Wednesday, May 27, 2020

Tips 6 Hal yang Saya Rindukan Sejak Menjadi Au Pair|Fashion Style

Berkesempatan tinggal di luar negeri adalah salah satu pengalaman transformatif dan tak terlupakan seumur hidup. Bisa karena melanjutkan sekolah, mendapatkan pekerjaan di perusahaan asing, ikut suami migrasi, atau pun jadi au pair. Namun apapun alasannya, semua orang mengakui bahwa hijrah ke luar negeri itu tidak mudah . Kamu harus berlatih untuk adaptasi dengan budaya baru, memaksa diri untuk belajar bahasa lokal, berpikiran lebih terbuka dengan perbedaan, sampai memaklumi rasa kesepian.

Saya sendiri merasa beruntung selama hampir 4 tahun ini jadi au pair dan bisa tinggal di 3 negara berbeda di Eropa. Tapi jadi au pair di Eropa tentu saja tidak selamanya bahagia. Di Eropa Utara, kebanyakan orang lokalnya terkenal tertutup dan tidak terlalu membuka kesempatan untuk berteman dengan orang baru. Jadi pelajar atau ikut suami masih lebih baik, meskipun sama-sama homesick, namun setidaknya setiap hari bertemu teman di kelas ataupun ada yang bisa diajak mengobrol di rumah.

Jadi au pair, kamu harus tinggal dan bekerja di rumah saja selama 5-6 hari per minggu. Yang bisa diajak main hanya host kids atau hewan peliharaan. Yang bisa diajak bicara hanya host parents yang belum tentu juga nyaman dijadikan teman. It's so frustrating!

Tahun keempat saya di Norwegia adalah yang terberat. Bayangkan saat kamu harus pindah-pindah negara dalam waktu 4 tahun, bukannya menyenangkan malah melelahkan. Sudah nyaman dengan satu negara dan punya teman dekat, harus pindah lagi ke negara lain. Apalagi kesempatan bertemu orang baru di Oslo tidaklah selebar saat saya di Kopenhagen atau Brussels. Proses pencarian teman harus mulai dari awal lagi dan belum tentu juga langsung cocok.

Saya tak pernah menyesal dengan pengalaman yang pernah saya dapatkan di tiap negara selama menjadi au pair. Namun ada beberapa hal yang merasa hilang dan selalu dirindukan.

1. Berpikir kritis

Saya lulus kuliah S1 tahun 2014, lalu sebulan kemudian langsung berangkat ke Belgia dan jadi au pair untuk pertama kalinya. Saat itu saya betul-betul penat selepas wisuda dan bersumpah untuk tidak akan melanjutkan kuliah master. Hari-hari sebagai au pair saya lalui dengan ringan karena the first world problem hanyalah memikirkan kemana nongkrong weekend ini atau negara mana yang harus saya singgahi saat liburan.

Nyaris empat tahun kemudian, saya jenuh terus-terusan hidup manja dibawah naungan fasilitas mewah dari host family yang seringkali berdampingan juga dengan rasa hampa. Saya rindu teman kuliah yang dulunya obrolan kami tidak terbatas dari hal kecil seperti dosen rese hingga politik luar negeri. Sampai sini, topik terpanas hanyalah seputarhost family, urusan anak, ataupun cowok Tinder.

Terlalu lama jadi au pair juga membuat banyak kosakata bahasa Inggris saya ikut hilang karena setiap hari hanya membahas dapur dan anak. Pernah suatu kali diajak diskusi masalah imigran di Eropa, saya gagu karena bingung melemparkan kata-kata yang pas dalam bahasa Inggris. Setelah masa vakum lebih dari 4 tahun ini, otak saya sepertinya perlu diajak berpikir lebih mendalam agar tetap kritis dan bijak melihat masalah dari banyak sisi.

2. Teman dekat

Lingkup pertemanan au pair itu super sempit. Dari Senin sampai Jumat, bahkan Sabtu, kerjanya hanya di rumah mengurus anak dan rumah orang. Beruntung kalau host parents kita termasuk orang yang asik diajak cerita. Seringkali, host parents tak lebih dari sekedar 'bos' yang membuat kita segan dan menjaga jarak.

Kalau hanya cari teman hangout setiap minggu, mungkin bisa ikut salah satu event di Meetup atau Couchsurfing. Tapi menemukan teman sehati yang bisa diajak cerita dan mengerti dengan kondisi kita, itu yang susah. Apalagi saya sedikit picky memilih teman. Kenal boleh, tapi belum tentu besoknya orang tersebut saya ajak jalan. Saya juga bukan seperti para au pair Filipina yang terlalu nyaman dengan geng Filipinanya saja. Bagi saya, kebanyakan teman Indonesia di luar negeri itu bisa jadi bumerang. Belum lagi kalau cekcok dan kebanyakan drama, duh, no way!

Makanya hidup au pair itu sebetulnya lebih banyak kesepiannya. Datang ke tempat kursus, belum tentu pulang-pulang membawa teman. Pun berniathaving fun dengan orang baru kesana kemari, belum tentu juga meninggalkan kesan setelahnya. Ujung-ujungnya hanya berteman dengan sesama profesi au pair saja. Bahkan cari pacar yang pengertian kadang lebih gampang ketimbang cari teman.

3. Being creative

Saya rindu menggambar, menjahit, atau membuat pernak-pernik lucu sebagai hobi untuk membunuh kejenuhan. Di Belgia dulu masih enak, bahan membuat kerajinan tangan masih mudah didapat dengan harga yang cukup terjangkau. Di Skandinavia, saya kadang takut merogoh kocek lebih dalam hanya untuk segulung benang jahit.

Anyway, sebetulnya jiwa kreatif saya mati bukan juga karena takut membuang uang. Tapi entah kenapa saya merasa kehilangan inspirasi dan motivasi. Terakhir kali merasa menjadi kreatif adalah tahun lalu, saat saya membuat mahkota kertas berbentuk kupu-kupu sebagai pelengkap saat Bachelorette Party seorang teman di Kopenhagen. Lantai kamar jadi berantakan dan penuh dengan guntingan kertas, but at the same time I found my soul.

Four. Privasi

Meskipun au pair katanya dianggap sebagai keluarga, faktanya kita tetaplahthe outsider. Saya pernah mengundang seorang teman ke rumah host family. Kamar saya letaknya di lantai dasar, sementara dapur dan ruang tamu di lantai dua. Karena saat itu sudah lewat jam makan malam, saya berinisiatif ke atas mengambil minum dan masak makanan untuk si teman ini. Tak disangka, ternyata si teman ikut menyusul ke atas karena katanya ingin ikut membantu.

Sadar ekspresi host parents saya tiba-tiba berubah masam saat si teman ada di dapur, saya suruh saja si teman ini turun dan menunggu di bawah. Benar saja, 10 detik kemudian host dad menghampiri saya dan mengatakan kalau hanya saya yang boleh menginjak ruangan inti. Jlebb! Padahal tidak ada aba-aba dari mereka sebelumnya apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama tamu saya datang.

Yang saya lihat, host family ini memang bukan tipe keluarga yang nyaman dengan orang asing. Tamu saya ya tamu saya, bukan tamu mereka. Selagi tamu saya bukan mereka yang mengundang, tamu saya tidak diperkenankan naik ke atas dan melihat-lihat isi rumah. Bahkan saat ituhost mom menyuruh kami makan di kamar saja. Bahh! Padahal siapa juga yang ingin makan di meja makan mereka.

Di satu sisi saya memahami kalau host family ini memang butuh privasi dan tidak ingin ada orang lain berkeliaran di rumah mereka. Tapi di sisi lain, saya rindu kenyamanan dan privasi diri sendiri yang tiada seorang pun berani melarang saya melakukan apapun. Kadang saya berpikir, daripada jadi live-in au pair, lebih baik memilih live-out. Meskipun hanya memiliki kamar sewaan sepetak murah, namun bebas mengundang siapa pun tanpa harus izin dulu. Tapi ya, impossible!

5. Karir

I wonder, what is my professional talent apart from highly skilled in changing the diapers or carrying the toddlers in one hundred and one styles?

What should I installed my CV whereas my previous (and modern) running revel in is just being an au pair?

Tahu kan, au pair itu sebetulnya tidak dianggap sebagai pekerjaan meskipun kita memiliki working permit. Di Skandinavia, meskipun kasusnya au pair dapat tunjangan dan mesti bayar pajak , tapi pekerjaan ini hanya diasumsikan sebagai pertukaran budaya saja. Selain itu, banyak orang tidak tahu au pair itu apa. Makanya menggambarkan au pair sebagai suatu pengalaman kerja profesional sebetulnya belum pantas. Apalagi kalau kita melamar pekerjaan di jabatan yang sama sekali tidak berhubungan dengan childcare.

Saat ini saya hanya menaruh posisi au pair pada "additional experience" di bawah "working experience". Daripada menuliskan detail pekerjaan sebagai tukang masak, jaga anak, dan cleaning lady, sebaiknya tulis di deskripsi kalau kita memiliki pengalaman di dunia internasional dalam menghadapi cross-cultural communication serta memiliki kemampuan beradaptasi dengan lingkungan atau budaya baru.

Au pair is a superb experience. But I couldn't get a job I need by means of simply picturing myself as a high professional au pair.

6. Rumah

Saya dan adik saya kebetulan memang sedang jauh dari rumah. Saya di Norwegia, sedangkan si adik sedang menyelesaikan studinya di Cina. Meskipun jenuh dan kesal juga dengan kelakuan orang Indonesia zaman sekarang, tapi kami tidak pernah membenci rumah dan selalu menanti pulang ke Indonesia.

No matter what, we call Palembang home . Kami selalu rindu kesederhanaan rumah , rindu makanan Palembang, rindu gerobak model di depan masjid, rindu Go-Jek, rindu menyetir, rindu joke ala wong kito galo, dan rindu juga teman atau keluarga yang rasa sayangnya tidak berubah meskipun ditinggalkan.

Ini fakta, lho! Saya pikir, setelah meninggalkan Indonesia selama 4 tahun, saya akan kehilangan banyak teman. Apalagi banyak sekali teman dekat saya dari SD hingga kuliah sudah menikah dan memiliki anak. Salutnya, meskipun tahu saya tidak akan pernah bisa datang di hari H, mereka tetap mau mengirimkan undangan nikah bahkan mencetak nama saya langsung di undangan tesebut. Terharu!

What might you leave out the most whilst leaving Indonesia?

Tips Pengalaman Pertama Ikut Emirates Open Day di Norwegia|Fashion Style

Meneruskan postingan bulan lalu , Sabtu pagi, jam 5.45 saya sudah bangun dan segera menyiapkan diri. Make up mesti on, rambut harus klimis dan rapih, serta tidak lupa membawa stocking cadangan dan pump shoes ke dalam tas. Sengaja sepatu ditaruh di dalam tas, karena kebesaran dan kurang nyaman dipakai menuju ke lokasi. Hari itu saya harus segera berangkat jam 7 pagi karena Open Day akan dimulai jam 8 tepat. Lalu betul saja, membawa stocking cadangan memang ide yang baik karena stocking yang saya pakai entah mengapa robek saat menunggu bus di halte.

Open Day diadakan di Radisson Blu Plaza Hotel yang hanya 4 menit jalan kaki dari stasiun utama Oslo. Saya sampai jam 7.40 lalu segera mengganti sepatu sesaat sebelum masuk hotel. Masuk ke lobi, saya mencari toilet untuk langsung mengganti stocking dan mengecek penampilan sebelum menuju ruangan rekrutmen yang berada di lantai 33.

Tiba di lokasi, saya langsung pasang senyum cemerlang dan menyapa beberapa orang yang sudah datang duluan. Seorang cowok menyarankan saya mengambil selembar kertas di atas meja yang berisi informasi mengenai pekerjaan sebagai pramugari Emirates. Empat menit sebelum acara dimulai, beberapa orang kembali berdatangan dan mulai bertegur sapa. Ada yang penampilannya all-out dan sangat formal, ada yang sangat casual, ada juga yang cuek memakai jeans dengan rambut terurai.

Jam 8 teng, kami dipersilakan masuk ke ruangan dan bertemu dengan satu ibu-ibu perekrut mantan pramugari Emirates yang sekarang tinggal di Dubai. Ternyata sampai akhir acara, hanya ibu tersebut yang akan menyeleksi pelamar. Dia menjelaskan hari itu akan jadi hari yang panjang karena Open Day dilaksanakan bersamaan dengan Assesment Day. Kalau lolos sampai tahap akhir, kandidat akan menjalani final interview yang sifatnya fleksibel karena dilakukan via online.

Setelah itu, kami ditunjukkan video cukup panjang tentang kehidupan di Dubai serta deskripsi pekerjaan sebagai pramugari Emirates. Si ibu juga mempersilakan kami bertanya berhubungan dengan isi video. Beberapa pertanyaan cukup banyak dilontarkan dan beruntungnya tidak ada yang menanyakan masalah gaji karena katanya bisa jadi red flag.

Berikut proses Open Day dan Assesment Day yang saya ikuti di Oslo.

CV Drop

Karena event yang diadakan adalah Open Day, maka semua pelamar hanya perlu datang tanpa harus register dulu di situs Emirates. Namun bagi pelamar yang pernah mengirimkan CV lewat OSM Aviation (agensi penerbangan di Norwegia) dan jadi shortlisted, akan dipanggil namanya terlebih dahulu untuk menyerahkan CV. Anehnya, meskipun sudah jelas di situs Emirates pelamar harus membawa CV dan 1 lembar foto, ibu perekrut tidak mempermasalahkan jika pelamar tidak membawa foto hari itu.

"Because you are here after all. So, I can see you," katanya.

Setelah semua nama yang jadi shortlisted dipanggil, kami yang belum pre-registered diizinkan mengantri untuk menyerahkan CV dan foto. Saat itu saya membawa foto full badan dan ukuran paspor, tapi saya hanya melampirkan foto ukuran paspor yang diselip dengan paper clip.

Tiba giliran saya, saya maju ke meja perekrut, tersenyum lebar, serta menyapanya "hi how are you?". Si ibu tersenyum ramah, melepaskan paper clip, dan menjepit si foto dengan staples. Lalu saya diberikan nomor urut berupa stiker yang harus dilekatkan di dada.

Dari CV drop inilah, saya tahu kalau peserta yang hadir saat itu ada fifty eight orang. Ada sekitar 6 pria yang datang, lalu sisanya semua pelamar wanita. Mereka juga tidak hanya asli Norwegia, tapi juga Korea, Cina, Filipina, Polandia, Lithuania, bahkan Pakistan. Dari hasil kenalan dengan beberapa orang, saya juga tahu kalau yang ikut Open Day saat itu banyak juga yang sedang berprofesi sebagai pramugari.

Group interest 1

Untuk proses yang pertama ini, kami dibagi menjadi 2 grup. Grup pertama dimulai jam 10 pagi, sementara grup kedua jam 11 pagi. Saya dapat grup kedua, sehingga masih punya spare time mengobrol dengan pelamar lainnya. Saat itu saya berkenalan dengan 2 cewek dari Korea Selatan serta 1 cewek dari Meksiko.

Karena giliran masih panjang, kami sepakat menuju kedai kopi dulu sambil mengobrol sebentar. Satu cewek Korea yang saya kenal, Kim, ternyata sudah 5 tahun kerja di Qatar Airways dan sekarang sudah menikah dan tinggal di Lysaker. Satu cewek Korea lain, Lee Lee, hanya datang ke Oslo khusus untuk ikut Open Day sebelum mengunjungi temannya di Islandia. Satu lagi, si cewek Meksiko, Sabrina, juga seorang pramugari dari maskapai penerbangan pribadi di Meksiko.

Mereka semua tipikal orang yang first-rate menyenangkan dan ramah. Banyak muka-muka jutek dan serius yang saya temui saat Open Day dan kelihatan sekali seperti tidak butuh teman bicara.

Tiba giliran di tes grup yang pertama, kami semua disuruh kembali masuk ke ruangan dan duduk secara melingkar. Tiap grup yang berisi 2 orang akan diberikan kertas bergambar satu benda lalu disuruh memikirkan, bagaimana benda tersebut dapat digunakan di dalam kabin. Saat itu tiap grup hanya memiliki waktu diskusi 3 menit saja.Think creatively yet cohesively!

Beruntungnya saya satu grup dengan Sabrina dan saat itu kami mendapatkan kertas bergambar BALON! Saya menyarankan menggunakan balon sebagai pengganti kertas atau plastik yang bisa digunakan untuk menaruh permen-permen kecil, lalu diberikan kepada anak-anak di dalam pesawat. Sementara Sabrina menyarankan kalau balon tersebut digunakan untuk menaruh permen lalu ditiup saja. Setelah berpikir sejenak five detik, dia mengubah pikirannya dan menyetujui kami memakai ide saya saja.

Tiap grup dipersilakan mempresentasikan hasil diskusinya selama 1 menit dan sebisa mungkin tetap bersikap kooperatif tanpa harus mendominasi satu sama lain. Tiap grup juga disarankan untuk menggambarkan satu ide saja agar presentasi tidak menjabar kemana-mana. Sabrina mengawali grup diskusi kami, lalu saya yang menambahi. Kami merasa melakukan a great job di putaran pertama karena terlihat kompak.

Selanjutnya, perekrut kembali memberikan kami satu kertas tambahan yang berisi nama-nama profesi. Tugas kami kembali mendiskusikan bagaimana orang di profesi tersebut dapat menggunakan benda yang sebelumnya sudah kami presentasikan dalam pekerjaan mereka.

Oh no, we got an 'Architect'! Saya dan Sabrina sempat blank selama beberapa detik memikirkan apa yang bisa arsitek lakukan dengan si balon. Lalu tiba-tiba saya berpikir menggunakan si balon untuk mengganjal kertas gambar si arsitek agar tetap terbuka lebar.

"Kita tahu kalau arsitek butuh kertas gambar yang besar saat menggambar. Tapi ada suatu ketika si arsitek tidak berada di kantornya dan menggambar di atas meja gambar. Makanya kita bisa menggunakan balon ini sebagai pengganjal di sisi kertas agar memudahkan si arsitek menggambar. Kita isi bebatuan ke dalam balon, lalu gunakan balon pemberat ini agar si kertas tetap bersih," kata kami.

Ffiiuuhh.. whatever the ideas were, we felt so happy because we were a team and did a great job!

CV Review

Selesai mempresentasikan ide per grup, masih dalam posisi duduk melingkar, kami dipanggil satu-satu ke depan untuk ditanyai tentang isi CV kami.

Si ibu menyapa saya dan menanyakan tentang gelar sarjana dari Indonesia serta apa yang saya lakukan saat ini. Sambil bertanya, si ibu menconteng kertas saya, "so, you are an au pair now?"

"Yes. That is a culture exchanging," kata saya mengganti perumpamaan kalau saja si ibu tidak tahu apa itu au pair.

"Wow! That is so interesting," katanya lagi.

Lima menit kemudian, setelah semua CV kami selesai di-review, si ibu menaruh kertas di atas meja untuk langsung kami lihat siapa saja yang lolos. Bagi yang nomor urutnya tertulis di kertas tersebut, harus menunggu di luar untuk mengikuti tes berikuntya.

Hanya ada 6 orang yang lolos dan nomor saya termasuk! Yeeesss!!!

Lee Lee juga lolos dan kami saling berpelukan. It felt like I found a friend in a sudden. Sayangnya Kim dan Sabrina tidak lolos grup putaran pertama ini dan kami tentu saja sangat kecewa. Yang membuat saya paling kecewa lagi, ada cewek Pakistan yang hanya menggunakan jeans dan sandal wedges ternyata lolos! So weird!

Group Activity 2

Dari fifty eight orang, hanya 12 orang yang lolos ke putaran kedua ini. Kami kembali disuruh masuk ke ruangan dan duduk secara melingkar. Si ibu memberikan kami selembar kertas pernyataan tidak ada tanda lahir dan tato yang terlihat di wilayah yang tergambar di kertas.

Lalu si ibu memanggil kami secara bergantian, menyuruh berjinjit dan menyentuh dinding yang tingginya 212 cm, serta mengukur tinggi badan. Setelahnya kami menuju meja si ibu lalu mengisi dan menandatangani lembar pernyataan tentang tato dan tanda lahir.

Untuk tes grup kedua ini mirip seperti role play. Kami diberikan kertas yang mendeskripsikan tentang posisi kami sebagai manager hotel yang bertanggung jawab dengan 6 pelanggan yang sudah menunggu di lobi. Karena semua kamar hotel di kota penuh, hanya ada 2 kamar kosong lagi di hotel kami dan kamar tersebut hanya boleh diberikan kepada 2 pelanggan yang menurut kami paling membutuhkan.

Ada 6 tipe pelanggan saat itu; The loyal customer, Fashion blogger, New-couple honeymoon, Politician, The exist customer yang kamarnya kebanjiran dan butuh kamar baru, serta Satu keluarga kecil yang anaknya rutin medical check-up di rumah sakit terdekat dari hotel tersebut. Kami diberikan waktu 10 menit untuk berdiskusi dan 1 menit presentasi. Si ibu perekrut berkeliling dan memperhatikan kami satu per satu untuk dinilai.

Saya menyarankan untuk memberikan kepada pengantin baru yang sedang honeymoon, karena ini akan jadi honeymoon pertama dan terakhir mereka. Mereka tidak akan mengulang honeymoon untuk kedua kalinya, jadi mereka harus diprioritaskan. Tidak ada yang setuju dengan saran saya, karena kebanyakan memilih si keluarga dengan anak kecil serta si pelanggan yang sudah menginap duluan di hotel tersebut.

Masing-masing orang kebagian waktu berbicara dan mengutarakan pendapat. Ada yang beberapa kali mengutarakan pendapatnya dan terlihat dominan, ada juga yang hanya sesekali berbicara sampai tidak terlalu diperhatikan. Tapi intinya kami berusaha sebaik mungkin mendengarkan satu per satu ide dan berusaha saling mengimbangi. Time is up! Selanjutnya kami diberikan waktu 1 menit mempresentasikan hasil diskusi.

Setelah selesai, kami disuruh keluar dan menunggu kembali karena hasil tes akan diumumkan dalam waktu 5 menit. Kabar yang saya dengar dari pelamar yang sudah pulang, hanya ada 3 orang yang akan lolos sampai final interview. Artinya, hanya akan ada peluang 1% untuk lolos. It was so tough indeed! Seorang pelamar pria memberikan kami semangat dan mengatakan kalau semua jawaban tidak ada yang benar atau salah.

"It is all up to them. If Emirates like you, they would hire you. That is all," katanya.

Lima menit kemudian si ibu perekrut keluar dan membawa hasil tes. Si ibu mengucapkan terima kasih atas kedatangan kami kesana dan menyuruh kandidat yang lolos tes untuk mengikuti tes selanjutnya. Benar saja, hanya ada 3 dari 12 orang yang lolos dan nomor saya tidak ada disana. It's a bit sad, but I was happy because at least I have tried.

Tiga orang yang lolos mukanya semua bule dan berambut pirang. Entahlah, mungkin karena tes di Norwegia, si ibu ingin mengambil kandidat yang mukanya mewakili Skandinavia. Tapi sebetulnya hanya satu cewek yang berasal dari Norwegia asli karena dua lainnya berasal dari Polandia dan Lithuania. Saya juga tidak kecewa karena penampilan 3 orang tersebut juga mewakili pramugari Emirates yang rapih dan konservatif. Yang saya ingat, mereka bertiga memang terlihat vokal dan straight to the point dalam menyampaikan opininya saat tes grup.

Lee Lee terlihat sangat kecewa dan tidak bisa menyembunyikan perasaan galaunya. Tapi saya tetap memberikannya semangat karena siapa tahu, suatu hari nanti, kami bisa bertemu kembali di kesempatan lain. She is a cute, gentle, and very nice girl! Kami juga sama-sama bangga, karena meskipun ini pengalaman pertama, tapi kami bisa sampai sejauh ini.

Sebelum Open Day, saya sudah mempersiapkan diri menonton YouTube dan membaca guidelines dan trik tentang pengalaman orang bagaimana bisa lolos saat Assesment Day. Saya sebetulnya sudah sedikit membayangkan bagaimana prosesnya nanti. Namun ternyata ada banyak keanehan yang terjadi di Oslo dan berbeda dari apa yang orang-orang sudah ceritakan!

1. Dari pengalaman orang, katanya salah satu peluang agar bisa lolos adalah dengan tersenyum lebar tanpa henti dari mulai hingga akhir acara. I have done it, but the fact spoke differently! Tiga orang peserta yang lolos, saya perhatikan wajahnya terlihat kaku dan biasa saja. Mereka juga tidak melemparkan senyuman sepanjang Assesment Day hanya untuk dilirik perekrut.

2. Kita tidak perlu sok sosial dan bertegur sapa dengan banyak orang karena ternyata the recruiter won't care. Apalagi kemarin hanya ada 1 perekrut yang selalu berada di dalam ruangan. Si ibu tidak tahu apa yang terjadi di luar ruangan dan tidak terlalu peduli apakah saya aktif atau pasif mengobrol dengan pelamar lainnya.

3. Jeans and sandals are totally 'ALLOWED'!!To be honest, it was a pretty weird experience for me! Sudah jelas bahwa pakaian yang harus digunakan saat Assesment Day haruslah konservatif dan formal. Pelamar wanita harus memakai business attire dan sepatu yang menutupi jari-jari. Yang saya perhatikan, ada dua cewek Pakistan dengan percaya dirinya melenggang dengan blus dan jeans biru serta setelan merah dari atas ke bawah. Anehnya lagi, mereka bisa lolos di tahap pertama. Padahal banyak cewek lainnya yang lebih rapih dan all-out. Katanya, pelamar yang tidak berpakaian sesuai dengan standar pramugari Emirates akan segera tersingkir saat CV Drop, namun kenyataannya tidak.

4.No bun is 'acceptable'! Selain pakaian harus konservatif, Emirates juga menginginkan pelamar wanita menyanggul rambut mereka dengan rapih saat Assesment Day. Faktanya, seorang cewek berkuncir acak-acakan bisa lolos juga di tahap pertama.

Five. Ketika terlambat, pintu terbuka lebar dan pelamar tetap diizinkan masuk. Ada sekitar 6 cewek lain yang saya lihat terlambat dan datang duduk di kursi paling belakang. Mereka percaya diri saja mengikuti rekrutmen dan tetap memiliki kesempatan menyerahkan CV. Dari pengalaman orang yang saya baca, pelamar yang terlambat datang tidak diizinkan masuk ke ruangan dan dipersilakan pulang.

What a weird Open Day in Oslo! Mungkin dua cewek Pakistan yang sempat diloloskan memiliki pengalaman sebagai pramugari di maskapai nasional Pakistan. Padahal yang saya perhatikan, penampilan mereka sangat casual dan attitude mereka juga sedikit angkuh.

Yang jelas, tiap negara memiliki sistem Open Day yang berbeda dan tergantung pula bagaimana perekrut melihat performa tiap pelamar. Saya bersyukur bisa ikut Open Day dan tahu bagaimana proses perekrutannya berjalan. Saya juga bahagia bisa bertemu kenalan baru yang sama-sama memberikan performa terbaik saat tes grup. Tahun depan, kalau Emirates kembali membuka Open Day di Oslo dan kebetulan saat itu saya libur, I don't mind to give a try one more time.

Till then, life must nevertheless move on!

Tips First Time Au Pair, Ke Negara Mana?|Fashion Style

Saya ingat betul ketika pertama kali membuat profil di Aupair World, saya begitu excited memilih banyak negara yang dituju tanpa pikir panjang. Tujuan utama saya saat itu adalah Selandia Baru, salah satu negara impian untuk bisa tinggal. Beberapa pesan pun saya kirimkan ke host family di Selandia Baru karena siapa tahu mimpi saya untuk bisa tinggal disana sebentar lagi terwujud.

Sangat sedikithost family dari sana saat itu, jadi saya kirimkan saja aplikasi ke semua profil keluarga yang ada. Sayangnya, semua menolak tanpa alasan. Hingga suatu hari, saya menerima penolakan dari salah satu keluarga yang mengatakan kalau orang Indonesia tidak bisa jadi au pair ke Selandia Baru. Duhh! Dari sana akhirnya saya lebih teliti lagi membaca satu per satu regulasi negara yang memungkinkan bagi pemegang paspor Indonesia.

Sebelum memutuskan memilih negara tujuan, berikut adalah daftar negara yang menerima au pair dari Indonesia;

  1. Australia (lewat Working Holiday Visa )
  2. Austria
  3. Amerika Serikat (Yes, it's possible! Baca serba-serbinya disini! )
  4. Belanda
  5. Belgia
  6. Denmark
  7. Finlandia
  8. Islandia
  9. Jerman
  10. Luksemburg
  11. Norwegia
  12. Prancis
  13. Swedia

Karena bingung dengan tujuan mereka, banyak email masuk dari para calon au pair baru yang menanyakan negara mana yang pas bagi first time au pair. Saya sebetulnya sudah pernah membahas ini di postingan Tips Pencarian Keluarga Angkat . Jika kamu tertarik, silakan baca postingan tersebut untuk lebih tahu plus dan minus negara tujuan, menurut pendapat saya.

Saya juga sempat menjabarkan Guide Bagi Calon Au Pair tentang negara terbaik berdasarkan uang saku dan jam kerja. Tolong jangan tanya lagi tentang kesempatan au pair ke Inggris, Spanyol, Italia, ataupun Irlandia, karena regulasinya tidak berlaku bagi pemegang paspor Indonesia. Kalau kamu memang berniat tinggal kesana, disarankan menggunakan visa pelajar dengan tujuan studi.

Ada 13 negara yang bisa dipilih berdasarkan minat, bakat, dan tujuan utama. Saya sarankan untuk memilih setidaknya 4 negara favorit agar kesempatan mendapatkan host family lebih besar. Jumlah keluarga yang membutuhkan au pair di Prancis tentu saja lebih banyak daripada di Luksemburg. Jadi daripada hanya fokus dengan satu atau dua pilihan negara, silakan buat daftar negara yang paling menarik minat kamu.

Perlu diingat juga, tiap negara memiliki regulasi umur tertentu bagi calon au pair. Di Belgia, maksimum umur au pair hanya sampai 25 tahun. Sementara Prancis, Belanda, Finlandia, dan Swedia memungkinkan sampai umur 30 tahun. Tiap negara juga sangat strict dengan peraturan yang hanya menerima first time au pair ke negara mereka, contohnya Swedia dan Finlandia.

Sekarang kembali lagi ke tujuan awal kamu jadi au pair untuk apa? Hanya untuk pengalaman saja kah, memperlancar bahasa kah, alasan kabur dari Indonesia kah, atau hanya pure jalan-jalan?

Kalau usia kamu masih di bawah 25 tahun, saya sarankan sebaiknya memilih Belgia sebagai negara pertama. Mengapa, karena negara ini ada di tengah-tengah Eropa yang memungkinkan kamu travelling dengan mudah ke negara tetangga lainnya. Selain itu uang sakunya cukup tinggi, tanpa pajak, dan waktu kerjanya hanya 20 jam per minggu (on paper). Urusan visanya memang sangat ribet. Tapi karena keribetan itulah, perjuangan kamu pertama kali ke Eropa jauh lebih terasa!

Negara terpopuler lainnya bagi au pair Indonesia adalah Belanda. Jadi kalau kamu ingin mudah mendapatkan makanan Indonesia atau penasaran dengan si tulip dan kincir angin, bisa juga memilih negara ini sebagai pilihan pertama. Jumlah keluarga yang mencari au pair pun lebih banyak dan kesempatan kamu bisa semakin besar.

Kalau ingin memperlancar bahasa asing, bisa langsung ke Jerman, Austria, atau Prancis. Jerman dan Austria mewajibkan calon au pair memiliki sertifikat bahasa terlebih dahulu. Jadi setidaknya kamu sudah memiliki modal dasar lalu tinggal mengasahnya saja di negara tujuan. Kedua negara ini hanya menerima au pair maksimum 26-27 tahun, so get your chance before too late!

Tertarik ke Eropa Utara? Silakan baca dulu postingan saya tentang Mitos dan Fakta Au Pair di Skandinavia sebelum kamu kaget dengan treatment kebanyakan keluarga angkat disana. Saingan mendapatkan keluarga lebih tinggi karena kebanyakan host family di Utara lebih mencari au pair Filipina. Tapi kalau memang sangat tertarik kesini dan ini adalah pengalaman pertama kamu, pilihlah Swedia yang lebih toleran dengan pendatang.

Setelah mantap memilih three-four negara tujuan, perjuangan paling panjang adalah mencari keluarga angkat. Kadang peruntungan kamu tidak memihak di negara favorit, tapi di pilihan terakhir. Tujuan utama saya dulu Prancis, tapi malah mendapatkan keluarga di Denmark.

Saran saya yang paling utama tentunya jangan malas mencari keluarga angkat di banyak situs. Keluarga di Eropa Utara terkenal tak mau rugi untuk mengambil au pair langsung dari Indonesia karena malas dengan lamanya pengurusan visa dan ongkos tiket yang mahal. Tapi banyak juga keluarga yang mau mencari sendiri dan tak segan membayar mahal au pair untuk didatangkan langsung dari negara asal. Kalau hanya mengandalkan satu situs saja, kesempatan bertemu keluarga seperti ini sangat kecil.

Saya dulu harus menunggu 5 bulan penantian, sebelum akhirnya berlabuh di Belgia. Sementara saat ke Denmark, saya mesti melewati 7 kali penolakan dahulu. Padahal posisinya sudah wawancara dan tinggal menunggu keputusan, lho. Jadi kalau kamu belum juga menemukan keluarga, jangan menyerah ya! Jangan juga terpaku dengan profil keluarga yang hanya mencari au pair dari negara Asia lain, contoh Filipina atau Vietnam saja. Pasang muka tembok dan tetap kirimkan pesan yang menyatakan kamu tertarik menjadi au pair mereka. My friend has tried this and it worked!

Baca juga tips dari saya bagaimana membuat profil yang bagus agar host family tertarik dengan apa yang kamu tulis! Sudah mendapatkan positive replies lalu diajak interview? Baca tulisan saya selanjutnya bagaimana mempersiapkan diri sebelum proses wawancara agar kamu tidak terlalu grogi.

Meskipun saya tidak boleh menggeneralisasi, tapi ada 10 Tipe Host Family yang Sebaiknya Kamu Mesti Pertimbangkan Kembali kalau kebetulan mendapatkan positive reply dari mereka. Tak ada yang bisa menebak bagaimana keluarga tersebut akan memperlakukan kamu nantinya. Tapi bagi saya, Keluarga Arab is a big no no setelah punya masalah dengan mereka di Belgia.

Whoaaa.. I have written so many blog posts! Jadi, jangan malas juga membaca sebagai bahan referensi! Good luck ☺️

Referensi lain:

10 Alasan Mengapa Kamu Harus Jadi Au Pair di Usia 20-an

Apa Motivasi Para Gadis Muda Jadi Au Pair?

Jadi Au Pair ke Irlandia, Spanyol, dan Italia

Tuesday, May 26, 2020

Tips Persiapan Ikut Tes Pramugari di Oslo|Fashion Style

Kali ini saya akan sedikit cerita pengalaman yang berbeda saat tinggal di Eropa. Dari zaman lulus SMA dulu, saya memang sudah penasaran dan ingin coba ikut tes pramugari. Tapi belum kesampaian karena sibuk daftar masuk kuliah. Saat kuliah, tertarik ikut tes Lion Air, Garuda Indonesia, dan AirAsia di Palembang, tapi tidak percaya diri karena muka saya saat itu masih jerawatan. Apalagi katanya maskapai lokal sangatstrict dengan penampilan sampai tidak boleh ada bekas luka sedikit pun.

Keinginan ingin ikut tes ternyata masih ada sampai lulus kuliah. Tapi sumpah, saya tetap tidak berani ikut tes pramugari maskapai lokal karena sudah minder duluan. Dari masalah berat badan sampai bekas luka yang saat itu masih nampak. Ingin ikut tes maskapai internasional, tapi semuanya selalu diadakan di Jakarta. Jujur saja, saya malas terbang mahal-mahal dari Palembang ke Jakarta hanya untuk Walked-in Interview. Ya kali langsung lolos. Kalau tidak, rugi di ongkos.

Pindah ke Eropa, entah bagaimana ceritanya saya lalu berlangganan berita terbaru seputar jadwal rekrutmen maskapai Timur Tengah di portal Kara Grand . Setidaknya kalaupun ada rekrutmen di negara yang saya akan tinggali, biasanya ongkos ke kota besar tidak semahal tiket PP Palembang-Jakarta.

Gara-gara sering dikiriminewsletter setiap bulan, saya jadi tahu maskapai mana yang akan mengadakan rekrutmen di seluruh kota di dunia. Waktu di Belgia, sempat ada rekrutmen untuk maskapai Etihad, tapi tesnya di Brussels. Karena saya tinggal jauh dan transportasinya sangat terbatas di akhir pekan, saya lupakan. Dua tahun lalu di Denmark sempat ada juga rekrutmen Qatar Airways, tapi saya belum berani daftar karena tesnya diadakan saat hari kerja.

Bulan lalu saya menerima email langganan dari Kara Grand, Emirates akan mengadakan Open Day di 56 negara berbeda di Eropa dan salah satunya adalah di Oslo. Wow, this is the chance!

Saya sangat antusias karena akhirnya punya kesempatan juga untuk ikut tes pramugari disini. Apalagi yang saya pantau dari 3 tahun lalu, Norwegia bukanlah pilihan banyak maskapai Timur Tengah mencari awak kabin. Yang saya baca, hanya ada 33 personel asal Norwegia yang sekarang bekerja di Emirates. Berbeda dengan Swedia atau Denmark yang biasanya selalu mengadakan recruitment day sampai 4 kali setahun.

Kebetulan juga tes diadakan di hari Sabtu bertepatan dengan jadwal saya libur dan sedang berada di Oslo. FYI, saya hanya mendapatkan libur 2 kali akhir pekan (4 hari) dalam sebulan. Lokasi Open Day-nya pun di tengah kota dan hanya 15 menit naik tram dari tempat tinggal saya. Hmmm.. is this a sign?

Ada kekecewaan juga di awal bulan saat melihat di situs Emirates kalau Norwegia sempat dihapuskan dari jadwal rekrutmen. Katanya, Emirates sudah pernah beberapa kali membatalkan Open Day tanpa penjelasan satu hari sebelum atau saat hari H. Berita yang saya baca, tahun ini Emirates sempat membatalkan Open Day di Australia tepat dimana hari itu akan diadakan rekrutmen. Tidak ada yang pernah tahu alasannya karena semua otoritas Emirates.

Sedih lantaran Norwegia dihapus dari daftar, jadinya saya potong rambut sampai pendek. Haha! Saya juga kecewa karena sudah terlanjur membeli pump shoes untuk persiapan. Sepatunya saya beli secondhand, tapi masih sangat bagus. Sayangnya kebesaran dan tidak bisa ditukar ataupun dikembalikan. Nasib.

Dua minggu kemudian, tiba-tiba saya melihat komersial di Facebook kalau OSM Aviation akan mengadakan CV Drop Emirates di kantor mereka. Huh? Katanya tidak jadi.

Sebagai informasi, OSM Aviation itu seperti agensi penerbangan di Norwegia yang sering juga memberikan informasi lowongan kerja sebagai pilot atau pramugari. Mereka ternyata ditunjuk pihak Emirates untuk mengadakan CV Drop di kantor mereka. Jadi kita hanya disuruh datang, dandan yang rapih, lalu menyerahkan foto dan CV. Saya sangat tertarik, tapi waktunya bertabrakan dengan jadwal kerja saya. Mungkin karena banyak atau sedikit peminat, mereka sampai mengadakan 5 kali CV Drop event di akhir Agustus sampai awal September. Lagi-lagi, saya tetap tidak bisa datang.

Iseng-iseng buka situs Emirates, ternyata Norwegia ditambahkan kembali ke daftar dan sudah jelas lokasinya dimana. Yeay! Sebelumnya memang baru 'to be confirmed', makanya mungkin belum jelas apakah betul-betul akan ada Open Day atau tidak. Selain Norwegia, beberapa negara Eropa lain pun dimasukkan ke daftar, seperti Finlandia atau Serbia.It's gonna be a massive recruitment in Europe then!

Saya yang tadinya belum siap akhirnya langsung sigap mencari barang-barang lain yang saya butuhkan untuk foto dan Open Day. Bayangkan, karena saya kemarin sempat pulang ke Indonesia, saya sengaja tidak membawa banyak baju ke Norwegia. Padahal pakaian formal saya di rumah super lengkap. Tapi karena tiba-tiba ada acara ini, saya harus membeli outfit dari atas kepala sampai ujung kaki lagi.

Apa saja yang dibeli:

  1. Pump shoes 7 cm Tamaris - secondhand
  2. Blazer hitam Zara - secondhand
  3. Kemeja putih H&M - 'terpaksa' baru dan ini yang termurah
  4. Perlengkapan make up baru mulai dari foundation, concealer, hingga lipstik merah
  5. Stocking warna kulit 2 pasang - baru
  6. Ikat rambut sebagai pemanis karena rambut saya sudah pendek
  7. Anting-anting kecil - beli diskonan

Saya sebetulnya tidak ingin keluar banyak uang juga untuk persiapan ini. Barang yang bisa dibeli second, saya cari di Finn.no . Beberapa barang ada yang saya beli baru, tapi tetap dicari harga termurah. Maklum, saya rakyat miskin yang sekarang lebih memilih menabung daripada belanja baju.

Karena saat Open Day dibutuhkan foto, saya berulang kali memotret diri sendiri di dalam kamar. Thanks to the standing lamp karena bisa berfungsi sebagai tripod dadakan! Saya jadinya harus bolak-balik mengecek gambar dan mengatur ulang timer kamera sampai menemukan pose yang bagus. Sesi pemotretan ini murni semuanya memakai kamera ponsel, sendirian, dan akhirnya minta tolong teman mengedit ulang karena saya sudah lupa bagaimana menggunakan Photoshop.

Semua beres, hanya tinggal menunggu hari H. Seminggu sebelumnya muka tetap dirawat karena takut tiba-tiba ada jerawat. Ngomong-ngomong, gara-gara persiapan ini, saya jadi jatuh cinta dengan lipstik merah ðŸ’‹

Emirates Open Day, here I come!

Bersambung....

Tips Jadi Au Pair ke Amerika? Bisa!|Fashion Style

Dari dulu saya tidak pernah berani merekomendasikan Amerika Serikat sebagai negara tujuan au pair Indonesia karena syarat visanya yang tidak mudah. Selain itu, saya juga jarang sekali mendengar ada au pair Indonesia yang datang langsung dari Indonesia untuk jadi au pair kesana. Ada buku Keliling Amerika Ala Au Pair yang ditulis oleh Ariane O. Putri di tahun 2014 sempat membahas pengalamannya jadi au pair di Amerika selama 2 tahun. Tapi saya belum sempat membaca bukunya, jadi tidak tahu apa saja rintangan dalam mengurus visa kesana.

Saya sendiri sebetulnya tidak terlalu tertarik datang ke Amerika Serikat karena miskin budaya dan bahasa. Tapi banyak sekali pembaca weblog saya yang ternyata berminat ke Amerika dan berulang kali bertanya apakah bisa jadi au pair kesana. Beberapa tulisan lawas saya secara tegas menyatakan kalau pemegang paspor Indonesia tidak bisa jadi au pair ke Amerika karena tidak berkualifikasi.

Dulu saya berpikir, untuk datang ke Amerika kita harus menunjuk salah satu dari 15 agensi resmi au pair yang sudah dipercaya. Sayangnya, banyak sekali agensi yang tidak melayani orang Indonesia karena proses visanya yang cukup sulit. Di sisi lain, kebanyakan agensi tersebut hanya menerima orang-orang Eropa, Filipina, ataupun Thailand. Tapi setelah saya mencoba mencari tahu satu in keeping with satu agensi tersebut, ternyata ada angin segar untuk pemegang paspor hijau. Kabar baiknya, kita bisa jadi au pair ke Amerika lewat visa J-1!

Sebelum menjelaskan terlalu jauh, berikut saya jabarkan dulu serba-serbi au pair di Amerika Serikat:

1. Berusia 18-26 tahun

2. Memiliki pengalaman di bidang childcare sebelumnya, seperti menjadi guru TK, nanny, babysitter, ataupun au pair. Wajib memiliki pengalaman kerja mengasuh bayi minimal 200 jam jika tertarik menjadi au pair bagi host kids berusia di bawah 2 tahun. Beberapa agensi bahkan mengharuskan calon au pair memberikan 2-3 referensi untuk mendeskripsikan performa saat mengasuh anak-anak.

3. Bersedia melampirkan SKCK dan surat keterangan sehat dari dokter.

4. Bisa menyetir dan memiliki SIM Internasional. Karena wilayah di Amerika jauh-jauh dan transportasi umumnya tidak sebaik di Eropa, makanya kebanyakan host family menginginkan au pair mereka bisa menyetir.

Five. Uang saku yang didapatkan in step with minggu US$195,75 (belum dipotong pajak).

6. Waktu kerja maksimal forty five jam/minggu dan tidak lebih dari 10 jam/hari.

7. Mendapatkan jatah libur berbayar selama 2 minggu/tahun.

8. Full support tiket pesawat dari Indonesia ke Amerika dari host family.

9. Mendapatkan uang kursus sebesar US$500 dari host family untuk belajar tentang budaya, sejarah, geologi, politik, dan seni Amerika. Kursus ini sifatnya wajib karena au pair diharuskan memenuhi 6 kredit studi selama program au pairnya.

10. Au pair bersedia menanggung biaya visa J-1 sebesar US$160.

11. Bersedia menjalani orientasi dan training minimum 32 jam dari Local Childcare Coordinator saat tiba di Amerika.

12. Berkesempatan memperpanjang visa sampai dengan 2 tahun dengan pilihan masa penambahan 6, nine, atau 12 bulan.

Untuk bisa datang ke Amerika dan jadi au pair, kita tidak bisa langsung mencari keluarga di situs-situs umum seperti Au Pair World. Yang harus kita lakukan adalah mendaftar dulu ke 15 agensi terpercaya yang sudah ditunjuk oleh pemerintah Amerika. Untuk melihat daftarnya, silakan lihat di Designated Sponsor Organizations.

Karena banyaknya penipuan yang sering terjadi di Amerika, makanya agensi ini ditunjuk untuk menyeleksi dulu keluarga atau au pair mana yang jujur dan bersih. Perlu digaris bawahi, kalau tidak semua agensi bisa menerima orang Indonesia. Dari 15 agensi yang sudah saya baca regulasinya satu per satu, hanya ada 2 agensi di Amerika yang possible bagi au pair Indonesia, yaitu Agent Au Pair dan Expert Au Pair .

Tidak seperti di Eropa yang hampir semua biaya agensi ditanggung oleh keluarga, di Amerika calon au pair harus bersedia juga menanggung biaya servis agensi yang jumlahnya tidak sedikit. Seperti Agent Au Pair yang menawarkan biaya US$800-1500 atau Expert Au Pair yang menawarkan US$1000 bagi calon au pair dari Indonesia. Biaya tersebut wajib dibayarkan setelah au pair menerima visa J-1.

Jadi prosesnya, kita daftar ke agensi, diwawancara, lalu pihak agensi akan mempertemukan kita dengan keluarga terpercaya yang sudah diseleksi juga. Kalau kita dan pihak keluarga sudah sepakat, pihak agensi akan membantu membuatkan surat sponsor yang harus dilampirkan saat pengurusan visa J-1.

Untuk melihat syarat membuat visa J-1, silakan dibaca di situs imigrasi Kedutaan Besar Amerika Serikat . Referensi lain untuk melihat deskripsi J-1 Exchange Visitor Visa, baca selengkapnya di J-1 Au Pair Program . Kalau sudah siap untuk membuat visa, kita harus mengisi formulir dulu lewat online di Consular Electronic Application Center . Tapi tenang saja soal step terakhir ini, pihak agensi akan menjelaskan lebih rinci ke calon au pair dalam melengkapi persyaratan dokumen sebelum membuat aplikasi online.

Menurut saya, kalau kamu memiliki tabungan minimal 20 juta dan sangat berniat ke Amerika lewat program au pair, just go for it! Akan ada pengalaman baru yang bisa didapat dan dipelajari dimana pun berada. Apalagi Amerika memiliki keberagaman ras yang luas dan membuatnya menjadi salah satu tempat terbaik untuk ditinggali.

**Sehubungan dengan BANYAKNYA kasus penipuan dari agensi dan calon keluarga angkat di Amerika, ada baiknya kamu lebih waspada terhadap oknum-oknum yang meminta uang SEBELUM visa J-1 di tangan. Silakan baca postingan saya disini sebagai referensi.

Tips Calon Au Pair, Waspada Penipuan!|Fashion Style

Saya tahu, mimpi untuk ke luar negeri rasanya tidak pernah padam. Keinginan untuk segera berangkat, tinggal di negara empat musim, dan melihat salju sudah terpatri sekian lama. Setelah tahu bahwa au pair bisa membawa mu ke luar negeri dengan 'mudah', kamu pun sangat bersemangat mencari keluarga angkat di negara impian.

Sayangnya, rasa suka cita calon au pair ini kadang tidak bersamaan dengan kewaspadaan. Tidak sedikit pembaca blog saya yang mengadu bahwa calon host family mereka terlihat mencurigakan dan minta uang. Saya perlu tekankan bahwa untuk jadi au pair itu tidak ada syarat deposito uang dimana pun. Kita hanya perlu menanggung biaya visa dan bayar biaya aplikasi ke imigrasi negara tersebut. Beberapa au pair ada yang harus menanggung tiket perjalanan mereka sendiri, tapi itu pun setelah ada kesepakatan dengan keluarga angkat.

Ke Australia beda lagi, itu bukan pakai visa au pair, tapi Working Holiday Visa (WHV) . Makanya ada syarat menunjukkan bukti finansial agar imigrasi Australia tahu kalau kamu mampu menanggung biaya hidup disana nanti.

Jujur saja, saya dulu juga begitu serius dan ambisius mendaftar ke banyak situs pencarian au pair, lalu pasrah saja dengan setiap keluarga yang memberikan respon positif. Beberapa host family dari Amerika dan Inggris pun sempat mengirimkan pesan. Ada yang saya tanggapi, ada juga yang tidak. Bad news-nya, kebanyakan scammers menggunakan foto keluarga palsu dan mengatasnamakan keluarga Amerika atau Inggris untuk mencari sasaran empuk! Informasi yang pernah saya baca, jaringan scammers ini sebetulnya tidak tinggal di Amerika atau Inggris, tapi di Afrika.

Sebagai calon au pair, kita harusnya tidak mudah terjerat penipuan ini karena rata-rata para scammers adalah keluarga palsu dari Amerika dan Inggris. Berkali-kali saya katakan bahwa au pair Indonesia TIDAK BISA jadi au pair ke Inggris. Titik! Jadi kalau memang ada keluarga Inggris yang berpura-pura mengirim pesan ke kamu, ya mudah saja, tidak usah ditanggapi.

Pun kalau ke Amerika, sudah jelas sekali bahwa kita hanya bisa mendapatkan keluarga angkat yang disediakan oleh agensi. Saya pernah menuliskan serba-serbinya disini . Kita tidak bisa cari host family sendiri di Au Pair World atau situs mana pun itu, karena sudah ada agensi yang ditunjuk oleh pemerintah Amerika untuk menghindari scamming ini.

Lalu, bagaimana dengan banyak keluarga di Eropa, apakah ada peluang kita kena tipu juga?

Saya belum pernah mendengar ada keluarga Eropa palsu yang sengaja mencari sasaran untuk menjalankan aksinya. Namun tentu saja sebagai calon au pair, kita tetap harus bersikap was-was. Salah dua bukti sederhana keluarga palsu yang patut dicurigai;

1. Menawarkan uang saku menggiurkan yang sangat tinggi dari standar; lebih five-20% masih okelah.

2. Tidak pernah mau diajak video call atau interview face to face karena alasannya keluarga mereka sangat tertutup. Nonsense!

Karena para scammers hanya berani menipu para calon au pair via email, maka kamu juga harus lebih teliti dan waspada dengan isi email yang terlihat mencurigakan. Cara terbaik menangkas para penipu ini adalah dengan tahu trik yang sering kali mereka gunakan dan tipe email seperti apa yang selalu mereka kirimkan.

1. Phishing

Biasanya para scammers akan mengirimkan email berisi tautan yang nantinya kamu disuruh mengisi informasi sensitif seperti email dan password. Kalau si penipu sudah mendapatkan infromasi sepenting itu, mereka bisa membajak email kamu untuk kembali digunakan sebagai penipuan. Jangan pernah klik tautan apa pun yang tidak berhubungan dengan informasi yang dikirimkan! Pun kalau sudah terlanjur di klik, jangan pernah isi data diri dan kata kunci email!

2. Visa for the United States

Ini yang sudah saya singgung di atas, para penipu sering sekali menggunakan foto palsu dan berpura-pura sebagai keluarga angkat yang tinggal di Amerika. Setelah menjelaskan panjang lebar tentang keluarga palsu mereka, si penipu ini biasanya ingin bertukar kontak segera. Tujuannya untuk mengiming-imingi kamu kesempatan jadi au pair di Amerika, tapi harus mengirimkan uang dan scanned copy dokumen penting terlebih dahulu.

Sekali lagi, kamu mesti ingat kalau untuk jadi au pair ke Amerika, kita harus mendaftar dulu ke agensi yang sudah ditunjuk oleh pemerintah, melakukan wawancara personal dengan staf agensi, baru kita bisa dipertemukan dengan calon keluarga angkat. Kalau satu sama lain sudah deal, baru kita membayar biaya agensi. Itu pun baru dibayarkan kalau visa J-1 kita sudah ditangan. So, abaikan keluarga palsu ini!

3. Visa for the United Kingdom

Kasus penipuan yang terjadi di Inggris sama saja dengan pola penipuan sebelumnya; calon au pair disuruh mengirimkan uang deposito dan scanned copy dokumen penting. Lagi-lagi saya ingatkan ya, pemegang paspor Indonesia tidak bisa jadi au pair ke Inggris (baik Skotlandia ataupun Irlandia). Jadi please jangan bersikeras lagi untuk datang kesini! Kalau kamu memang sangat berniat ke Inggris, silakan apply visa pelajar dan lihat syaratnya di situs Kedutaan Besar Inggris .

4. Fake email dari situs pencarian au pair

Kalau kamu terdaftar di situs perncarian au pair, wajib waspada juga kalau tiba-tiba ada akun palsu yang nama emailnya mirip-mirip situs asli. Email asli dari situs asli biasanya mudah dibaca dan straight to the point, contohnya support@aupairworld.com. Tapi kalau ada email aneh seperti "au-pair@job4u.com" atau "au-pair@network4u.com" atau "aupair-world123@network.com", segera saja abaikan! Email dari situs agensi terpercaya dibuat dengan format hampir mirip dengan nama situs aslinya, tidak pakai embel-embel seperti akun email alay.

5. Email dari pengacara host family

Salah satu pembaca weblog saya mengaku sempat diminta mengirimkan uang atau deposito oleh advokat/pengacara/representatif di Inggris yang tujuannya untuk membuat "Affidavit of Moral and Good Behavior" atau sejenis SKCK. Yang lagi-lagi mesti kamu ingat, e-mail ini seribu persen dari penipu! Selain kita tidak bisa jadi au pair ke Inggris, mengirimkan sejumlah uang untuk deposito sama sekali bukan syarat membuat visa au pair!

Pernah kah kamu dikirimi email mencurigakan seperti yang saya tulis di atas? Kalau iya, segera saja abaikan dan blok email tersebut. Mudah saja untuk menghindari penipuan kalau kamu waspada dan mengabaikan semua email palsu keluarga Amerika atau Inggris. Tapi kalau memang ragu dan bingung apakah calon keluarga mu itu asli atau palsu, silakan kirim surel ke saya melalui Contact di atas atau tulis di kolom komentar di bawah. We'll figure it out together!

Monday, May 25, 2020

Tips Denmark, Negara Terburuk untuk Au Pair|Fashion Style

Memegang peringkat ke-3 (2018) sebagai negara terbahagia di dunia, tidak membuat Denmark menjadi tempat yang membahagiakan bagi para au pair. Terbukti dengan adanya wacana untuk melarang semua au pair non-Eropa di awal tahun 2018 kemarin, semakin menguatkan fakta bahwa peran au pairtidak lagi sama di negara ini.

Au pair berasal dari bahasa Prancis "at par" atau "equal to", yang mengindikasikan bahwa status au pair mesti disejajarkan, dianggap, dan diperlakukan seperti keluarga, bukan sebagai tukang bersih-bersih. Au pair mulai diperkenalkan di tahun 1840 saat keluarga kelas menengah merasa membutuhkan pengasuh untuk merawat anak-anak mereka di zaman perang. Biaya pengasuh saat itu sangat mahal, sehingga hanya bangsawan elit saja yang bisa membayar upah pekerja. Karena banyaknya permintaan inilah, gadis-gadis muda dari kelas menengah yang ingin mandiri dan menghasilkan uang sendiri bekerja sebagai pengasuh lepas. Agar gadis-gadis ini tidak sama layaknya 'pelayan berseragam', maka lahirlah konsep au pair yang ada hingga sekarang.

Sayangnya, tujuan asli au pair semakin tergerus zaman. Au pair yang harusnya diperlakukan sebagai keluarga, malah dimanfaatkan untuk bekerja lebih namun dibayar dengan upah rendah. Seiring dengan banyaknya kasus abusive yang dilaporkan di tahun 1998, pemerintah Filipina membuat pelarangan bagi semua anak-anak muda di negaranya untuk keluar negeri dan bekerja sebagai au pair. Hingga akhirnya, larangan tersebut dicabut di tahun 2010 untuk Denmark, Norwegia, dan Swiss, diikuti negara lainnya di tahun 2012.

Kasus penganiyaan terhadap au pair di Denmark lagi-lagi mencuat di awal 2018. Beberapa partai yang tergabung di parlemen sampai mengajukan wacana untuk melarang semua au pair non-Eropa untuk datang ke Denmark. Swiss sudah berhasil melakukannya di tahun 2015. Namun keputusan akhir yang dikeluarkan di pertengahan 2018 ternyata belum mengabulkan regulasi baru ini karena masih harus mengevaluasi banyak faktor terlebih dahulu.

Saya tahu keluarga jahat dan tidak adil itu ada dimana-mana, tidak hanya di Denmark. Namun di saat negara lain terlihat sangat tegas melindungi au pair, Denmark malah sebaliknya. Peraturan yang semula menawarkan au pair untuk bekerja membantu mengurus anak dan mengerjakan tugas rumah tangga ringan, digeser menjadi murni tugas bersih-bersih saja. Bahkan pernah ada satu pasangan peternak yang mencari au pair khusus untuk membantu merawat hewan ternak mereka di kampung.

Di Belgia, setiap keluarga yang ingin punya au pair wajib memiliki anak berusia maksimal 13 tahun. Tugas au pair pun kebanyakan mengurus anak karena keluarga di Barat rata-rata sudah punya cleaning lady. Di Denmark dan Norwegia, keluarga tidak harus punya anak untuk mendatangkan au pair. Bahkan Skandinavia masih memperbolehkan keluarga memiliki au pair hingga anak berumur 17 tahun. Asal tujuannya ingin 'pertukaran budaya', satu keluarga sudah bisa mempekerjakan au pair untuk membantu tugas rumah tangga seperticleaning atau memasak. Could you see it? Keluarga Skandinaviajadi sangat manja dan sangat bergantung dengan au pair meski anaknya sudah dewasa.

Saya datang ke Denmark tahun 2015 saat au pair Filipina sudah merajai lebih dari 80% populasi au pair disana. Tidak jarang saya mendengar banyak sekali kasus kerja lembur, tidak dibayar, diperlakukan layaknya cleaning lady, hingga au pair kabur yang menimpa para gadis Filipina tersebut. Mereka memang tidak pantas mendapatkan perlakuan demikian. Namun meskipun masyarakat Filipina dikenal sebagai orang-orang tangguh, pekerja keras, serta pengambil resiko, sayangnya tidak dibarengi dengan sikap berani berkonfrontasi. Kerja apa saja oke asal dapat uang dan hutang terbayar. Hal inilah yang membuat banyak sekali keluarga Skandinavia memanfaatkan au pair karena tahu mereka tidak bisa berkata tidak. Imbasnya, imej jelek au pair pun semakin terpatri di pikiran orang-orang di Denmark.

Belum lagi persyaratan visa au pair ke Skandinavia yang super mudah, memungkinkan banyak anak muda dari Filipina dan Indonesia makin berbondong-bondong ingin kesini. Dari yang tadinya Denmark tidak terkenal, semakin dijadikan negara impian tujuan au pair. Lucunya, tujuannya bukan untuk belajar bahasa atau mengagumi keindahan Denmark sepenuhnya, tapi murni karena uang. Bagus kalau dapat keluarga baik, but unfortunately I never trust Danish families anymore. Keluarga Denmark saya dulu memang tidak perhitungan, sangat menyenangkan, dan super royal. Soal pekerjaan, you won't believe what I have done because it was too much! Tapi karena sifat mereka yang baik dan positif ini jugalah yang membuat saya tidak sempat mengeluh.

Saya tergabung di grup au pair Denmark yang sering kali menerima curhatan tidak menyenangkan. Dari yang mulai keluarganya super perfeksionis, terlalu perhitungan, pelit makanan, hingga egois. Bahkan ada au pair baru di Denmark yang kaget setelah tahu rentetan tugas yang selama ini tidak pernah terbayangkan. No childcare, only cleaning. Period. Eh wait, the standard must be oriented to five-star hotel.

Tapi sebelum menyalahkan si keluarga, saya tetap ingin menggarisbawahi bahwa sebagai au pair Indonesia, kita jangan manja dan penakut. If you are mistreated, then speak up! Tidak berani juga bicara, then leave! Jangan pernah berpikir bahwa si keluarga berubah kalau kita tidak pernah mengutarakan apa yang salah. Jangan pernah juga berpikir malas untuk mengurus semua paper dari awal, jika memang bermasalah dan harus pindah. Beberapa au pair Indonesia yang saya kenal malas ganti keluarga hanya karena tidak ingin ribet urusan kontrak baru dan sudah nyaman dengan tempat tinggalnya. Sampai akhirnya, mereka menahan hati tinggal di lingkungan keluarga yang tidak sehat.

Saya suka Denmark dan tidak punya alasan untuk membenci. Momen terbahagia dalam hidup saya pun sebetulnya saat berada di negara ini. Namun kalau ingin jujur, saya tidak akan merekomendasikan negara ini untuk au pair Indonesia. Keluarga yang benar-benar baik di Denmark mungkin hanya 4:100.Go ahead to the West, girls! Kamu akan lebih dihargai disana dan pelajaran bahasa mu juga akan lebih melekat karena masih banyak yang tidak bisa bahasa Inggris.

Just do not come to Denmark as an au pair!