Monday, June 22, 2020

Tips Meminta Izin Orang Tua ke Luar Negeri|Fashion Style

Saya banyak menerima curhatan dari para pembaca, tentang sikap orang tua yang menentang habis-habisan keinginan mereka untuk hijrah ke luar negeri dan jadi au pair. Tidak ada yang salah dengan luar negerinya, yang dianggap salah adalah tujuan sebagai au pair.

Tidak dipungkiri, au pair memang belum dikenal luas oleh masyarakat Indonesia. Belum lagi saat tahu kalau au pair tugasnya membersihkan rumah dan mengurus anak. Wah, posisi au pair betul-betul akan disamakan dengan pembantu.

Meskipun sudah dua kali jadi au pair dan tiga tahun tinggal di luar negeri, saya juga tetap menghadapi kendala luar biasa, terutama soal restu orang tua. Karena ayah saya sudah tidak ada, jadi persoalan izin tentunya harus dibicarakan ke ibu. Jujur saja, ibu saya termasuk orang tua yang cukup konservatif dan tidak terlalu berharap saya hijrah ke luar negeri.

Untuk sampai diizinkan ke luar negeri pun, saya sampai harus tangis-tangisan dan kena hinaan dulu. Hehe. Saat mengurus dokumen jadi au pair ke Belgia, ibu saya masih membantu membiayai urusan visa di Jakarta. Tapi saat akan ke Denmark, saya sengaja untuk tidak meminta bantuan sepeser pun karena jelas tahu tidak akan diperbolehkan.

Jeleknya, saya ini anaknya keras kepala dan nekad. Niatnya dulu memang tetap akan pergi, meskipun tidak diizinkan (yang ini jangan ditiru!). Bayangkan saja, tidak hanya ibu, keluarga besar saya dari pihak ibu ikut campurnya juga keterlaluan. Dari nenek, tante, sampai om, semuanya merendahkan keinginan saya ini. Beruntung sekali, masih ada beberapa keluarga dan teman yang tetap mendukung saya hijrah ke luar negeri.

Kembali ke topik! Jadi sebenarnya, saya mengerti betul mengapa para keluarga Indonesia menentang habis-habisan niat kita menjadi au pair keluar negeri. Selain tidak ada statusnya, orang tua kadang mentah-mentah menelan makna au pair sebagai TKW. Padahal pengalaman jadi au pair is far from being a maid dan mereka tidak tahu saja enaknya jadi au pair.

Beruntunglah kalian yang memiliki orang tua free-minded yang membebaskan si anak memilih sendiri jalan hidupnya. Sayangnya, banyak juga impian anak terhempas gara-gara terhadang restu orang tua.

Lalu bagaimana meyakinkan orang tua agar diperbolehkan ke luar negeri barang satu sampai dua tahun?

1. Ganti kata-kata au pair dengan exchange culture

Saya jarang sekali menggunakan kata-kata au pair untuk menjelaskan status saya di Eropa ke orang-orang di Indonesia. Mengapa? Karena dijelaskan sedetail mungkin pun percuma, mereka tidak akan mengerti. Boro-boro mengerti, yang ada malah kita direndahkan.

Jadi, daripada repot-repot menjelaskan pengertian au pair ke orang-orang terdekat, baiknya mengganti kata-kata tersebut dengan ajang pertukaran budaya. Bukankah tujuan utama memang pertukaran budaya dengan keluarga angkat? :)

2. Tekankan kalau au pair ini sifatnya sponsorship

Orang tua pasti akan bertanya-tanya bagaimana keuangan kita selama di luar negeri. Bukan apa, kadang ada juga orang tua yang melarang karena merasa tidak punya uang membiayai si anak.

Jelaskan saja ke orang tua kalau au pair ini sebenarnya berbeda dari jenis pertukaran budaya yang diadakan banyak tempat kursus di Indonesia. Sebenarnya, kitalah yang harus membayar ke keluarga angkat kalau ingin tinggal di rumah mereka. Tapi, au pair sifatnya sponsorship, artinya kita tidak perlu membayar apapun lagi untuk tinggal, kecuali biaya visa dan tiket pesawat (jika ada), karena semua sudah ditanggung.

Lebih bagus lagi kalau dapat keluarga royal yang bersedia membiayai tiket pesawat hingga biaya kursus, artinya kita bisa menjelaskan kalau going overseas is almost free!

3. Au pair juga tujuannya belajar

Satu hal yang kamu mesti tekankan ke orang tua, au pair tujuannya adalah belajar bahasa. Selain bertukar budaya, si au pair juga wajib mengikuti kursus bahasa setempat sebagai bagian dari exchange culture itu sendiri.

Dengan begini, orang tua juga sedikit lega karena mendengar si anak akan menempuh pendidikan meskipun hanya sebatas short course. Jangan lupa sekalian beri tahu kalau kita bisa juga mendapatkan sertifikat selepas lulus ujian bahasa. Jadi status kita di luar negeri hampir bisa disamakan dengan para mahasiswa yang kuliah di sana.

4. Kamu boleh kerja part-time

Jangan duluan menceritakan au pair itu sebenarnya pekerjaan yang mewajibkan kamu menjaga anak dan bersih-bersih rumah host family. That's totally wrong!

Agar orang tua lega kamu bakalan baik-baik saja di negara orang, kita juga mesti menekankan kalau au pair ini sifatnya fleksibel. Jadi selain pertukaran budaya dan belajar bahasa, kita juga boleh mengambil kerja paruh waktu yang gajinya lumayan untuk uang jajan.

Pekerjaan ini bisa dimulai dari merawat bayi, mengasuh anak, jadi guru bahasa, ataupun tukang masak keluarga. Tegaskan ke keluarga kalau pekerjaan ini hanya maksimal five-6 jam, jadi tidak perlu khawatir akan disamakan dengan pembantu.

Five. Jalan-jalan dan bersosialisasi

Selain ke-four penjelasan di atas, kamu juga boleh meyakinkan orang tua kalau au pair bisa jadi kesempatan kamu untuk berkeliling Eropa atau Australia dengan biaya yang first-rate murah. Bayangkan kalau kamu menetap di Indonesia, meskipun harus menabung, entah beberapa tahun kemudian baru bisa kesana. Iya, kalau betul-betul kejadian.

6. Kesempatan melanjutkan pendidikan

Banyak sekali, lho, mantan au pair yang meneruskan pendidikan mereka hingga S2 setelah masa au pair selesai . Cara ini bisa kamu manfaatkan juga untuk meyakinkan orang tua sekiranya mereka belum juga bisa percaya.

Katakan saja kalau kamu memang punya mimpi sekolah keluar negeri sekaligus membanggakan mereka. Cari beasiswa, saingannya banyak. Jadi, siapa tahu selesainya au pair ini, kamu bisa mencari cara masuk ke kampus favorit dengan tabungan hasil au pair.

Kampus di Belgia, Jerman, ataupun Prancis menawarkan uang kuliah yang cukup terjangkau bagi mahasiswa yang sekolah dengan mengambil kelas bahasa setempat. Sementara Norwegia, masih memberlakukan uang kuliah gratis bagi seluruh kewarganegaraan yang berniat sekolah disana.

7. Pengalaman dan motivasi

Yakinlah, faktanya, banyak juga orang tua yang tetap keukeuh dengan jalan pikiran mereka sendiri dan melarang anaknya jadi au pair. Meskipun sudah dijelaskan sampai mulut berbusa sekali pun, banyak orang tua yang berusaha tutup telinga dan bersikeras menyuruh anaknya stay di Indonesia.

Kalau sudah begini, kamu tetap harus berkepala dingin dan santai menghadapi mereka. Jangan saling lempar emosi hingga harus tangis-tangisan seperti saya dulu. Huhu. Walau bagaimana pun, komunikasi yang baik juga perlu.

Orang tua juga bisa diyakinkan kalau au pair bisa dijadikan pengalaman yang HANYA akan didapatkan oleh anak-anak muda seumur kita. Jadi jangan takut kalau kita akan pergi jauh, karena toh hanya satu hingga dua tahun.

Jelaskan juga kalau kita bisa berhemat, uang saku dari kerja paruh waktu sebagai au pair bisa ditabung dan dimanfaatkan untuk berinvestasi di Indonesia. Jumlahnya memang tidak banyak, namun setidaknya pola pikir dan mental kita bisa terbentuk jika tinggal mandiri di negara orang.

Gaes, saya juga percaya restu Tuhan adalah restu orang tua. Tapi yakinlah dan ikuti kata hati, kita juga berhak mengejar mimpi dan cita-cita. Jangan sampai "tameng" restu orang tua menghadang impian kita meraih masa depan. Berdoa saja semoga hati orang tua dilembutkan dan semoga kesempatan jadi au pair adalah hal terbaik bagi kita.

Tips Pengalaman Terbang dengan Thai Airways Rute Kopenhagen - Bangkok|Fashion Style

Di tahun 2017, Thai Airways dinobatkan sebagai maskapai dengan katering dan kelas Ekonomi terbaik. Bertepatan dengan jadwal kepulangan saya di Indonesia, Brian akhirnya memesankan tiket Thai Airways yang memang saat itu adalah yang paling murah dan paling cepat. Belum pernah naik maskapai asal Thailand ini, akhirnya saya hepi-hepi saya dibelikan tiket tersebut.

Rute penerbangan kali ini akan dilayani dari Kopenhagen ke Jakarta. Tapi berhubung saya tidak terlalu banyak mengambil gambar saat transit di Bangkok, jadinya saya hanya merangkum pengalaman naik Boeing 777-three hundred nonstop selama nyaris eleven jam hingga Bangkok saja. Tapi secara keseluruhan, pengalaman naik penerbangan lanjutan menuju Jakarta, pesawat dan pelayanannya pun sama.

Berat bagasi

Di website tertulis kalau bagasi yang boleh dibawa untuk penumpang kelas ekonomi adalah 30 kg**. Jujur saja, saya tinggal di Denmark sudah 2 tahun. Mana mungkin bisa membawa pulang semua barang ke dalam koper yang hanya bermuatan 30 kg. Belum lagi coat tebal dan boot berat yang harus saya lupakan untuk dibawa pulang. Buku-buku dan banyak peralatan gambar pun mau tidak mau ditinggalkan dulu di rumah Louise.

Di malam sebelum keberangkatan, saya dibantu Adel, teman asal Indonesia, berulang lagi bongkar muat isi koper hanya untuk mendapatkan gambaran angka 30 pas di timbangan. Tidak bisa. Berulang kali juga isi koper saya tetap berujung di angka 36 atau 34 kg. Padahal semua baju sudah saya masukkan ke dalam space maker, namun terpaksa harus dibongkar lagi juga.

Setelah bongkar-timbang-bongkar-timbang lebih dari 10 kali, akhirnya saya harus pasrah dengan timbangan koper yang mantap di angka 32 kg. Seingat saya dulu saat pulang dari Belgia menggunakan Garuda Indonesia, ada kebijakan dari beberapa maskapai yang memperbolehkan kelebihan bagasi maksimum 2 kg dari batas everyday. Ya sudah, saya dengan percaya diri bahwa Thai Airways akan berlaku sama dengan Garuda Indonesia.

Untuk mengakali isi koper check-in yang sudah 32 kg, saya terpaksa harus membawa 3 tas besar ke dalam kabin untuk mengangkut sisa barang yang tidak muat. Bayangkan, saya harus membawa 1 koper kabin ukuran 55L, satu tas backpack ukuran 44L, satu tas tangan berisi laptop, serta tas kecil yang menggantung di pundak ke dalam kabin! Oh my!!

**in step with April 2019, Thai Airways hanya memberikan bagasi 20kg bagi tiket berkode L/V/W. Kecuali untuk tiket yang dipesan sebelum 31/4/2019, ketentuan lama masih berlaku.

Proses take a look at-in

Sehari sebelumnya, saya sudah check-in online via website mereka. Selain check-in, penumpang juga bisa memilih kursi dan makanan khusus maksimum 24 jam sebelum terbang. Karena sudah memilih kursi sebelumnya, saya kosongkan saja request makanan.

Saat menimbang bagasi di konter check-in, petugas konter mengatakan kalau koper saya kelebihan bagasi 2 kg yang artinya sudah overweight. Petugas tersebut juga menawarkan jika saya ingin membayar kelebihan bagasi senilai 50 USD per kilo. Karena sayang duit, saya pun keluar dari konter dan berpikir untuk menaruh 2 kg barang ke tas yang akan dibawa ke kabin.

Brian dan Louise yang saat itu ikut mengantar, sampai heran kenapa saya balik lagi ke belakang padahal urusan koper belum selesai.

"It's overweight 2 kilogram," kata saya.

"Cannot we just pay for it?" tanya Brian.

"No, Brian. It's okay. Saya keluarkan saja isinya."

"No, no, no. I will help you," kata Brian mantap sambil menuju konter check-in kembali.

Meskipun Brian berusaha untuk nego 2 kg ke petugas konter yang ganteng itu, tapi tetap saja akhirnya kelebihan bagasi harus tetap dibayar. Kata si petugas, takutnya akan ada masalah saat di Bangkok menuju Jakarta nanti. Thank you, Brian!

Untung saja, petugas konter hanya sibuk mengawasi koper take a look at-in sehingga tas-tas yang akan saya bawa ke kabin, aman! Bayangkan kalau si petugas ikut memeriksa berapa banyak tas kabin saya, bisa-bisa sama saja membeli tiket baru ini namanya.

In-flight service

Pesawat kali ini menggunakan formasi kursi 3-3-three untuk kelas ekonomi. Tapi karena tidak ingin bersikutan dengan banyak orang, saya memilih kursi nomor 39 di dekat lavatory yang memang dikhususkan untuk 2 orang saja.

Selain katering, tahun ini kursi kelas Ekonomi Thai Airways juga dinobatkan sebagai kursi nomor 3 terbaik di dunia. Badan saya yang tidak terlalu tinggi merasa super comfy karena banyaknya space yang tersedia di kursi berukuran 32" ini.

Meskipun repot di awal karena harus mengangkut koper kecil dan backpack ke atas kabin, tapi karena saya memilih kursi di dekat jendela, jadinya masih banyak ruang tersedia untuk menaruh tas lain. Satu hal lagi yang saya suka, kursi Thai Airways terdapat senderan kaki di depan dan belakang yang sangat berguna untuk merilekskan kaki saat tidur. Walaupun saya memilih kursi paling belakang di kabin tersebut, namun kursi tetap bisa disandarkan maksimal.

Di sisi kursi juga terdapat colokan USB untuk mengecas hape. Selain earplugs, penumpang kelas ekonomi juga mendapatkan selimut dan bantal berwarna ungu khas Thai Airways. Sayangnya, hiburan selama di dalam pesawat tidak terlalu oke. Genre film dan musiknya tidak satu selera dengan saya. Jadi selama perjalanan, saya kebanyakan tidur.

Oh iya, saya cukup amazed dengan jumlah penumpang Thai Airways yang kala itu kebanyakan didominasi pasangan beda negara, ceweknya Thai, lakinya bule. Kebanyakan dari mereka ceweknya cantik dan muda, lalu si laki sudah kelihatan tua. Hmm.. liburan ke rumah mertua? :p

In-flight meal

Karena sedang mengikuti application food regimen vegetarian, saya memang biasanya memesan menu khusus sebelum keberangkatan. Plusnya, makanan tersebut akan diantarkan terlebih dahulu saat kita berada di dalam pesawat. Jadi daripada kelamaan menunggu pramugari membagikan makanan, saya biasanya sudah mulai menyuap makanan duluan.

Untuk penerbangan kali ini, saya memang sengaja tidak memesan makanan karena siapa tahu kursi saya bisa di- upgrade seperti kasusnya Air France dan KLM dulu. Hehe. Gambling sih memang, tapi boleh juga dicoba. Meksipun tidak mendapat upgrade di penerbangan kali ini, tapi saya cukup puas dengan pelayanan di kelas ekonomi.

Menu makan malam ayam kari dengan piring porselen

Sarapan pagi omelet dan sosis sapi

Sialnya, saat proses pembagian makan malam saya malah ketiduran. Bangun-bangun, saya sudah mendapati banyak penumpang yang malah selesai menyantap makanan mereka. Sekitar 15 menit kemudian, saya memencet bel dan bermaksud meminta pramugari membawakan makanan saya.

"Can I get my food?" tanya saya.

Pramugari Thailand ramah itu pun hanya menjawab tanpa memberikan opsi, "maaf, makanan kami hanya tersisa babi."

Waduh!

"Kamu tidak makan babi? Bagaimana kalau mie?"

Saya tersenyum tapi ciut dan ragu.

"Tunggu ya, coba kami periksa dulu."

Sekitar five menit kemudian, si pramugari datang lagi dan memberi kabar gembira kalau masih ada menu ayam kari di pentry. Tanpa babibu, langsung saya iyakan. Ya daripada makan mie.

Transit di Suvarnabhumi

Secara keseluruhan, saya sebenarnya cukup puas dengan pelayanan di kelas ekonomi Thai Airways kali itu. Pramugarinya ramah, muda, dan sigap, kursinya enak, meskipun makanannya...Ya, cukup okelah.

Tapi kerepotan masih terus berlanjut saat transit di Suvarnabhumi. Untuk naik ke raise dan pemeriksaan barang pun, antriannya puaanjang sekali! Saran saya, tidak perlu pakai sepatu aneh-aneh, cukup kets ringan atau ballerina saja. Malas sekali kan harus copot sana sini dulu.

Karena hanya memiliki waktu transit 2 jam, saya tidak sempat keliling bandara dulu. Pun begitu, saya tidak tertarik. Badan saya rasanya pegal-pegal semua membawa banyak tas kabin. Penerbangan pun belum usai, karena saya harus menuju Jakarta dan Palembang untuk rute selanjutnya.

Saya tidak kecewa dengan penerbangan kali ini, namun saya akan berpikir dulu kalau harus naik Thai Airways lagi. Capek di jalan dan transit di bandara itu, lho!

Tips Mengurus Aplikasi Izin Tinggal Au Pair Norwegia|Fashion Style

UPDATE 14 DESEMBER 2019!! (Mohon baca catatan kaki di bawah)

Setelah memutuskan untuk jadi au pair lagi di Norwegia , bagian yang paling penting dan menarik selanjutnya adalah proses aplikasi visa dan surat izin tinggal. Berbeda dengan aplikasi visa au pair Belgia dan izin tinggal Denmark , persiapan dokumen ke Norwegia menurut saya adalah yang termudah dan simpel.

Tanpa harus legalisasi dokumen dan terjemah ini itu, semua dokumen bisa diakses secara on line. Penyerahan berkas pun tidak harus ke Jakarta seperti halnya pembuatan visa negara lainnya. Selain melalui VFS Global di Jakarta, dokumen dapat diserahkan langsung ke Konsulat Jenderal Norwegia di Medan atau Denpasar.

Bosan selalu bolak-balik Jakarta untuk mengurus visa, saya akhirnya memilih terbang ke Denpasar sekalian mengunjungi teman dan jalan-jalan. Asiknya, karena lagi-lagi ketemu keluarga angkat via Energy Au Pair, semua dokumen yang dibutuhkan sudah diarahkan langsung oleh pihak agensi via email. Jika ketemu keluarga angkat tanpa agensi pun, semua dokumen yang diperlukan dengan mudah bisa diakses via website UDI .

Beberapa hal lain yang perlu diperhatikan:

1. Biaya visa

Karena semua dokumen harus diakses through on line, au pair diwajibkan untuk membayar uang aplikasi sebesar 3200 NOK* saat registrasi di internet site UDI. Untuk sistem pembayaran, hanya bisa dilakukan menggunakan kartu kredit dan debit. Kalau memang tidak ada kartu kredit atau debit, coba saja diskusi ke keluarga angkat untuk minta dibayari dulu. Saya juga melakukan hal yang sama ke keluarga angkat di Oslo dan dengan sigap mereka senang hati membantu. Tak jarang juga, lho, keluarga angkat di Norwegia bersedia membayari biaya aplikasi ini secara gratis.

2. Terjemahan dokumen

Di bagian checklist dokumen, sebenarnya tidak ada syarat dokumen terjemahan ke bahasa Inggris atau Norwegia. Tapi untuk jaga-jaga, boleh juga menambahkan ijazah ataupun akte kelahiran yang sudah diterjemahkan. Meskipun tidak ada dalam persyaratan, saya menambahkan dua dokumen tersebut sebagai pelengkap.

Three. Surat kuasa

Saat melakukan registrasi online dan sudah terkonfirmasi, ada dua dokumen yang akan dikirimkan ke email; nota pembayaran dan surat kuasa. Jika tidak menggunakan jasa agensi saat bertemu dengan keluarga angkat, surat kuasa bisa dikosongkan. Atau bisa juga diganti dengan data host family agar mereka juga ikut dikabari sejauh mana proses aplikasi kita.

Four. Dokumen yang diperlukan

Setelah registrasi online, kita bisa mendapatkan checklist dokumen yang harus kita persiapkan. Beberapa dokumen yang tidak disertakan di dalam checklist juga ikut saya sertakan berdasarkan saran dari Energy Au Pair.

  • Paspor yang masa berlakunya lebih dari 12-24 bulan. Kalau seandainya kita berencana tinggal di Norwegia selama 24 bulan, namun paspor akan expired 18 bulan ke depan, maka UDI hanya bisa menyetujui masa tinggal kita hingga 15 bulan saja. Jika ingin memperpanjang kontrak hingga pas 24 bulan, kita harus mengganti paspor dulu saat di Norwegia dan membuat aplikasi perpanjangan permit baru.
  • Fotokopi data diri paspor dan semua halaman yang sudah ada cap imigrasi
  • Cover letter dari application portal yang sudah ditandatangani
  • 2 Lembar foto terbaru berlatar belakang putih ukuran 3.5 x 4.5 cm
  • Surat kontrak pertukaran budaya yang ditandatangani kedua belah pihak. Tanda tangan host family tidak harus asli atau boleh salinan dari email.
  • Sertifikat lulus kursus bagi host family
  • Fotokopi data diri paspor host parents
  • Checklist UDI yang sudah diisi dan ditandatangani
  • Power of Attorney
  • Nota pembayaran biaya aplikasi
  • Fotokopi terjemahan akte kelahiran (opsional)
  • Fotokopi terjemahan ijazah pendidikan terakhir (opsional)

Dokumen tambahan:

  • Kalau kita akan tinggal dengan single parent, si ibu atau ayah asuh harus menyertakan dokumen yang menerangkan seberapa persen hak mereka terkait hak asuh anak.
  • Kalau host family memiliki au pair yang sekarang tinggal dengan mereka, sertakan surat pernyataan dari host family yang menerangkan kapan kontrak au pair tersebut selesai.
  • Kalau kita apply di negara bukan Indonesia, harap menyertakan juga fotokopi ID card yang berlaku 6 bulan terakhir di negara kita berdomisili.

Lihat kan, semua dokumen bisa disiapkan dengan mudah tanpa harus terjemah ataupun dilegalisasi dulu. Lalu setelah semua dokumen lengkap, selanjutnya adalah menyerahkan ke bagian konsuler atau visa application center untuk diproses. Berikut tempat di Indonesia yang menerima aplikasi*:

VFS Schengen Visa Application Center (JAKARTA)

Alamat: Kuningan City Mall 1st Floor Jl. Prof. DR. Satrio Kav. 18, Setiabudi, Kuningan, Jakarta

Telpon: +62 21-3041-8705

Email: information.Nrid@vfshelpline.Com

Note: Tidak perlu membuat janji temu untuk menyerahkan dokumen

Konsulat Jenderal Norwegia (BALI)

Alamat: Segara Village Hotel Jl. Segara Ayu, Sanur, Bali

Telpon: +62 361-2822-23

Email: norwegianconsulatebali@yahoo.Com

Note: Jam buka hanya dua kali seminggu (Selasa & Kamis 10.00-13.00). Tidak perlu membuat janji temu, namun disarankan untuk menghubungi konsulat via email atau telpon untuk mengonfirmasi kedatangan.

Konsulat Jenderal Norwegia (MEDAN)

Alamat: Jl. Dewa Ruci No. 38, Medan

Telpon: +62 61-457-0012

Email: grace_i_lee@yahoo.com

Note: Sila membuat janji temu terlebih dahulu sebelum menyerahkan dokumen

Hari Selasa, ditemani Anggi, seorang karib mantan au pair di Belgia, kami bermotor menuju kawasan Sanur dan berhenti di hotel Segara Village yang sangat dekat dengan pantai. Dari patung Kencana di depan, lokasi Konjen Norwegia berada di belakang patung persis di sebelah kanan. Bangunan yang seukuran kamar hotel itu terlihat disulap jadi kantor konsulat bergabung dengan Konsulat Jenderal Swedia dan Finlandia.

Saat kami datang, pintu kantor ditutup sedikit rapat hingga saya dan Anggi sedikit ragu mengetuk. Seorang petugas konsulat, Ibu Marie-Louise, sedang berbicara serius dengan cowok bule yang setelahnya saya yakin adalah orang Swedia.

Setelah menunggu sekitar 20 menitan di luar, si ibu membuka pintu dan mempersilakan saya masuk. Beberapa pertanyaan sederhana sempat ditanyakan dalam bahasa Indonesia fasih, seperti tujuan membuat visa, sudah pernah ke Eropa atau belum, dan pertanyaan pendek tentang profil keluarga angkat. Karena si ibu sudah mahir sekali berbahasa Indonesia, tidak perlu repot-repot bicara bahasa Inggris.

Si ibu mengecek lembar demi lembar dokumen saya dengan sangat hati-hati. Tidak ada yang perlu saya lakukan selain duduk mantap. Ketika semua dokumen selesai dicek, si ibu mengatakan kalau ada tambahan biaya senilai 50 ribu rupiah yang harus dibayar sebagai ongkos kirim dokumen ke Kedubes Norwegia di Jakarta. Konsulat hanya menerima uang tunai, jadi harap disiapkan terlebih dahulu karena mesin ATM agak jauh dari hotel.

Karena akan diproses di Jakarta, Ibu Marie-Louise memberikan opsi jika paspornya sudah selesai ingin diambil di Jakarta atau Bali. Saya jawab saja, di Bali.

That's it! Proses pengecekan dokumen oleh petugas konsulat berlangsung kurang dari 10 menit. Tidak ada proses interview resmi ataupun biometrik. Setelah menyerahkan uang ongkos kirim, saya langsung pamit.

Satu minggu setelahnya, saya sedikit bingung kenapa belum ada email konfirmasi dari UDI yang mengatakan kalau aplikasi saya sudah diterima. Harusnya, setelah dokumen diserahkan ke VFS ataupun konsulat, beberapa hari kemudian akan ada email dari UDI yang menyatakan aplikasi sudah mereka terima dan sedang diproses.

Ragu, saya pun menelpon Kedubes Norwegia di Jakarta untuk menanyakan status aplikasi saya. Karena bagian visa hanya dibuka Senin-Kamis jam 14.00-16.00, saya harus menelpon pihak kedubes dua kali.

Seorang petugas mengangkat telpon saya dan mengatakan kalau mereka belum menerima berkas aplikasi dari Bali. Huhu. Padahal sudah seminggu, tapi dokumen saya belum dikirimkan. Pihak kedubes di Jakarta hanya menyuruh untuk bersabar, karena biasanya dokumen dari konsulat akan dikirimkan bersamaan dengan dokumen lainnya. Lagipula, saat saya datang ke Bali, minggu tersebut memang sedang libur Galungan dan Kuningan. Mungkin karena itulah dokumen saya tertahan disana lebih lama.

Empat minggu setelah menyerahkan dokumen di Denpasar, saya baru dapat konfirmasi email dari UDI yang menyatakan kalau aplikasi saya sudah mereka terima. Tahap selanjutnya adalah menunggu mereka memproses aplikasi lalu membuat keputusan. I still have another 4 weeks. Semoga kabar visa saya sudah bisa diketahui sebelum awal tahun. Soalnya sedikit deg-degan karena di Eropa akan libur panjang Natal dan Tahun Baru.

Catatan:

Cerita di atas merupakan pengalaman mengurus aplikasi di konsulat jenderal di Bali, Indonesia. Mungkin proses sedikit akan berbeda jika mengurus aplikasi di luar Indonesia ataupun di luar Bali. Contohnya, akan ada tambahan biaya servis sebesar 200 ribu Rupiah jika menyerahkan dokumen via VFS di Jakarta.

*UPDATE!!*

Per 1 Januari 2020, biaya aplikasi au pair yang di-submit (termasuk jika ganti keluarga) akan naik jadi 8400 NOK atau sekitar 13 jutaan. Nominal yang wow sekali kan ya? Coba bicarakan ke host family kalau bisa menanggung setengah biaya tersebut demi kelancaran visa.

Per 1 April 2019, uang saku au pair di Norwegia naik jadi 5900 NOK sebelum pajak. Uang saku ini sifatnya mengikuti peraturan imigrasi UDI. Jadi meskipun au pair sudah tanda tangan kontrak dan menyetujui uang saku minimum seperti tahun lalu, per April harus ikut naik sesuai keputusan UDI.

Cerita saya di atas merupakan pengalaman di tahun 2017, yang mana beberapa persyaratan tidak berlaku lagi. Per 1 Agustus 2019, semua dokumen yang masuk (visa atau izin tinggal) HANYA BISA DIANTARKAN LEWAT VFS DI JAKARTA karena konsulat jenderal tidak menerima lagi segala permohonan. Semua aplikasi yang masuk ke VFS akan diantarkan ke Kedubes Norwegia di Bangkok untuk diteruskan ke UDI.

Sunday, June 21, 2020

Tips Kencan Terbaik dengan Cowok Korea |Fashion Style

Selama jadi serial dater di Belgia dan Denmark, hampir semua cowok yang saya ajak jalan adalah para bule berhidung mancung dan berkulit putih pucat. Pernah satu kali, saya berkenalan dengan cowok Vietnam yang lahir dan besar di Hungaria, lalu diajak berkencan ke satu pub di Lyngby. Sayangnya, meskipun sama-sama Asia, saya merasa tidak nyaman karena si doi kebanyakan hanya bicara tentang dirinya sendiri. Boring!Blacklist dari kencan kedua!

Awal tahun tadi, saya yang masih aktif buka-tutup OKCupid mendapatkan satu pesan dari cowok berakun mainstream "Asian_Guy". Sudah namanya terlalu norak, fotonya pun hanya satu. Benar-benar tidak menarik perhatian. Fotonya juga tidak saya buka dengan jelas.

Tapi karena pesannya cukup jenaka dan berbeda, saya niat juga bertukar pesan dengan dia. Cowok asli Korea yang sudah lama tinggal di Amerika tersebut ternyata sedang berada di Kopenhagen karena urusan bisnis. Alih-alih mengajak kenalan, si cowok yang bernama Sung-kyung itu malah minta rekomendasi saya tempat makan dan minum yang oke di Kopenhagen. Lha, memangnya saya tourist information?

"Kamu betul-betul hanya minta rekomendasi atau ada unsur kencan di balik pertanyaan itu?", tanya saya yang berharap akan diajak kencan. Uhukk. Murahan.

"Minta rekomendasi. Soalnya saya bingung dengan sistem kerja di Denmark. Pulang kantor, orang benar-benar langsung pulang. Saya ajak nongkrong dulu, mereka tidak mau. I have no friends to talk or just drink with after working."

"Yaudahlah, saya temani! Rabu malam ya," tawar saya yang sebenarnya ikut kasihan dengan si doi.

Sebenarnya malas juga ucuk-ucuk datang ke Kopenhagen di hari kerja, apalagi malam. Tapi karena memang di hari itu saya ada kelas desain di kota, makanya masih ada waktu sebentar menemani si Korea minum-minum.

Dari setelan fotonya yang formal dan juga lingkup kerjanya yang terlalu profesional, saya mengajak Sung-kyung minum-minum ke bar koktail favorit saya, Bar 7, yang fancy dan tidak jauh dari hotel dia menginap di pusat kota. Karena memang janjian di Rabu malam, banyak sofa kosong yang bisa bebas dipilih. Coba kalau datang kesini saat akhir pekan, duh, berdiri saja susah.

Sekitar 10 menit menunggu, saya melihat seorang cowok yang celingak-celinguk dari luar bar mencari pintu masuk. Agar tidak terlihat terlalu memperhatikan, saya langsung baca menu dan pura-pura tidak tahu saat dia masuk.

"Uhmm, sorry, are you Nin?" tanya Sung-kyung mendekati sofa saya. Sangat mudah memang menebak saya yang mana, karena hanya saya sendiri yang berparas Asia di bar saat itu.

"Oh, hello, hi. Yes, I am Nin," kata saya sambil menjabat tangannya.

Iya, jabat tangan. Terkesan terlalu kaku dan profesional kan? Body language Sung-kyung menunjukkan jarak yang memang hanya sebatas jabatan tangan saat bertemu orang baru. Oke.

Sung-kyung duduk berhadapan dengan saya di sofa depan tanpa melepas jaketnya terlebih dahulu. Matanya hanya segaris tanpa lipatan, mirip orang Korea asli. Badannya tinggi tegap, meskipun sedikit berisi. Rambut halusnya dibiarkan tak tersentuh gel sehingga membuat poni-poni kecil jatuh menutupi dahinya. Suer, Sung-kyung terlihat super imut dan jauh dari ekspektasi saya.

"Are you really 31?" tanya saya menyangsikan keimutan muka dan gayanya yang masih seperti abege.

"I am. Tapi tidak cuma kamu yang bingung, saya malah dibilang seperti anak umur 17 tahun waktu perkenalan diri di kantor. Huhu."

Oke. Saya hanya punya waktu satu jam setengah menemani Sung-kyung minum. Obrolan yang tadinya kaku, akhirnya mulai mencair saat kami mulai sedikit terbuka tentang kehidupan pribadi. Sung-kyung pun sempat mengomentari tentang gaya kerja orang di kantornya serta bebasnya bermesraan di Denmark . So cute!

Yang saya suka juga, karena Sung-kyung sudah lama sekali tinggal di Amerika, jadi aksen Amerikanya begitu kental dan sangat enak didengar. Suaranya pun renyah tapi tegas.

Entah kenapa, meskipun baru kenal Sung-kyung 3 hari, tapi dia sudah bisa menggambarkan sifat cowok Korea yang memang sedikit mirip dengan yang ada di drama. Selain super perhatian dan lucu, Sung-kyung juga tidak rela membiarkan saya membayar bon minum. Doi pun sampai berulang kali minta maaf kalau sudah mengganggu waktu saya menemani dia minum-minum.

Aaahhh ~

Wednesday-winter night in Copenhagen, it's so melting and warm.

Kamis malam adalah malam kedua saya menemani Sung-kyung minum-minum di kota. Rencana kami selanjutnya adalah menuju bar lain tak jauh dari Bar 7. Tapi karena Denmark sedang diguyur salju dari sore, akhirnya kami batalkan rencana itu. Sung-kyung menawarkan opsi lain untuk minum-minum di bar hotel tempat dia menginap saja.

Bayangkan, sampai jam 10 malam, salju tak kunjung reda hingga menutupi hampir semua ruas jalan di pinggir kota. Saya juga seperti maju mundur akan datang atau tidak. Tapi demi minuman gratis, saya pun langsung pasang jaket, lalu meluncur bersepeda ke stasiun kereta menuju Kopenhagen. Astaga, murahan.

Sung-kyung sudah menunggu di lobi saat saya datang. Karena sudah cukup terbuka di kencan pertama, Sung-kyung tidak segan membantu membawakan jaket saya saat kami pindah sofa. Doi pun sengaja mengunduh banyak permainan untuk drinking games malam itu.

"Come on! Tujuan kita malam ini kan minimal tipsy," katanya memberi semangat gila.

Kalau dihitung-hitung, kami mungkin sudah memesan lebih dari 10 gelas koktail dari bar hotel. Semuanya dia yang bayar.

Tidak hanya sampai disitu. Takut kelaparan di tengah malam, saya dan dia belanja dulu ke supermarket 24 jam yang super dekat dengan hotelnya. Layaknya emak-emak, Sung-kyung juga  menyuruh memilih semua makanan dan minuman yang saya suka untuk dibawa ke hotel. Lagi-lagi semuanya dia yang bayar. Tapi ujung-ujungnya saya cuma memilih satu kaleng cider saja. Sementara dia, kembali mengisi keranjang belanjaan dengan bir kalengan dan ciki-cikian.

"Cuma satu? Ambil deh dua!" katanya saat melihat saya memasukkan satu kaleng cider ke keranjang.

Duh, baiknya, Bang.

Saat mulai lelah karenatipsy, Sung-kyung mengajak istirahat di kamarnya sekalian menunggu pagi. Dengan sopan juga, dia membiarkan saya melemparkan badan ke kasur twin di sebelahnya. Tidak seperti para bule yang dengan leluasa buka baju di kamar, doi malah permisi ke toilet saat mengganti celana dan baju. Doi juga sampai sengaja menawari saya baju dan celana santai, serta dengan anehnya, memberikan sikat gigi baru untuk saya pakai malam itu.

"I know, it's weird," katanya.

Ini yang saya suka dengan cowok seperti dia, super inisiatif! Tanpa harus bertanya atau disuruh dulu, kelakuannya kadang sulit diprediksi. Selain sangat gesit memesan minuman, Sung-kyung juga tidak malu membawakan tas, memegangi gelas saya, hingga benar-benar peduli dengan hal-hal kecil, seperti menggantung blus saya dengan rapih ke lemari padahal blus tersebut sengaja saya letakkan di lantai.

Dengan posisi tiduran di lain kasur, kami mengobrol lagi tentang si doi yang katanya lebih suka Cina ketimbang kampung halamannya di Korea. Cewek-cewek Korea terlalu kurus katanya. Orang-orang disana juga terlalu obsesif dengan fashion, muka yang sempurna, serta badan-badan super ramping yang faktanya sama sekali tidak menarik perhatian.

"Di Amerika, saya biasanya pakai baju ukuran M-L. Di Korea, banyak baju tidak muat untuk saya. Kalaupun muat, ukurannya XL atau XXL. Bayangkan!"

Duh, kasihan si abang buntet.

Lucunya, saat saya suruh bicara bahasa Korea, Sung-kyung langsung menutup wajahnya dengan selimut lalu berbisik dengan aksen Korea yang super cute.

"Sorry, I am so shy saying something in Korean."

Aahhh ~ ^.^

Sung-kyung juga mengatakan kalau saya adalah cewek Indonesia pertama yang dia kencani. "Most of the time, I only date Korean girls," katanya.

"Tapi nih ya, menurut kamu, kalau seandainya kamu tinggal di Kopenhagen, do you think we could be together?" tanya saya mengharap. Maaf, efek tipsy.

"Maybe. It could be possible, though quite tough. But my parents hate non-Koreans."

Doi cerita kalau orang Korea di Amerika sebisa mungkin menikah dengan sesama orang Korea juga untuk mempertahankan tradisi dan kultur. Bagi orang Korea, kalaupun harus dengan kebangsaan lain, kemungkinan untuk berpacaran ataupun menikah hanya untuk orang-orang top three; Korea, Jepang, dan Cina. Jadi mereka menganggap, orang-orang yang muka dan kebudayaannya satu rumpun mereka sajalah yang pantas mendampingi hidup ke depannya.

Apa, maksudnya tidak ada possibility begitu? :b

Meskipun hanya jalan dan mengobrol selama beberapa hari dengan cowok Korea-Amerika ini, tapi saya merasa bahwa kencan terbaik cuma dengan si doi. Sung-kyung yang sangat sopan, masih membawa unsur ketimuran, inisiatif, perhatian, dan juga super lucu, membuat saya lupa tentang betapa magisnya pesona bule.

He knows well how to treat and respect Asian girls, or am I just infatuated?

Tips Kuliah S2? Nanti Dulu!|Fashion Style

Saya sebenarnya salut dengan para mantan au pair Indonesia yang meneruskan kuliah di Eropa selepas masa au pair mereka berakhir. Fakta memang, bahwa au pair bisa dijadikan batu loncatan untuk tinggal di Eropa lebih lama. Antusiasme teman-teman au pair itu pun sebenarnya layak diacungi jempol karena kebanyakan dari mereka kuliah dengan uang pribadi.

Meskipun embel-embelnya kuliah di luar negeri dan memakai uang sendiri, namun jangan salah, banyak juga dari mereka yang bukanlah dari keluarga golongan kaya. Kemauan mereka yang gigih serta tekad yang kuat untuk tetap tinggal di Eropa, membuat mereka rela sekolah sekalian kerja banting tulang mencukupi kehidupan sehari-hari. Berat memang. Namun banyak juga yang beruntung mendapatkan dukungan ethical dan finansial luar biasa dari keluarga di Indonesia.

Lalu saya sendiri, apa tidak niat meneruskan kuliah Master di Eropa?

Sejujurnya, sangat niat. Dulu, sebelum kenal au pair, tinggal dan menempuh pendidikan di luar negeri adalah impian saya sejak lama. Saat masih berumur eleven tahun, saya bahkan sudah bermimpi untuk SMA ataupun kuliah di Jepang.

Setelah lulus dari Universitas Sriwijaya, saya pun kembali mencari cara bagaimana bisa keluar negeri sekalian studi. Tapi karena IPK pas-pasan dan bahasa Inggris masih berantakan, akhirnya saya batalkan rencana tersebut. Niatnya saat itu memang mencari beasiswa. Tapi sudahlah, saya tahu diri karena saingannya lebih hebat-hebat.

Pindah ke Eropa dan tinggal selama beberapa tahun, membuat saya tahu bahwa kuliah di luar negeri sangat possible meskipun IPK dan bahasa Inggris pas-pasan. Banyak kampus di Eropa yang menawarkan uang kuliah yang murah hingga gratis. Syaratnya, kita mesti ikut kelas berbahasa lokal seperti yang ada di Belgia, Belanda, Prancis, Jerman, ataupun Finlandia.

Banyak teman-teman au pair yang malas pulang ke Indonesia, akhirnya lanjut kuliah di Eropa karena memang kesempatannya sangat terbuka dan ada. Lalu, apakah saya tidak tergiur untuk kuliah juga dan stay di Eropa lebih lama?

Sayangnya, tidak. Ada beberapa alasan yang akhirnya membuat saya mengurungkan dulu niat melanjutkan Master meskipun kesempatannya terlihat ada.

1. Kuliah itu melelahkan

Saya tidak pernah bosan belajar, bahkan selalu terbuka dengan ilmu-ilmu baru. Tapi saya sempat mengalami naik turun saat S1 dulu karena salah jurusan. Kuliah itu full teori. Belum lagi S2, semakin mendalami teori. Kalau harus melanjutkan kuliah hanya karena ingin tinggal di Eropa lebih lama, saya rasa akan buang-buang waktu saja. Kecuali saya kuliah untuk mendalami bidang tertentu yang berhubungan dengan profesi, why not?

Lagipula, bukankah tujuan akhir dari kuliah itu juga ujung-ujungnya mencari pekerjaan? Enak, kalau dia kuliah memang ingin mendalami bidang tertentu yang menunjang profesi yang sudah dimiliki atau akan dimilikinya. Just go for it!Lha, kalau masih meraba-raba seperti saya?

Saat berkencan dengan Bunny , seorang cowok Denmark, saya ada di posisi ketika dia sedang sibuk mengerjakan tesis. Selesai tesis, doi pun harus berada lagi di masa-masa mencari pekerjaan, membuat cv dan cover letter yang berbeda, mencari lowongan, lalu mengirimkan surat lamaran. "That's the most boring process!" katanya.

Belum lagi persiapan wawancara, ditolak sana-sini, hingga akhirnya tetap terus berusaha mencari. Doi sudah dapat pekerjaan sekarang, meskipun bukan pekerjaan yang sesungguhnya dia harapkan.

Jadi intinya, kuliah itu capek. Belum lagi lulusnya, masih stres harus cepat dapat pekerjaan.

2. Saya sudah berniat independen

Ibu saya sebenarnya sudah berniat menyekolahkan saya lagi sampai S2 di Indonesia. Namun saya katakan tidak. Bagi saya, kewajiban beliau menyekolahkan cukuplah hanya sampai S1 saja. Terima kasih banyak. Terlalu banyak beban yang beliau sudah tanggung di rumah. Saya ini belum bisa menghasilkan apa-apa, masa iya ingin minta duit disekolahkan lagi.

Makanya saat wisuda S1, saya katakan ke ibu, kalaupun harus lanjut S2 lagi, saya tidak ingin pakai uang sendiri atau merepotkan orang lain. Setidaknya harus beasiswa, agar saya bisa fokus belajar tanpa stres mencari uang kesana kemari. Sudah tidak fokus, kecapekan, yang ada belajar tidak maksimal. Belajar itu tidak mudah dan fokusnya bukan foremost, lho.

Three. Tujuan S2 itu untuk apa?

Jujur, kalau saya S2 hanya untuk menambahkan gelar atau takut pengangguran, saya tidak usah capek-capek mengejar gelar tersebut. Bagi saya, kuliah S2 akan dirasa penting jika memang profesi impian membutuhkan ilmu yang tinggi, contohnya menjadi dosen ataupun hakim. Lagipula, kebanyakan tempat kerja sebenarnya lebih mempedulikan pengalaman kerja ketimbang titel yang sudah disahkan di selembar kertas.

Banyak juga teman-teman saya yang dapat posisi bagus di Google, Momondo, ataupun Bjarke Ingels Group (BIG) karena pengalaman kerja mereka yang oke. Kebanyakan dari mereka juga hanya sekolah hingga S1 saja.

Di Eropa, banyak juga lapangan pekerjaan yang mencari orang-orang dengan skill dan pengalaman kerja tinggi tanpa harus memenuhi kualifikasi Master dulu. Anak-anak muda di Denmark pun baru mulai kuliah S1 saat mereka berumur 25 atau 27 tahun, tapi hebatnya sudah pernah magang dan kerja dimana-mana selepas SMA.

Lagi-lagi, saya belum melihat apa guna tujuan melanjutkan S2 untuk saya ke depannya.

Four. Pendidikan yang tinggi akan membuka banyak kesempatan pekerjaan

Tentu saja! Tapi tunggu dulu, di Indonesia itu ada banyak sekali lulusan S2, apalagi di luar negeri. Teman saya, Ieva, sudah hampir 9 tahun tinggal di Denmark lalu menyelesaikan kuliahnya hingga S2. Karena jurusannya terlalu mainstream, Internasional Business, jadi doski pun mesti saingan dengan para orang lokal ataupun orang asing pencari kerja lainnya. Padahal doski lancar bicara 3 bahasa asing, lho. Sempat stres tidak kunjung dapat pekerjaan yang oke, akhirnya Ieva memilih pulang ke negara asalnya di Latvia.

Semakin tinggi gelar, biasanya akan tinggi juga ekspektasi terhadap posisi dan gaji. Boleh memang. Tapi kalau cuma lulus saja sih gampang. Yang sulit itu, bagaimana menjadi lulusan S2 yang berkompeten, pandai dan cerdik menghadapi pasar, lalu bisa menyumbangkan ide dan kontribusinya ke tempat kerja.

5. Mending jadi pelajar ketimbang au pair

Oke, jadi pelajar di Eropa statusnya jelas, "pelajar". Bisa dapat diskon pelajar kemana-mana. Kalau ditanya sedang apa di Eropa, jawabnya enak dan dipandang keren, "sedang studi". Ruang lingkup pertemanan pun luas dan intelektual. Meskipun harus dikejar deadline tugas dan ujian, namun student life sebenarnya sangat "aman" dan seru. Menjadi pelajar di Eropa juga membuka kemungkinan jika setelahnya lulus, bisa bekerja disana atau negara maju lainnya. Meskipun sih, peluang ini juga tidak besar.

Tapi bagi saya, tidak ada yang salah juga dengan rencana orang untuk memutuskan jadi au pair. Au pair itu santai. Makan dan tempat tinggal gratis. Hari libur dan waktu senggang banyak. Dikejar deadline? No. Uang saku, tiap bulan dikasih. Sekolah, tetap. Au pair juga punya ujian, tugas, dan ruang lingkup pertemanan di sekolah dan komunitas—bagi yang berjiwa sosial. Au pair pun memiliki kesempatan saat free time untuk travelling, bersosial, ataupun sekedar leye-leye sehabis mengurus rumah. Tetap seru juga kan?

Saya sebenarnya sudah pernah mencoba mengirimkan berkas beasiswa ke salah satu kampus di Cina jurusan Media & Komunikasi—bukan Eropa malah. Kuliahnya hanya satu tahun, berbahasa Inggris, kampus internasional, dan lokasinya di Suzhou. Saya diterima bersyarat, karena nilai IELTS saya belum memenuhi kualifikasi jurusan. Mereka memberikan batas waktu apakah saya ingin tes IELTS lagi atau ikut kursus intensif disana.

Semakin dipikir, dipikir, dipikir lagi, ternyata saya menemukan jawaban bahwa tujuan saya selanjutnya bukan untuk studi. Ketimbang menghabiskan waktu di bangku kuliah, saya lebih prefer mencari lapangan pekerjaan atau dream job yang sesuai passion. Saya juga percaya diri kalau sebenarnya saya mampu menemukan pekerjaan di Indonesia tanpa memiliki gelar pendidikan yang selevel S2.

Impian saya pun tidak neko-neko lagi. Tuhan sudah mengabulkan mimpi saya untuk tinggal dan belajar di luar negeri. Jadi, kalau memang tidak ada kesempatan tinggal lebih lama, saya tidak takut untuk pulang ke Indonesia.

Kalaupun ingin stay di Eropa lebih lama, saya tidak ingin kuliah tapi bekerja. Kalaupun harus kuliah lagi, saya sudah berniat untuk mengambil fakultas desain hanya untuk menambah ilmu saja. Eh tapi, ilmu desain juga tidak harus dipelajari lewat bangku formal. Banyak sekali desainer yang belajar otodidak lewat komputer mereka. So, memang tidak ada alasan kuat kan mengapa saya harus lanjut S2? (;

Tips Hah, Jadi Au Pair Lagi?!|Fashion Style

"Mau sampai kapan?"

"Belum wisuda juga jadi pengasuh anak, Nin?"

"Gils! Kuat deh jij!"

Begitu tanggapan beberapa orang teman setelah tahu rencana saya untuk jadi au pair lagi di Norwegia. Tak tanggung-tanggung, langsung teken kontrak selama dua tahun!

Saya sebenarnya sudah eneg jadi au pair. Bukan apa, pekerjaan yang statis menyangkut anak-anak dan rumah tangga, membuat saya sebenarnya sudah menyerah di tahun ketiga. Setelah melewati tahun pertama di Belgia dan dua tahun di Denmark, kadang saya terus-terusan berpikir, apalagi yang akan saya cari di Eropa. Pengalaman, sudah. Jalan-jalan, sudah tiap bulan. Uang, sudah lumayan untuk tabungan. Lalu?

Keputusan untuk jadi au pair lagi ini pun sebenarnya tidak ada dalam rencana besar saya sebelumnya. Karena beberapa orang teman ada yang sudah menetap di Bali, saya sudah mantap sekali ingin menyusul mereka dan mencari kerja saja di Pulau Dewata. Belum tahu ingin kerja apa, tapi setidaknya di pikiran saya sudah tidak ada lagi keinginan untuk stay di Eropa.

Tiket ke Denpasar dari Palembang pun hampir saja saya book meskipun masih tinggal di Denmark. Niat saya saat itu memang sudah kuat untuk settle down di negara sendiri. Toh, saya tetap percaya diri dengan kemampuan yang sudah saya miliki.

Tiga minggu sebelum pulang ke Indonesia, saya iseng-iseng mengaktifkan kembali profil au pair di Energy Au Pair. Tidak hanya itu, saya juga mencoba mengirimkan beberapa cv ke perusahaan penerbangan di Timur Tengah diluar pekerjaan menjadi pramugari. Seperti para pencari kerja umumnya, semua cv saya ditolak.

Mengingat profil di Energy Au Pair juga sudah aktif kembali, setiap minggu setidaknya ada 8 hingga 10 profil keluarga angkat yang dikirimkan ke saya. Dasar memang niatnya tidak ingin jadi au pair lagi, hampir semua profil pun saya tolak. Total lebih dari 20 profil keluarga angkat, saya hanya tertarik dengan 6 keluarga.

Lucunya, dari 6 profil itu pun, hanya 2 keluarga yang juga tertarik pada saya. Hingga akhirnya, cuma satu keluarga yang benar-benar ingin interview via Skype. Dang! What should I do?! Bukankah niat saya hanya iseng?

"Just do your best, Nin," kata Adel, seorang teman au pair.

"Jangan kepedean dulu. Ini baru tahap wawancara. Tidak usah banyak ekspektasi dan be yourself saja," saran Anggi, seorang teman mantan au pair yang menetap di Bali, ketika tahu saya mulai ketar-ketir.

Singkat cerita, si ibu yang kala itu mewawancarai saya, sangat terkesan dan ingin secepatnya mengundang saya ke Oslo. Padahal seminggu lagi adalah jadwal keberangkatan saya ke Indonesia. Tapi si keluarga ini tetap kekeuh ingin mengundang untuk satu malam sekalian berkenalan dengan anak, anjing bernama Pia, serta au pair mereka yang sekarang.

Menurut saya, keluarga yang sangat niat mendatangkan calon au pair ke rumah mereka, sudah bisa dipastikan akan menerima au pair tersebut. Meskipun perasaan saat itu masih kalut, tapi tetap saya penuhi saja undangan mereka ke Oslo. Gratis juga ini, sekalian jalan-jalan. Soal diterima atau ditolak, bisa dilihat nanti.

Lalu, benar saja, setelah menginap di rumah mereka dan esok paginya diajak minum kopi di kafe,....

"Nin, my husband and I already talked last night, we like you blablablaaa..."

Nah lho!

"Just take your time to think first. Semua keputusan ada di kamu, tapi kita sangat berharap kalau kamu bisa menjadi bagian dari keluarga kami tahun depan," kata si ibu menutup obrolan di bandara siang itu.

Satu minggu setelah pulang dari Indonesia, akhirnya saya mantap memutuskan untuk menjadi bagian dari keluarga mereka. Sejujurnya, tawaran dari keluarga di Oslo ini cukup menggiurkan. Bukan hanya soal uang saku, tapi juga pengalaman yang akan mereka hadiahkan. Anak dan anjing mereka yang lucu dan jinak, lokasi rumah yang berada di sentral kota, serta kelembutan keluarga ini, membuat saya juga menyukai mereka.

Memang, lagi-lagi saya akan berkutat dengan urusan anak dan rumah tangga, lagi-lagi saya akan jauh dari keluarga, lagi-lagi saya akan kesepian dan terpaksa harus mengulang bersosialisasi dengan teman baru. Namun, selagi masih muda, saya rasa, kembali ke Eropa bukanlah hal yang akan sia-sia.

Then again, the decision has made. Semoga ini yang terbaik.

Saturday, June 20, 2020

Tips 7 Kebiasaan Makan Keluarga Eropa|Fashion Style

Selain table manner, orang Eropa juga sangat perhatian terhadap nilai gizi yang terkandung di suatu makanan hingga hanya makan makanan berkualitas tinggi. Berbeda dengan orang Indonesia yang menjadikan meja makan hanya sebagai tempat menaruh makanan, membuka tudung saji saat akan disantap, lalu pergi ke ruang nonton sambil makan.

Selama tinggal dengan banyak macam keluarga angkat, tidak hanya nilai gizi yang saya pelajari dari mereka, tapi juga kebiasaan makan orang Eropa yang sebenarnya sangat sederhana dan tidak berlebihan. Dari kebiasaan makan mereka ini juga, saya bisa menyimpulkan mengapa orang-orang di benua ini awet tua alias tetap sehat menginjak usia di atas 70-an. Kuncinya, pola makan yang seimbang.

1. Mulailah dengan yang manis

Jangan bayangkan bubur ayam, nasi goreng, nasi uduk plus oseng tempe, ataupun mie kuah, ada di meja makan orang Eropa saat sarapan. Karena nyatanya, mereka tidak ada waktu membuat semua makanan itu di pagi hari.

Sarapan di Eropa termasuk mudah dan paling lama hanya 15 menit. Selain roti, sereal, ataupun yoghurt, banyak juga keluarga angkat saya yang menambahkan telur, sosis, atau salami di menu sarapan mereka. Di negara Nordik, para anak dan orang dewasa juga suka sekali menyantap oatmeal (atau mereka menyebutnya bubur) saat sarapan. Lucunya, sarapan di Eropa selalu dimulai dengan sesuatu yang manis-manis, seperti susu, kopi, teh, jus, cokelat, buah-buahan segar, ataupun selai buah.

Sewaktu jalan-jalan ke Italia, saya dan seorang teman mampir ke kedai kopi yang sudah buka jam 6 pagi. Betul saja, dibandingkan menemukan sandwich yang mengenyangkan, kami hanya melihat orang kanan kiri menyantap brioche atau roti manis ditemani secangkir espresso.

2. You can only be king once

Ada sebuah pepatah diet mengatakan, "breakfast like a king, lunch like a prince, and dine like a pauper." Di Eropa, prinsip ini justru malah kebalikannya. Orang Eropa cenderung makan sangat sedikit di pagi hari dan menyantap makanan berat saat malam.

Tidak seperti di Indonesia yang selalu menyajikan nasi panas dari pagi ke malam hari plus lauk berminyak nan mengenyangkan, orang Eropa 'hanya boleh' menyantap masakan hangat sekali dalam sehari. Bisa saat makan siang ataupun makan malam.

Kalau sarapan selalu dimulai dengan yang manis, siang hari menu diganti dengan makanan yang asin seperti sandwich ataupun salad. Malam hari, salah satu anggota keluarga biasanya masak dan menyiapkan sesuatu yang lebih berat seperti steak, nasi, pasta, burger, ataupun pizza.

Bagi orang Eropa, dinner menjadi sangat penting bagi tubuh mereka setelah lelah beraktifitas di luar. Makanya demi memanjakan si tubuh, makan malam biasanya dibuat lebih komplit dan berat ketimbang dua waktu lainnya. Hebatnya lagi, orang Eropa sudah terbiasa menyantap makanan fresh from the oven setiap hari meskipun harus repot memasak dulu. Ide tentang menyimpan makanan lalu besoknya dimakan kembali biasanya hanya bertahan selama satu hari, lalu sisanya dibuang.

3. Snacking is not so chic

Sejujurnya, saya jarang sekali menemukan orang yang suka ngemil di Eropa. Apalagi ngemil kue-kue manis ataupun chiki sambil nonton tv. But, of course, they do eat chips! Konsep ngemil ini pun biasanya hanya dijadikan disiplin saat hari kerja. Di akhir pekan, orang Eropa biasanya lebih relaxed memanjakan lidah dengan sesuatu yang manis seperti cokelat ataupun permen.

Ngemil pun sebenarnya dipandang tidak elegan oleh orang Prancis. Selain mengandung lemak dan kolesterol tinggi, tentu saja mereka sangat membatasi asupan snack yang dimakan untuk menjaga tubuh agar selalu tetap ramping dan sehat.

Orang tua Eropa juga sangat membatasi anaknya untuk tidak sembarangan makan snack di luar jam makan besar. Kuantitas ngemil harus dihitung agar anak tidak ketagihan. Kebiasaan mendisiplinkan anak seperti ini awalnya saya rasa terlalu "jahat" sampai harus membatasi apa yang anak ingin makan. Tapi lama-kelamaan, saya mengerti, kalau anak terus-terusan diberi makanan manis tanpa dikontrol, mereka akan sangat mudah obesitas dan manja ingin minta lagi dan lagi.

Dibandingkan ngemil keripik kentang, orang Eropa lebih suka mengunyah biskuit buah-buahan, muesli bar,ataupun kue beras. Kalau pun belum kenyang, mereka juga biasanya menyajikan dessert yang wajib ada setelah makan malam. Jenis dessert pun kebanyakan sehat, seperti yoghurt plus berries, sepotong kecil fruit cake, atau berbagai jenis keju berkualitas tinggi.

Lalu bayangkan di Indonesia, betapa gurih dan nikmatnya ngemil bakso saat hujan, pempek dengan cuko pedas-pedas, ataupun martabak manis penggugah selera. Uuups, belum kenyang, lanjut Nasi Padang!

4. Makanlah pada tempatnya

Saya akui, kedisplinan orang Eropa di meja makan harus diacungi jempol. Lapar tidak lapar, kalau waktunya memang sedang makan bersama, semua anggota keluarga wajib berkumpul di meja. Tradisi seperti ini hebatnya bisa saya rasakan setiap hari sewaktu tinggal di Belgia.

Di Indonesia, momen makan bersama keluarga sangat sulit saya dapatkan kecuali di bulan Ramadhan. Saat buka puasa pun, kadang beberapa anggota keluarga ada yang sengaja memisahkan diri agar bisa nonton television. Padahal makan bersama seperti ini adalah waktu yang paling tepat bertukar cerita dengan anggota keluarga hingga menguatkan rasa kebersamaan.

Satu lagi yang menarik soal betapa hebatnya fungsi meja makan. Para anak-anak balita di Eropa dibiasakan sudah mandiri di meja makan mereka sendiri tanpa harus dipangku orang tua. Saat usia mulai satu bulan, parahost kids saya sudah 'ikut makan' bersama keluarga di meja. Menginjak satu tahun, kursi khusus pun dipersiapkan di samping kursi orang tuanya. Lalu di usia 2 tahun, saya sudah bebas tugas membantu menyuapi anak-anak ini, karena nyatanya mereka sudah bisa makan sendiri.

5. No phone allowed

Jujur saja, saya sangat benci melihat ada ponsel di meja makan. Meskipun sedang makan sendiri di restoran , saya berusaha terlihat acuh dengan keberadaan ponsel tanpa takut mati gaya.

Orang Eropa sangat menikmati waktu kebersamaan di meja makan hingga bisa saja mengobrol begitu lamanya. Keberadaan ponsel memang tidak jauh dari mereka tapi selalu absen saat makan malam. Sangat tidak sopan sibuk dengan ponsel masing-masing ketika semua anggota keluarga sedang menyantap hidangan.

Kembali ke Indonesia, entah kenapa, saya selalu melihat meja makan orang di restoran dipenuhi dengan ponsel. Belum lagi ide mencuri WiFi gratisan yang alih-alihnya dipakai untuk upload foto sebelum atau setelah makan. Puncak asiknya adalah saat selesai makan, lalu semua orang seperti terburu-buru mengeluarkan ponsel dan sibuk melihat apa yang terjadi di sosial media.

Satu kali, host mom saya di Denmark, pernah mengangkat telpon dari seseorang di jam makan malam. Mungkin karena keasikkan, si ibu sampai tidak terlalu memperhatikan anak kembarnya yang memang sedang sakit lalu muntah-muntah. Bukannya langsung sigap dengan si kembar, si ibu masih asik saja mengobrol dengan orang di seberang telpon.

Host dad saya akhirnya langsung sigap mengangkat si kembar dari kursi dan marah-marah ke si istri karena bisa-bisanya masih sibuk dengan hal lain. Sehabis dari kejadian itu, saya tidak pernah lagi melihat si ibu memegang ponsel ketika jam makan malam.

6. Rumput tetangga memang lebih hijau

Pertama kali ke Denmark dan ikut masak dengan host dad, saya sebenarnya heran sekaligus bosan selalu kebagian tugas memotong sayuran segar untuk dibuat salad. Tidak hanya sekali dua kali, tapi setiap hari! Sampai-sampai saya pernah menyindir mereka, "you always eat salad."

Si bapak yang memang lebih cerewet, bertanya kepada saya jenis sayuran apa saja yang biasa orang makan di Indonesia. "We never eat raw veggies, only the overcooked ones," kata saya.

Semakin lama tinggal dengan mereka dan ikut komunitas vegan, akhirnya saya paham bahwa orang Eropa memang tidak pernah lepas dari sayuran segar sebagai pelengkap makan. Dibandingkan dengan sayuran layu yang ada pada menu makanan orang Indonesia, orang Eropa lebih banyak mendapatkan vitamin dari sayuran mentah sebagai salad. Ibarat sambal bagi orang Indonesia, kehadiran sayuran di tiap menu makanan menjadi hal wajib bagi orang Eropa.

Di Belgia, host kids saya termasuk yang sangat pilih-pilih makanan dan sayuran. Jenis sayuran pun hanya terbatas ke kembang kol, wortel, ataupun brokoli yang di-steam. Sementara di Denmark, host mom saya sudah membiasakan anak-anaknya diberi wortel, kacang polong rebus, ataupun jagung sejak usia 2 tahun. Meskipun tak semua anak mau makan sayuran, tapi semua orang tua mereka percaya bahwa menghadirkan sayuran di piring sejak dini bisa perlahan menumbuhkan awareness mereka saat beranjak besar.

7. Always obey the rules!

Selain kebiasaan makan di atas, saya juga sangat menyukai pelajaran table manner sederhana yang saya lihat dari keluarga Eropa. Contohnya dengan mengajarkan anak memegang pisau di sebelah kiri dan garpu di sebelah kanan. Saya kesulitan makan dengan tangan kiri, akhirnya jadi terbiasa memegang garpu di sebelah kanan.

Para anggota keluarga pun dilarang meninggalkan meja makan duluan jika anggota keluarga lainnya masih ada yang makan, kecuali sedang ada hal penting yang harus segera dilakukan. Anak-anak yang rewel dan tidak ingin makan di meja, selalu didisiplinkan terlebih dahulu untuk bersikap well-mannered di meja makan.

Saat ada pesta besar pun, makanan yang sudah disajikan di atas meja sepatutnya dihabiskan agar tidak mubazir. Jadi bagi yang masih lapar, sungguh dipersilakan kembali mengisi piring mereka dengan makanan yang masih ada. Tenang saja, tidak akan ada yang menyindir berapa kalori yang sudah dimakan. Jadi, tidak perlu malu jika ingin menambah.

Karena begitu tegasnya pelajaran tentang kedisplinan dan kebersamaan ini lah, makanya kebiasaan makan ini tetap kuat di segala generasi. Seorang teman saya, Michi , wajib sekali makan tiga kali—tapi tidak lebih—sehari karena memang seperti itulah normalnya bagi dia. Bunny , cowok Denmark yang saya kenal, meskipun bangun tidur jam 5 sore, dia tetap memulai hari dengan makanoatmeal layaknya di pagi hari.

Jadi, kalau kita mengatakan bahwa orang Eropa cenderung individualis dan tidak terlalu family minded, sebenarnya salah juga. Orang Eropa justru sangat relaxedhingga betah berlama-lama mengobrol sekalian menikmati momen kebersamaan. Tidak hanya diajarkan untuk menikmati makanan, ada juga ungkapan-ungkapan dalam bahasa lain, contohnya Denmark, seperti "Tak for mad (terima kasih atas makanan yang sudah dibuat)" yang diucapkan setelah makan untuk menghargai jasa si pembuat makanan.