh para gadis Filipina ini, pemerintah Swiss sampai melarang semua au pair Asia untuk datang lagi kesana in step with tahun 2015.

Saat au pair Indonesia jalan-jalan ke kota, nongkrong, ataupun berbelanja di akhir pekan, para gadis Filipina akan menghabiskan waktu libur mereka bersama teman di rumah ataupun bekerja ilegal sebagai tukang bersih-bersih. Yes, orang Filipina ini juga pintar sekali mencari pekerjaan tambahan (yang ilegal), lho!

Biasanya pekerjaan tersebut tidak jauh-jauh jadi cleaning lady. Hebatnya, pekerjaan ini didapat turun-temurun. Jadi kalau si teman cleaning ladysudah selesai au pair, akan ada lagi penggantinya yang juga berkebangsaan Filipina. Meskipun ilegal, tapi sampai detik ini belum ada inspeksi terkait dengan praktik kerja tambahan tersebut. Sungguh bahaya kalau ketahuan, 'hadiah' deportasi bisa mereka dapatkan.

Karena jarang sekali nongkrong-nongkrong dan 'menghabiskan uang' layaknya au pair Indonesia di Eropa, tabungan au pair Filipina akan utuh selama satu bulan. Tabungan inilah yang nantinya akan dikirimkan ke keluarga di rumah. Bagi mereka, keluarga menjadi alasan utama mereka mengapa berada di Eropa. Saya dapat cerita, dari 4000 DKK uang saku yang didapat, si au pair bisa saja mengirimkan hampir semua uang tersebut tiap bulan ke keluarga di Filipina! Hasilnya, si au pair hanya uring-uringan di rumah saat weekend datang.

Cerita sedihnya, meskipun mental si au pair Filipina ini termasuk kuat, tapi mereka tetaplah orang Asia. So typical Asian yang malas berkonfrontasi dan tetap mementingkan adat. Karena budaya Asia yang malu dan sulit sekali mengutarakan pendapat karena mementingkan perasaan seseorang, sering kali kita serasa diinjak-injak oleh host family yang tidak fair. Banyak sekali cerita tentang au pair Filipina yang kerja overtime, kabur karena terpaksa, hingga tetap harus bertahan karena urusan uang. Mereka juga kadang terlalu takut untuk bertindak.

Tapi meskipun begitu, orang Filipina sebenarnya satu rumpun dengan orang Indonesia. Sering kali orang Indonesia dikira orang Filipina karena miripnya paras dan bentuk tubuh. Mereka juga sedikit noisy kalau sudah berkumpul dengan teman satu kebangsaan, suka masak-masak, ataupun curhat seru. Para au pair ini juga hangat, bersahabat, dan sangat religius meskipun sedang berada di perantauan.

Tidak ada yang salah dengan tujuan para gadis ini mencari uang untuk membantu perekonomian keluarga. Tapi sayang sekali, jika konsep au pair yang harusnya jadi ajang pertukaran budaya malah hanya digunakan dengan tujuan mencari uang semata.

PS.

Ada cerita lain saat saya tanyai seorang teman cowok asal Belgia tentang beda cewek Filipina dan Indonesia secara fisik. Katanya, "cewek-cewek Filipina tuh punya rambut yang halus seperti yang ada di iklan-iklan sampo. Beda dengan rambut cewek Indonesia yang terlihat keras dan kaku."

Tuesday, June 23, 2020

Tips Bunny, Si Cowok Denmark Penakluk Hati|Fashion Style

Saya sebenarnya bersumpah untuk tidak berkencan dengan cowok manapun lagi. Alasannya simpel, saya akan meninggalkan Denmark dalam waktu dekat. Lagipula, berkencan itu melelahkan. I'm fed up already!

Aplikasi dating semacam Tinder sudah saya hapus sejak tahun lalu. Meskipun sering buka tutup OKCupid, tapi hanya situs kencan satu ini yang masih saya pertahankan. Saat bosan melanda, sering iseng saya buka walaupun tujuannya hanya untuk mengecek siapa yang mengunjungi profil saja.

Suatu hari, saat mengecek profil, satu foto menarik perhatian saya. Bukan soal tampangnya, tapi matanya. Bukan warna biru seperti kebanyakan orang Denmark lainnya, tapi abu-abu muda yang sangat cantik dan berbeda.

"Nice eyes. You're welcome," kata saya mengawali sekalian mengakhiri obrolan.

Jujur saja, tidak sekali ini saya mengirim pesan duluan ke cowok-cowok di situs kencan. Kalau profil atau foto mereka menarik, biasanya saya tidak malu memuji duluan. Tujuannya bukan breaking the ice, tapi benar-benar murni memuji. Meskipun ujung-ujungnya kadang hanya dibalas, "Thank you."

Benar saja, si cowok bermata abu-abu ini lalu membalas pesan saya. Tidak hanya ucapan terima kasih, tapi berusaha untuk mencari topik obrolan agar berlanjut. Satu, dua, tiga pesan pendek, lalu seterusnya selalu dibalas pesan panjang.

"It's too bad I cannot meet you this weekend. Saya mau liburan dulu ke Austria nih," kata saya saat doi mengajak ketemuan.

"Ah, that's okay. I will meet you when you're back then!"

Sampai akhirnya satu minggu berlalu, saya dan dia masih saja balas-balasan pesan lewat OKCupid setiap hari. Doi juga kadang jadi tempat sampah berbagi uneg-uneg saat saya sudah muak di Paris .

"I'm flying back home tonight! Semoga bisa ketemu besok ya," kata saya mengakhiri obrolan sebelum pesawat lepas landas.

*

Sabtu sore, saya dan dia janjian ketemuan di stasiun metro Frederiksberg. Stasiun ini memang sangat dekat dengan taman yang akan jadi tempat kencan pertama kami. Yang saya suka saat berkencan dengan orang lokal adalah mereka biasanya tahu tempat-tempat mana saja yang tidak terdeteksi oleh turis. Makanya saat doi menyarankan dating di Landbohøjskolens, saya dengan mantap langsung mengiyakan.

Bagi saya, kencan pertama serasa bertemu teman baru. Pun saat bertemu dengan doi, sudah tidak ada lagi rasa gugup. Saya mengembangkan senyuman saat baru tiba di stasiun dan melihat cowok kurus tinggi langsing berjalan menghampiri saya. It's him!

"Finally!" kata saya lalu memeluknya.

Bunny, panggilan saya ke dia, memakai kemeja hitam saat itu. So typical Danish! Rambutnya cokelat tua berbelah pinggir, berewokan seperti cowok-cowok zaman sekarang, tapi tetap cute dengan mata abu-abunya.

Doi memang tipe cowok Denmark yang mudah ditebak, sopan, namun sangat hangat. Karena tidak ingin terlihat kaku, Bunny juga tidak berhenti mengeluarkan jokes sepanjang perjalanan di taman. Sangat mirip dengan gaya obrolan kami yang jarang serius di texting. Karena saat itu Bunny juga lagi sibuk mengerjakan tugas akhir masternya, topik obrolan pun kadang nyangkut ke tesis dia.

"I'm boring. I know," katanya rendah diri saat menyadari saya mulai menguap mendengar doi menjelaskan tentang si tugas akhir.

Kencan saya dan Bunny hari itu berlangsung cukup lama. Tidak hanya di taman Landbohøjskolens, saya dan dia juga mampir ke kedai es krim sekalian mengitari daerah Frederiksberg. Rute kali itu, taman, es krim, lalu taman lagi.

"Do you want to sit above my jacket?" tanya Bunny seraya menggelar jaket hitamnya di atas rerumputan.

"No. That's fine. I can just sit on the grass."

"Well, saya kira saya bisa jadi gentleman karena menawari jaket," katanya sambil tidak berhenti menatap mata saya.

Jleebbb...There's something on him.Sesuatu yang membuat saya ingin mengenal dia lebih jauh. Tapi karena terlalu geer ditatap begitu terus, saya langsung melirik jam tangan.

"Sudah jam setengah 8. Kamu mau cari makan buat dinner kah?"

"Hmm.. Sebenernya belum lapar. But, if you think you are, let's go grab some food!"

Kebingungan ingin makan apa, ujung-ujungnya saya dan dia mampir ke kedai pizza. Tidak ingin menghabiskan waktu hanya di dalam ruangan, kami pun membawa si pizza ke taman lain yang masih berada di daerah yang sama.

Kami memilih duduk di perairan, yang sialnya, berdekatan dengan bebek-bebek yang lagi mondar-mandir santai. Karena mencium aroma pizza, sekawanan bebek berjalan ke arah kami. Cukup mengganggu, karena harus makan sekalian mencegah para bebek agar tidak mematuk makanan kami.

"Well, we have friends to eat with now," kata Bunny sambil mengunyah sandwich pilihan dia.

Sudah jam 9 malam. Hari sudah mulai gelap, tapi saya dan dia masih duduk kaku di tempat yang sama. Obrolan pun masih terus berlanjut dari soal si bebek, orang-orang yang lewat, hingga apa yang mesti kita lakukan setelah dinner ini.

"Let's take a walk a bit!" saran Bunny.

It seemed like we never wanted to go home. Bunny membuat kencan hari itu begitu santai namun tetap romantis. Meskipun sempat grogi juga karena sering ditatap, tapi jokes-nya selalu membuat saya tertawa kecil. Hingga 10 menit kemudian, saya kebelet ingin ke toilet.

"Ehmmm... Kita mesti jalan balik ke belakang kalo kamu ingin pip.."

"No!" kata saya menginterupsi. "That's impossible! Saya bener-bener sudah kebelet. Lagian sudah jam setengah 10 ini. Kamu yakin kalau toiletnya masih buka?"

"Well, I'm not that sure."

"Itu!" kata saya seraya menunjuk daerah pepohonan seperti hutan mini di tengah taman. "Saya mesti kencing di semak-semak itu."

Tanpa babibu, Bunny langsung saja menuntun saya menuju semak-semak dan sedikit berkeliling mencari posisi yang pas agar tidak terlihat oleh orang yang masih berlalu-lalang.

"Oke, kayaknya saya juga mau pipis nih," katanya sambil membelakangi saya.

Saya yang masih sedikit canggung, akhirnya terpaksa menunggu si Bunny kencing dulu lalu menyuruhnya menjauh. Gila! Kencan apa-apaan ini?!

"It was quite challenging and fun, you know?! Kencing di semak-semak. Haha!" kata si Bunny sambil tertawa kecil.

"Iya. Di kencan pertama pula. What a shame!"

"But, do you think we're gonna meet again?" tanya Bunny saat kami sudah dekat dengan gerbang taman.

"I don't know. It's not only about me, but also you. Kamu mau ketemu saya lagi kah?"

"Of course!"

Tips Geocaching, Hobi Berburu Harta Karun Mengandalkan Informasi Geospasial|Fashion Style

Sewaktu tinggal di Denmark beberapa bulan lalu, saya memang tipikal orang yang selalu mencari cara agar hari-hari terasa tidak membosankan. Kalau hanya diisi dengan nongkrong di bar, ngopi-ngopi, ataupun travelling setiap akhir pekan, rasanya terlalu monoton. Belum lagi biaya hidup di Denmark yang tinggi membuat saya harus berpikir ulang membeli segelas chai latte di kafe.

Karena bosan bolak-balik Kopenhagen hanya untuk jadi anak nongkrong, akhirnya saya mencoba keluar dari zona nyaman, lalu memilih hiking ke hutan-hutan kecil yang tidak jauh dari ibukota. Lumayan, olahraga sekalian menyatu dengan alam.

Lewat satu artikel berjudul " Fun Things to Do When You're Bored ", saya juga penasaran dengan ide geocaching yang katanya sudah populer di seluruh dunia dari tahun 2000-an. Geocaching  simpelnya adalah kegiatan yang melibatkan rasa suka cita di alam bebas; menggabungkan kecintaan terhadap kegiatan outdoor dan informasi geospasial yaitu SIG (Sistem Informasi Geografis).

Teknologi geospasial seperti SIG memang memiliki banyak manfaat dalam perencanaan kota, konservasi, ilmu pengetahuan lingkungan, sampai bidang kesehatan. Meskipun kedengarannya sangat profesional, tapi pemanfaatan informasi geospasial yang menyenangkan dan praktis ini sebenarnya sangat erat kaitannya dalam kehidupan sehari-hari. Seperti contohnya penggunaan peta online (Google Maps), sosial media (geotagging), dan GPS, yang dimanfaatkan dalam geocaching.

Serunya lagi, geocaching sebenarnya mirip-mirip perburuan harta karun (disebutgeocaches atau caches)yang bisa ditemukan di tempat-tempat tersembunyi. Tempat-tempat tersebut pun memang melibatkan alam bebas seperti hutan, pegunungan, bukit kecil, ataupun lapangan luas. Jadi sebenarnya kegiatan geocaching memang bisa jadi alternatif hobi baru bagi para pecinta alam, hikers, ataupun orang yang suka tantangan.

Harta karun yang disembunyikan biasanya ditaruh di kotak plastik tahan air ataupun kontainer bekas, lalu disertai pula buku catatan kecil dan pena sebagai bahan laporan bagi si penemu (geocachers). Kalau harta karun sudah ditemukan, si penemu wajib meletakkan harta karun lain yang sudah disiapkan, lalu kembali disembunyikan di tempat berbeda untuk ditemukan para pemburulain.

Foto: DIYGENIUS

Untuk menemukan harta karun tersebut, biasanya para pemburu harus memastikan koordinat peta untuk lokasi masing-masing benda yang diposting secara online. Alat yang bisa digunakan untuk mengukur koordinat tersebut biasanya menggunakan GPS handheld, aplikasi ponsel pintar, ataupun peta geospasial. Karena alat-alat tersebut penggunaannya sangat mudah, kegiatan ini tidak perlu lagi memerlukan pelatihan atau keahlian khusus. Capek memang, tapi menantang dan seru!

Meskipun daerah tempat tinggal saya di Denmark banyak ditemukan caches, tapi seringkali saya malah melupakan misi mencari mereka. Saya dan Solveig, seorang teman asal Prancis yang memang pecinta alam, akhirnya lebih sering memutuskan untuk hiking santai tanpa harus menemukan caches.

Salah satu aplikasi cellphone dengan menggunakan model GPS 3-d elevasi untuk trek olahraga

Demi melancarkan kegiatan hiking pun, kami biasanya memanfaatkan pemetaan digital melalui aplikasi Maps 3D untuk memudahkan mempelajari data ketinggian di suatu daerah. Aplikasi ini juga biasanya digunakan para atlet sebagai trek GPS untuk bersepeda, ski, dan kegiatan luar ruangan lainnya. Aplikasi tersebut memberikan informasi penting dan akurat mengenai altimeter ketinggian menggunakan program elevasi 3D.

Meskipun tanah di Denmark konturnya flat, tapi penggunaan aplikasi di atas bisa sangat membantu saat hiking ke daerah berbukit. Karena Solveig tidak memiliki ponsel pintar, ide si doski untuk membawa peta geospasial yang sudah dicetak pun menjadi sangat membantu. Akan ada saatnya dimana GPS tidak berfungsi, sinyal empot-empotan, ponsel mati, ataupun banyaknya jalan setapak yang tidak terlihat dari peta digital biasa.

Peta berbentuk PDF tersebut Solveig dapatkan (lebih tepatnya "buat") dari CalTopo yang bisa disimpan dan dicetak langsung. Selain peta berbentuk kertas, salah satu aplikasi berbentuk peta geospasial yang juga bisa disimpan dengan format PDF bisa dibeli di Avenza .

Kembali ke Indonesia, saya sempat mengunduh kembali aplikasi geocaching untuk mengecek keberadaan harta karun di sekitar Palembang yang ternyata belum ada jejak-jejak caches.Di Indonesia, peminat geocaching memang tidak banyak. Dari informasi yang saya temukan, posisigeocaching lebih banyak ditemukan di Jakarta, Semarang, Solo, Jogja, dan Bali. Soal seberapa banyaknya pemburu yang berhasil menemukan harta karun di tempat ini, saya tidak tahu. Namun, dengan memanfaatkan data spasial yang tersedia, diharapkan keberadaan geocaching di Indonesia mampu mempopulerkan kekayaan alam dan situs-situs ternama bangsa.

Penasaran ingin jadi geocacher? Mari berburu!

Ingin tahu lebih lanjut tentang informasi geospasial? Di Indonesia sebenarnya sudah ada Badan Informasi Geospasial (BIG) yang menangani bidang ini secara lebih rinci. Sebelumnya, lembaga ini bernama BAKOSURTANAL yang dibentuk dari tahun 1969. BIG lagir untuk menggantikan BAKOSURTANAL sebagai penuaian amanat pasal 22 UU Nomor4 Tahun 2011 tentang Informasi Geospasial (IG).

Pecinta geografi, arkeologi, geologi, statistika, ataupun Indonesia, ayo masuk!

Tips Kamu Masak, Saya Minum Wine|Fashion Style

Hari ini kencan ketigasaya dengan Bunny. Setelah sebelumnya doi dipaksa harus masak makan malam, hari ini saya juga sedikit memaksa Bunny untuk masak sesuatu kalau ingin rumahnya dikunjungi lagi.

Sebenarnya saya sudah sedikit paham degree masak Bunny. Karena tidak suka masak, sekalinya masak, lama sekali! Di kencan kedua lalu, Bunny dengan rela membuka kembali buku masakan Jamie Oliver yang katanya sudah bertahun-tahun tidak dibuka. Untuk spaghetti bolognese yang simpelnya bukan important, doi membutuhkan waktu dua jam! Padahal kalau saya yang masak, 15 menit kelar!

"Kamu yakin mau masak lagi?" tanya saya sekali lagi masih tidak yakin.

"Iya. I love cooking you something."

"Ah males, it would be long again."

"I'll try to find something simple," katanya masih niat.

Cowok Eropa memang paling suka mengundang cewek ke rumah dengan embel-embel makan malam menu masakan si cowok. Selain hemat, kadang gaya kencan seperti ini dirasa lebih romantis dan sweet. Tak jarang lho, cowok-cowok Eropa punya skill masak di atas rata-rata.

Tapi meskipun si Bunny bukan cowok yang pinter masak, tapi niat dia patut saya acungi jempol. Dari siang, si doi kabarnya sudah belanja ke supermarket demi melengkapi bahan masakan.

"I make cream soup," katanya via WhatsApp.

"Wihh, enak tuh sepertinya. I love soup!"

"I hope it's gonna be delicious, though I'm not that so proud of what I have made. Sepertinya tidak terlalu sesuai ekspektasi."

"That's fine. You've tried your best! Saya sampai setengah jam lagi. Ada titipan?"

"Bisa minta tolong bawa baguette? Lupa beli tadi. Pas kamu datang, supnya sudah jadi."

Empat puluh menit kemudian, saya menghubungi Bunny untuk menjemput ke lantai dasar. Maklum, bel kamarnya lagi rusak, jadi mau tidak mau doi harus turun juga ke bawah.

"Is it done?" tanya saya sambil membututinya ke ruangan.

"Uhmmm.. in ten minutes."

"Belum jadi juga? Sudah jam setengah eight ini. Huhu."

"Easy. Cuma sebentar kok." Bunny membuka pintu kulkas, "look! I have bought wine as you requested; fresh and a bit sweet."

Saya juga membuka tas, "look! Two bottles of expensive wine from Brian!"

"Whaaat?? So, we have THREE? Are we gonna be drunk tonight?!"

Saya menaikkan bahu, "maybe."

Karena tahu akan makan malam di rumahnya lagi, saya memang minta Bunny untuk menyediakan sebotol wine. Tamu tidak tahu diri ya. Memang. Tapi karena si Bunny tidak ada pembuka botol wine, saya akhirnya terpaksa meminjam ke Louise.

"Kamu minum wine?" tanya Brian kaget ketika Louise malah bertanya balik padanya tentang keberadaan pembuka wine di rumah.

"Kadang, kalau lagi hang out dengan teman."

"Kalau kamu mau, bawa saja wine di basement," kata Brian sambil menyuruh saya mengikutinya ke ruang penyimpanan wine.

Saya tahu betul, host family saya di Denmark ini persediaan wine-nya berbotol-botol tapi tidak pernah diminum. Jangankan alkohol, Louise dan Brian pun tidak pernah terlihat minum kopi ataupun teh. Favorit mereka hanya satu, Pepsi atau Coca Cola zero sugar.

"Berapa orang yang mau minum-minum?" tanya Brian lagi.

"Lima orang. Cewek semua," jawab saya bohong.

"Ini, bawa saja dua botol. Dua-duanya sama-sama enak dan mahal. I think your friends would like them."

"Do you want to try my cheap wine first?" Bunny mengambil gelas dan menunggu reaksi saya. "Sambil menunggu supnya, kamu boleh minum duluan."

"Yes, please!"

Info tambahan:

Di kencan keempat, lagi-lagi Bunny membuatkan saya makan malam kari domba resepnya Jamie Oliver. Karena dari belanja hingga masak saya temani, tanpa mau dibantu sedikit pun di dapur, tak tanggung-tanggung saya harus menunggu selama tiga jam sampai masakannya benar-benar selesai! Oh Bunny....

Monday, June 22, 2020

Tips Meminta Izin Orang Tua ke Luar Negeri|Fashion Style

Saya banyak menerima curhatan dari para pembaca, tentang sikap orang tua yang menentang habis-habisan keinginan mereka untuk hijrah ke luar negeri dan jadi au pair. Tidak ada yang salah dengan luar negerinya, yang dianggap salah adalah tujuan sebagai au pair.

Tidak dipungkiri, au pair memang belum dikenal luas oleh masyarakat Indonesia. Belum lagi saat tahu kalau au pair tugasnya membersihkan rumah dan mengurus anak. Wah, posisi au pair betul-betul akan disamakan dengan pembantu.

Meskipun sudah dua kali jadi au pair dan tiga tahun tinggal di luar negeri, saya juga tetap menghadapi kendala luar biasa, terutama soal restu orang tua. Karena ayah saya sudah tidak ada, jadi persoalan izin tentunya harus dibicarakan ke ibu. Jujur saja, ibu saya termasuk orang tua yang cukup konservatif dan tidak terlalu berharap saya hijrah ke luar negeri.

Untuk sampai diizinkan ke luar negeri pun, saya sampai harus tangis-tangisan dan kena hinaan dulu. Hehe. Saat mengurus dokumen jadi au pair ke Belgia, ibu saya masih membantu membiayai urusan visa di Jakarta. Tapi saat akan ke Denmark, saya sengaja untuk tidak meminta bantuan sepeser pun karena jelas tahu tidak akan diperbolehkan.

Jeleknya, saya ini anaknya keras kepala dan nekad. Niatnya dulu memang tetap akan pergi, meskipun tidak diizinkan (yang ini jangan ditiru!). Bayangkan saja, tidak hanya ibu, keluarga besar saya dari pihak ibu ikut campurnya juga keterlaluan. Dari nenek, tante, sampai om, semuanya merendahkan keinginan saya ini. Beruntung sekali, masih ada beberapa keluarga dan teman yang tetap mendukung saya hijrah ke luar negeri.

Kembali ke topik! Jadi sebenarnya, saya mengerti betul mengapa para keluarga Indonesia menentang habis-habisan niat kita menjadi au pair keluar negeri. Selain tidak ada statusnya, orang tua kadang mentah-mentah menelan makna au pair sebagai TKW. Padahal pengalaman jadi au pair is far from being a maid dan mereka tidak tahu saja enaknya jadi au pair.

Beruntunglah kalian yang memiliki orang tua free-minded yang membebaskan si anak memilih sendiri jalan hidupnya. Sayangnya, banyak juga impian anak terhempas gara-gara terhadang restu orang tua.

Lalu bagaimana meyakinkan orang tua agar diperbolehkan ke luar negeri barang satu sampai dua tahun?

1. Ganti kata-kata au pair dengan exchange culture

Saya jarang sekali menggunakan kata-kata au pair untuk menjelaskan status saya di Eropa ke orang-orang di Indonesia. Mengapa? Karena dijelaskan sedetail mungkin pun percuma, mereka tidak akan mengerti. Boro-boro mengerti, yang ada malah kita direndahkan.

Jadi, daripada repot-repot menjelaskan pengertian au pair ke orang-orang terdekat, baiknya mengganti kata-kata tersebut dengan ajang pertukaran budaya. Bukankah tujuan utama memang pertukaran budaya dengan keluarga angkat? :)

2. Tekankan kalau au pair ini sifatnya sponsorship

Orang tua pasti akan bertanya-tanya bagaimana keuangan kita selama di luar negeri. Bukan apa, kadang ada juga orang tua yang melarang karena merasa tidak punya uang membiayai si anak.

Jelaskan saja ke orang tua kalau au pair ini sebenarnya berbeda dari jenis pertukaran budaya yang diadakan banyak tempat kursus di Indonesia. Sebenarnya, kitalah yang harus membayar ke keluarga angkat kalau ingin tinggal di rumah mereka. Tapi, au pair sifatnya sponsorship, artinya kita tidak perlu membayar apapun lagi untuk tinggal, kecuali biaya visa dan tiket pesawat (jika ada), karena semua sudah ditanggung.

Lebih bagus lagi kalau dapat keluarga royal yang bersedia membiayai tiket pesawat hingga biaya kursus, artinya kita bisa menjelaskan kalau going overseas is almost free!

3. Au pair juga tujuannya belajar

Satu hal yang kamu mesti tekankan ke orang tua, au pair tujuannya adalah belajar bahasa. Selain bertukar budaya, si au pair juga wajib mengikuti kursus bahasa setempat sebagai bagian dari exchange culture itu sendiri.

Dengan begini, orang tua juga sedikit lega karena mendengar si anak akan menempuh pendidikan meskipun hanya sebatas short course. Jangan lupa sekalian beri tahu kalau kita bisa juga mendapatkan sertifikat selepas lulus ujian bahasa. Jadi status kita di luar negeri hampir bisa disamakan dengan para mahasiswa yang kuliah di sana.

4. Kamu boleh kerja part-time

Jangan duluan menceritakan au pair itu sebenarnya pekerjaan yang mewajibkan kamu menjaga anak dan bersih-bersih rumah host family. That's totally wrong!

Agar orang tua lega kamu bakalan baik-baik saja di negara orang, kita juga mesti menekankan kalau au pair ini sifatnya fleksibel. Jadi selain pertukaran budaya dan belajar bahasa, kita juga boleh mengambil kerja paruh waktu yang gajinya lumayan untuk uang jajan.

Pekerjaan ini bisa dimulai dari merawat bayi, mengasuh anak, jadi guru bahasa, ataupun tukang masak keluarga. Tegaskan ke keluarga kalau pekerjaan ini hanya maksimal five-6 jam, jadi tidak perlu khawatir akan disamakan dengan pembantu.

Five. Jalan-jalan dan bersosialisasi

Selain ke-four penjelasan di atas, kamu juga boleh meyakinkan orang tua kalau au pair bisa jadi kesempatan kamu untuk berkeliling Eropa atau Australia dengan biaya yang first-rate murah. Bayangkan kalau kamu menetap di Indonesia, meskipun harus menabung, entah beberapa tahun kemudian baru bisa kesana. Iya, kalau betul-betul kejadian.

6. Kesempatan melanjutkan pendidikan

Banyak sekali, lho, mantan au pair yang meneruskan pendidikan mereka hingga S2 setelah masa au pair selesai . Cara ini bisa kamu manfaatkan juga untuk meyakinkan orang tua sekiranya mereka belum juga bisa percaya.

Katakan saja kalau kamu memang punya mimpi sekolah keluar negeri sekaligus membanggakan mereka. Cari beasiswa, saingannya banyak. Jadi, siapa tahu selesainya au pair ini, kamu bisa mencari cara masuk ke kampus favorit dengan tabungan hasil au pair.

Kampus di Belgia, Jerman, ataupun Prancis menawarkan uang kuliah yang cukup terjangkau bagi mahasiswa yang sekolah dengan mengambil kelas bahasa setempat. Sementara Norwegia, masih memberlakukan uang kuliah gratis bagi seluruh kewarganegaraan yang berniat sekolah disana.

7. Pengalaman dan motivasi

Yakinlah, faktanya, banyak juga orang tua yang tetap keukeuh dengan jalan pikiran mereka sendiri dan melarang anaknya jadi au pair. Meskipun sudah dijelaskan sampai mulut berbusa sekali pun, banyak orang tua yang berusaha tutup telinga dan bersikeras menyuruh anaknya stay di Indonesia.

Kalau sudah begini, kamu tetap harus berkepala dingin dan santai menghadapi mereka. Jangan saling lempar emosi hingga harus tangis-tangisan seperti saya dulu. Huhu. Walau bagaimana pun, komunikasi yang baik juga perlu.

Orang tua juga bisa diyakinkan kalau au pair bisa dijadikan pengalaman yang HANYA akan didapatkan oleh anak-anak muda seumur kita. Jadi jangan takut kalau kita akan pergi jauh, karena toh hanya satu hingga dua tahun.

Jelaskan juga kalau kita bisa berhemat, uang saku dari kerja paruh waktu sebagai au pair bisa ditabung dan dimanfaatkan untuk berinvestasi di Indonesia. Jumlahnya memang tidak banyak, namun setidaknya pola pikir dan mental kita bisa terbentuk jika tinggal mandiri di negara orang.

Gaes, saya juga percaya restu Tuhan adalah restu orang tua. Tapi yakinlah dan ikuti kata hati, kita juga berhak mengejar mimpi dan cita-cita. Jangan sampai "tameng" restu orang tua menghadang impian kita meraih masa depan. Berdoa saja semoga hati orang tua dilembutkan dan semoga kesempatan jadi au pair adalah hal terbaik bagi kita.