Saturday, May 23, 2020

Tips Malasnya 'Business Trip' dengan Host Family|Fashion Style

Salah satu perks of being an au pair itu adalah bisa jalan-jalan gratis alias "dinas" atau "business trip" ke luar dan dalam negeri dengan keluarga angkat. Pengalamannya tentu saja banyak, bisa diajak melihat tempat-tempat anti mainstream yang mungkin tidak akan pernah kita singgahi kalau harus travelling sendiri, tiket PP gratis, serta ikut kecipratan fasilitas hotel mewah kalau memang beruntung mendapatkan keluarga Eropa yang kaya raya. Kadang kalau keluarganya baik, uang saku saat liburan pun ikut ditambah.

Contohnya saja Vicky, eks au pair Denmark, yang sempat dibawa "dinas" ke Dubai selama 7 hari menemani host family. Kegiatan sehari-harinya hanya berjemur seksi di pantai atau hotel berbintang karena mengikuti gaya liburan keluarganya yang santai.

Ada lagi Anggi, eks au pair Belgia, yang beruntung tinggal bersama keluarga Belanda kaya raya yang sering diajak travelling menggunakan jet pribadi. Dari penginapan dan makan sehari-hari di restoran semuanya ditanggung tanpa takut kelaparan. Tidak suka makanan restoran, boleh pesan menu di hotel yang juga masuk ke bill keluarga. Kegiatan dinas juga tidak hanya menemani host kids di pantai Spanyol, tapi juga ber-ski di Austria. Lucky? Iya.

Dari dulu sebetulnya saya paling tidak berminat diajak liburan oleh keluarga angkat. Daripada liburan masih harus bertemu mereka, saya lebih memilih doing nothing at home atau hang out di kota dengan teman dekat. Di Norwegia, entah harus bersyukur atau terus mengeluh karena dinas keluar Oslo sudah jadi jadwal saya setiap bulan. Yep, you read it right! Setiap bulan jalan-jalan dan tidak pernah mantap di Oslo!

Selain host family saya  punya 3 rumah di Norwegia yang harus didatangi tiap akhir pekan, mereka juga memiliki pulau pribadi dan villa di Prancis yang rutin dikunjungi setiap tahun. Karena keluarga saya ini juga experienced skiers yang harus selalu naik gunung untuk berski ria, mau tidak mau saya selalu diajak kerja pindah-pindah.

BUT!! Tidak semua perjalanan dinas ke tempat-tempat jaw-dropping selalu menyenangkan. None of these (lucky) au pairs told you exactly how did they feel!

1. Working more

Meskipun mungkin terhindar dari rutinitas harian semisal laundry dan memasak karena semuanya jadi servis hotel, namun tidak untuk babysitting. Kebanyakan orang tua biasanya hanya ingin menikmati liburan tanpa harus 24/7 bersama anak, makanya au pair ikut dibawa. Tak heran, kadang au pair sampai harus tidur sekamar dengan balita hanya karena orang tuanya masih sibuk clubbing.

2. No holiday for you

Judulnya memang "liburan", tapi itu sebetulnya liburan host family. Bagi sebagian au pair, liburan dengan host family bisa berarti kerja rodi! Keluarga yang masih punya anak kecil biasanya paling butuh bantuan ekstra saat liburan. Makanya agenda kita ikut mereka pun bukanlah berfoto-foto ria memakai outfit ceria hanya untuk dipamerkan di sosial media, tapi tetap harus dorong stroller dan ganti popok balita. Tentu saja ada kalanya si keluarga ini memberikan kita waktu luang menikmati kota dan jalan sebentar ke taman, tapi sesungguhnya rutinitas kita tidaklah berbeda dari tugas harian yang hanya pindah tempat saja. This is how "business trip" works, bukan?

3. Terbatasnya privasi

Namanya juga "sudah dianggap seperti keluarga sendiri", jadi kadang tidak ada lagi batas privasi antara kita dan keluarga. Kembali ke poin pertama, kadang au pair harus tidur sekamar bersama host kids hanya karena orang tua mereka ingin punya kamar sendiri dan child-free saat liburan. Ada lagi au pair yang merasa canggung karena harus ikut makan 3 kali sehari dengan host family di restoran, padahal kadang inginnya lari ke Mekdi.

Four. Susah keluar

Enak kalau diajak dinas ke daerah tak jauh dari keramaian ataupun akses ke transportasi umumnya gampang. Setidaknya kita bisa melarikan diri sebentar ke pusat kota hanya untuk cuci mata ataupun ngopi santai tanpa harus selalu berkutat dengan host kids. Faktanya, tidak semua keluarga kaya raya suka dengan kota-kota besar seperti Paris dan Barcelona.

Keluarga saya termasuk tipe orang yang menyukai daerah tenang, pinggiran, dan sangat dekat dengan alam. Bagi mereka memang menyenangkan karena tak harus berdesakkan dengan turis, namun bagi saya, seperti penjara. Saya sering kali diajak ke villa pribadi mereka di atas perbukitan Prancis Selatan yang luar biasa megah, otentik, serta punya kolam renang dan lapangan tenis sendiri. Kanan kiri hanya hutan dan bukit yang sungguh cantik. Tempat ini juga jadi venue resepsi pernikahan host parents saya yang mengundang hampir 80 orang. Awalnya saya tidak berhenti mengagumi tempat ini, lama-lama muak juga.

Ingin ke pusat kota, harus jalan kaki turun bukit sekitar satu jam dulu atau mau tidak mau harus menggunakan kendaraan pribadi. Miskin hiburan untuk anak muda. Belum lagi transportasi umumnya sangat jarang dan membutuhkan waktu 40 menit lagi untuk sampai ke kota yang lebih besar. Saya suka hiking, tapi kalau harus selalu menjelajah tempat ini sendiri, saya bosan.

Five. Menunggu pulang

Keluarga Eropa yang kaya raya itu liburannya tidak sebentar karena mereka memang menikmati semaksimal mungkin atmosfir daerah yang berbeda jauh dari kota asal. Paling cepat semingguan, paling lama bisa satu bulanan. Hari pertama sampai ketiga mungkin para au pair ini masih semangat selfie, foto kanan kiri, dan penasaran ingin menjajakkan kaki kesana-sini. Esok-esoknya, hari terasa sangat lama karena mulai merindukan teman atau pacar.

Mau bagaimana lagi, yang liburan memang si keluarga dan kita hanya kecipratan asiknya saja. In the end, kita hanyalah sendiri menikmati fasilitas mewah dan kecantikan kota yang tersajikan di depan mata. Kalau sudah seperti ini, yang ditunggu hanyalah hari kepulangan.

Bagi kalian para au pair, kalau memang ditawari host family liburan bersama, coba saja tanyakan dulu prosedur kerjanya bagaimana sebelum mengiyakan. Apakah ini murni liburan gratis, berbayar, ataukah kita masih perlu kerja disana? Tidak semua keluarga akan menyewa hotel berbintang, karena beberapa juga lebih memilih villa atau rumah tinggal.

Menurut saya, liburan atau dinas dengan keluaga yang anaknya sudah cukup besar akan lebih menguntungkan. Kegiatan kita bukan babysitting, tapi lebih beraktifitas bersama. Seperti contohnya teman saya, Mira, au pair Denmark, yang beruntung diajak ber-ski ke Norwegia sampai dihadiahi pakaian ski lengkap oleh keluarga angkatnya. Seru memang! Tapi sayangnya, perasaan kesepian seperti orang asing tidak akan sepenuhnya bisa hilang meskipun kita sedang telentang cantik di Amalfi ataupun menyesap kopi hangat di Rio de Janeiro.

Friday, May 22, 2020

Tips Pacaran, Siapa yang Bayar?|Fashion Style

Saya cukup jengah mendengar beberapa komplain dari para au pair pencari cinta yang saya temui di Eropa. Urusan cinta mereka memang bukan urusan saya. Terserah mereka ingin mencari cowok dari belahan dunia mana pun. Tapi please, be independent, Girls!

Siang ini saya lagi-lagi mendengar keluhan yang sama dari seorang teman yang membandingkan pacarnya dengan pacar au pair Filipina . Entah kenapa, si teman ini merasa gadis Filipina yang dikenalnya selalu beruntung dan bisa dengan mudah saja mendapatkan pacar. Tak hanya sampai disitu, si au pair Filipina ini juga bisa membujuk pacarnya untuk menikahi doi sebelum masa kontrak berakhir. Betul-betul cerdik memanfaatkan kesempatan untuk menjamin permit tinggal tanpa harus pulang dulu ke negaranya.

Satu lagi yang membuat teman saya ini iri, pacar si Filipina tersebut dengan royalnya juga menggelontorkan sejumlah uang untuk membiayai semua biayatravelling ke negara asal si cewek. Lalu nasib si teman saya ini, boro-boro dibayari urusan travelling dan diajak nikah, ditraktir makan di restoran pun jarang.

"Kok mereka itu beruntung sekali ya? Sudah ketemu cowoknya mudah, langsung diajak nikah, dibayari ini itu pula!" keluh teman saya ini.

Sebetulnya tidak hanya au pair Filipina saja yang menurut saya punya karakteristik seeking a (established) white guy for a better life.Satu orang teman au pair Indonesia bahkan punya seleranya sendiri terhadap cowok asing yang akan dia kencani atau pacari. Yang pasti bukan pelajar dan umurnya harus di atas 35 karena dinilai sudah mapan. Tapi ya betul saja, doi memang bisa jalan-jalan gratis ke Swiss dan beberapa negara di Eropa karena si pacar yang membayari. Kamu iri? Jangan!

Ini Eropa, bukan Asia. Cowok Eropa tentu saja berbeda dengan cowok Asia yang selalu dituntut untuk terus-terusan punya modal saat berkencan. Tidak juga semua cowok Eropa berusia matang punya modal yang sama layaknya pacar teman saya tersebut.

Okelah, cowok Selatan dan Timur Eropa mungkin tipikal cowok dominan yang sedikit konservatif dan biasanya merekalah yang selalu membayari. Tapi kalau kamu ke Utara dan Barat Eropa, jangan harap akan menemukan kultur yang sama. Saya pernah membahas tentang budaya kencan di Skandinavia yang sering kali membuat para cewek asing syok, terutama soal siapa yang bayar saat berkencan. Dua orang teman mengatakan kalau opini saya salah karena beberapa cowok membayari mereka habis-habisan saat kencan. Bahasa lainnya; tidak perhitungan dan tidak pelit.

Girls, tunggu sampai kalian pacaran! The table now turns!

Cowok Eropa itu tidak semuanya kaya raya dan mau membagi uangnya hanya untuk kebutuhan mu. Mereka lebih menyukai cewek-cewek independen yang setidaknya bisa berbagi pengeluaran meskipun sedikit. Contohnya, kalau si pacar sudah membayari makan malam yang harganya ?70, bolehlah kita membayari minum setelahnya meskipun hanya ?30.

Urusan sharing bills ini bisa juga berganti-ganti. Mungkin weekend ini si pacar yang mentraktir kita makan, lalu minggu depannya kita gantian membayari tiket nonton. Trust me, he would appreciate that!

Sebetulnya tidak semua au pair yang saya kenal manja dan terlalu bergantung dengan pacar bulenya. Ada juga yang sedikit feminis dan gengsi kalau si cowok terus-terusan membayari. Saya berteman dengan mantan au pair yang cerita kalau dia dulunya sering membayari makan saat pacaran dan pernah mengeluarkan kocek ?One hundred fifty untuk taksi pulang karena si pacar belum gajian.

Si teman ini juga tidak masalah membayar kamar lodge sebesar ?100 per malam, meskipun si pacar hanya bisa membayari tiket bus seharga ?20 saja saat mereka liburan ke Paris. Padahal si pacar ini punya pekerjaan yang cukup oke di perusahaan telekomunikasi. Tapi karena saat itu momennya memang si pacar belum ada uang, tapi teman saya memaksa jalan, makanya mau tidak mau teman saya yang menanggung.

Teman-teman au pair lain juga mengaku akan berbagi pengeluaran dengan pacar, terutama saat liburan. Seorang teman pernah cerita punya mantan pacar Belgia yang perhitungannya minta ampun, sampai harus pas 50:50. Padahal teman saya ini dulunya masih pelajar dan si pacar sudah bekerja. Ingin bernego 70:30 saja rasanya tidak mau.

Saya sendiri, kencan di awal-awal keseringan cowoklah yang membayari. Tapi kalau memang sedang punya uang atau baru gajian, ya apa salahnya juga gantian mentraktir. Apalagi kalau sudah pacaran dan tinggal bersama, menurut saya sharing bills is a must! Percayalah, para cowok Eropa ini sebetulnya sangat hepi kalau kita ingin berbagi. Most of themunderstand how limited our pocket money is and I believe every penny helps.

Lagipula, kalau memang ingin cari yang mapan dan langsung menerima kita apa adanya, silakan lirik saja abah-abah atau aki-aki kesepian yang siap menikahi mu bulan depan! Bermimpi punya pacar muda, kaya raya, tampan, royal terhadap uang jajan, mau membantu mengurus anak atau rumah, dan siap mencintai mu apa adanya? Tentu saja tidak mudah, Girls!

Tips (Akhirnya) Saya Punya Instagram!|Fashion Style

Per 2 April 2019, Google resmi menutup jejaring sosial Google+ yang diluncurkan 8 tahun lalu. Saya sebetulnya tidak terlalu aktif menggunakan akun tersebut karena tidak paham fungsinya bagaimana. Namun sejak memiliki blog sendiri, saya gunakan saja media tersebut untuk sharing konten agar postingan saya terlacak Google dan muncul di laman pencarian.

Saya ini sebetulnya tipe orang yang paling tidak bisa promosi, termasuk menjual tulisan sendiri. Punya sosial media pun hanya Twitter (2009) dan Facebook yang baru dibuat tahun 2015 karena ingin main Tinder. Teman-teman saya di dua akun tersebut juga bukan pangsa pasar untuk sharing konten tentang au pair, makanya saya promosikan saja via Google+ yang jumlah pengikutnya pun kurang dari 50.

Dari dulu pembaca blog ini banyak yang bertanya juga apa saya punya akun Instagram. Belum ada, karena saya malas bikin dan malas pula foto-foto lalu ditaruh di sosial media. Tapi karena bahan promosi saya, si Google+, harus tutup bulan depan, mau tidak mau saya harus pindah lapak baru. So, here it is my brand new Instagram account; @artochlingua .

Silakan bagi yang berminat follow saya disana dan update tulisan terbaru saya. Mungkin kalau ada kesempatan, saya juga ingin sharing foto dari sini yang tidak sempat saya tampilkan lewat blog. Kalau miskin Story, maafkan ya, saya memang tidak terlalu getol main sosial media. Hoho.

Tips Tur 'Jalanan Cantik' di Kopenhagen|Fashion Style

Kalau ada yang tanya ke saya, kota mana paling hipster di Eropa, saya akan jawab Kopenhagen! Dari soal tempat nongkrong yang seru, kotanya para desainer super kreatif, jalanan bak panggung runaway karena gaya masyarakatnya simpel dan elegan, hingga gabungan arsitektur tua dan modern yang menjadikan sudut Kopenhagen begitu 'hyggelig' alias nyaman.

Banyak yang minta rekomendasi ke saya, selain nongkrong dan menghamburkan uang di bar atau kafe, apalagi yang bisa dilakukan di Kopenhagen . Bagi sebagian orang, kota ini juga dinilai membosankan karena tidak menawarkan banyak tempat wisata. Tapi, Kopenhagen bukan hanya Christiania, Nyhavn, dan Little Mermaid. Ada banyak kegiatan seru yang sebetulnya bisa dilakukan disini.

Saat adik saya, Katya, datang berkunjung musim gugur tahun lalu, saya mengajaknya mengitari sudut-sudut cantik lain di Kopenhagen yang mungkin orang lain banyak belum tahu. Ide ini muncul dua tahun lalu saat saya membuat proyek 'Min K?Benhavn' sebagai materi kompetisi film pendek CAFx.

Tahukah kamu kalau Kopenhagen itu dijuluki kota '1000 facades'? Fotografer India, Siddharth Dasari, mengabadikan foto muka 350 bangunan saat 6 bulan pertama tinggal di Kopenhagen dan menjadikan fotonya dalam bentuk poster yang bisa kamu beli disini . Kalau ada waktu mengitari Kopenhagen, jangan lupa mampir ke area tercantik favorit saya berikut ini!

1. Olufsvej

Saya jatuh cinta dengan jalanan ini ketika baru sampai. It's definitely the most favourite one! Olufsvej (baca: Olufsvai) berlokasi di Østerbro dan sebetulnya hanya jalanan lurus yang kanan kirinya merupakan rumah hunian berlantai. Yang membuatnya sangat berkesan dari jalanan sekitarnya adalah karena tiap rumah dicat dengan warna berbeda hingga menambah perasaan ceria.

Satu lagi yang membuat tempat ini sangat Instagrammable, karena di beberapa rumah biasanya terparkir sepeda berwarna matching dengan cat bangunan. Kalau datang kesini saat musim panas, tanaman rambat yang mempercantik sisi depan bangunan juga semakin menambah kesan playful. Tip dari saya, jika ingin mendapatkan gambar terbaik, datanglah saat hari biasa karena tidak banyak mobil yang terparkir di depan rumah.

2. Brumleby

Tak jauh dari Olufsvej, ada kampung kecil nan spesial tak kasat mata jika hanya dilihat dari jalan raya. Brumleby (baca: Bromlebwu) dibangun tahun 1853 sebagai alternatif perumahan murah dan sehat bagi para pekerja untuk menghindari epidemis kolera kala itu. 'Brumle-' atau brumme, diambil dari inspirasi suara hewan ternak yang sering merumput di area sekitar. Sementara 'by' berarti kota dalam bahasa Denmark.

Uniknya, tempat ini masih menunjukkan kehidupan sosial orang Denmark zaman dulu. Dari mulai gantungan jemuran yang ada di taman, bapak-bapak yang mengajari anaknya bersepeda, kakek-kakek yang memanen apel saat musim gugur, hingga suara teriakan anak kecil bersuka cita bermain di The Crooked House, salah satu playground terunik di dunia.

Di kampung kecil ini kita juga bisa mengunjungi Brumleby Museum yang akan mengenalkan sejarah tempat ini dari awal. Di dalamnya kita juga bisa melihat perpustakaan lucu dan toko tradisional zaman dahulu yang sudah direnovasi.

Kabarnya, banyak sekali orang yang mengincar tempat ini sebagai hunian. Meskipun rumahnya terbilang kecil, namun daftar panjang orang yang tertarik selalu bertambah setiap tahun. Sayangnya, mencari satu hunian kosong di Brumleby tidaklah mudah, apalagi jika tidak beruntung atau punya kenalan disana.

Three. Nyboder

Satu lagi tempat unik menarik tak jauh dari Stasiun Østerbro yang selalu saya lewati saat menuju kelas desain , Nyboder (baca: Nwubolah). Dibangun pertama kali di tahun 1631, tempat ini awalnya merupakan hunian bagi para tentara dan keluarganya. Perumahan di Nyboder terbagi menjadi dua, kuning yang disebut Tongkat Kuning dan abu-abu yang disebut Tongkat Abu-abu.  Huniannya pun sangat kecil dan tersusun menjadi satu blok yang berhimpitan.

Arsitektur disini sepertinya tidak mengalami banyak perubahan dan masih terkesan seperti bangunan lama. Ada banyak renovasi indoors yang dilakukan untuk memperkokoh bangunan, tanpa harus mengubah bentuk aslinya.

Jalanan di sekitar hunian pun lucu-lucu yang terinspirasi dari nama-nama hewan. Ada Jalan Buaya, Jalan Luma-lumba, Jalan Kancil, dan masih banyak lagi. Katya berfoto di depan Svanegade atau Jalan Angsa.

4. Magstr?De

Tak jauh dari Stasiun Nørreport, ada satu jalanan cantik yang sering dikunjungi turis, Magstræde (baca: Me'strel). Karena letaknya di pusat kota, banyak yang sengaja berjalan ke jalan ini sekalian berfoto. Jalanannya super cozy karena meskipun terkenal di kalangan turis, namun tidak bising. Di kanan kiri jalan juga ada kafe atau tempat makan yang bisa dicoba.

5. Snaregade

Menyusuri jalan Magstræde sampai ujung, otomatis kita akan keluar ke arah Snaregade (baca: Snargel) yang juga unik. Meskipun tidak secantik jalanan lain yang berwarna-warni, namun dinding batu dan juga pintu-pintu rendah berwarna hijau menjadikan tempat ini tak kalah Instagrammable.

6. Krusemyntegade

Di dekat Kongens Have, ada jalanan cantik lain yang diapit Sankt Pauls Gade dan Gernersgade. Hampir sama seperti Oluvsvej, Krusemyntegade (baca: Krosemwuntigel) adalah jalan yang kanan kirinya berupa hunian. Jalanan ini tidak sepopuler area lainnya dan menjadi salah satu hidden gems di Kopenhagen. Bedanya juga, disini lebih banyak tanaman rambat dan pohon yang membuat kesan rindang.

7. K?Benhavns Byret (City Courthouse)

Sebetulnya yang satu ini bukan jalanan, tapi bagian bangunan pengadilan kota yang jalannya tembus ke pusat kota. Meskipun berada di sentrum, namun tidak banyak orang yang tahu dan juga jadi salah satu hidden gems di Kopenhagen. Jalanannya begitu sepi, padahal arsitekturnya sangat keren berwarna pinkish nude.

8. Gr?Br?Dretorv

Masih di pusat kota, kita bisa menemukan Gråbrødretorv (baca: Grobrolretorw), tempat turis dan orang lokal berkumpul untuk makan steak atau menyesap anggur saat musim panas. Saya dan Katya tidak sempat mampir lagi karena kelelahan berjalan kaki. Foto ini diambil dua tahun lalu dengan kamera 'lumayan'. Hehe.

Terlepas dari nama area dan jalannya yang susah disebutkan, yang mana favorit kamu? Any plans to experience them all and just save the lists for your next plan?😉

Thursday, May 21, 2020

Tips Kesempatan Au Pair ke Irlandia, Spanyol, dan Italia|Fashion Style

Dari sekian banyaknya negara yang memungkinkan bagi pemegang paspor Indonesia, ternyata masih ada juga yang tanya ke saya apa memungkinkan jadi au pair di negara lain? Awalnya saya katakan tidak bisa, karena memang tidak ada program khusus au pair bagi orang Indonesia ke negara tersebut. Namun karena pertanyaan yang sama terus muncul dan banyak juga yang berminat kesana, ada cara lain mewujudkan impian kamu.

Bukan pakai visa jangka panjang untuk au pair, tapi visa turis dan visa pelajar. Sebagai catatan, kalau kamu tertarik kesana kurang dari 90 hari, sebaiknya pakai saja visa turis. Cara ini bisa kamu gunakan kalau hanya ingin tinggal sebentar dan mencicipi Eropa lebih lama dari turis biasa. Tapi saya tidak yakin kalau ada host family yang bersedia menyewa jasa au pair 3 bulan saja. Lagipula, kita tidak bisa juga bekerja di Eropa hanya memakai visa turis biasa.

Cara terbaik yang bisa kamu lakukan selanjutnya adalah memakai visa pelajar. Di postingan ini saya hanya akan membahas negara yang paling banyak ditanya, yaitu Irlandia, Spanyol, dan Italia. Ada plus minus yang mesti kamu perhatikan baik-baik sebelum betul-betul tertarik ke negara tersebut. Satu lagi, saya bukan petugas imigrasi yang tahu sistem kependudukan di semua negara. Jadi informasi yang saya berikan disini hanyalah gambaran awalnya saja dan silakan menuju tautan yang sudah tersedia untuk dibaca lebih teliti.

Mengapa kamu harus memilih negara tersebut?

1. Karena memakai visa pelajar, tidak ada batasan umur yang diwajibkan namun disarankan tidak lebih dari 30 tahun.

2. Sangat bermanfaat jika kamu memang sudah punya basic bahasa lokal dan ingin mengasahnya di negara asal.

3. Bagi yang kesulitan mencari host family di negara lain, punya kesempatan lebih besar mencari di 3 negara tersebut.

Hal yang paling melelahkan adalah syarat visa pelajar itu tidak semudah visa au pair karena ada banyak sekali dokumen yang harus dipersiapkan, misalnya;

1. Kamu harus melampirkan nota pendaftaran atau penerimaan kursus bahasa lokal minimal 20 jam per minggu. Tempat kursusnya juga tidak boleh abal-abal karena harus terdaftar dan terakreditasi. Biaya kursus ini juga mesti kamu diskusikan dengan host family kira-kira siapa yang akan menanggung. Saat saya cek di salah satu tempat kursus bahasa Spanyol, biaya kursusnya ternyata tidak murah dan sayangnya au pair diwajibkan membayar sendiri.

2. Salah satu syarat yang lain adalah kamu harus mampu melampirkan bukti finansial untuk tinggal selama 12 bulan di negara tersebut. Tiap negara berbeda regulasi, namun ada baiknya juga didiskusikan dengan keluarga angkat apakah persoalan uang ini juga jadi tanggung jawab kamu sepenuhnya.

3. Tidak ada kebijakan siapa yang harus membayari tiket pesawat dari Indonesia ke negara tersebut. Sekali lagi, coba bicara dengan host family apakah mereka bersedia membayari full atau setengahnya saja. Sebagai syarat kelengkapan dokumen saat pengajuan visa, kamu sudah harus memiliki bukti flight booking ticket PP.

4. Karena kesana memakai visa pelajar namun bekerja sebagai au pair, tidak ada yang bisa menjamin status mu. Kalau ada masalah dengan keluarga angkat, tidak ada agensi khusus yang bisa membantu karena tujuan utama kamu adalah belajar bukan bekerja. Ada baiknya siapkan mental dan tanyakan semua hal dengan host family sebelum mengiyakan untuk menghindari miskomunikasi saat tiba. Silakan baca postingan saya yang ini sebagai referensi saat wawancara.

5. Jika bicara soal uang saku , seriously saying, Italy and Spain might be not your places. Saya juga pernah mendengar cerita yang katanya host families di tempat ini malah lebih buruk dari di Denmark . Asas kekeluargaan pun begitu kental di Selatan, jadi banyak keluarga yang kadang merasa babysitting itu bukan bagian pekerjaan tapi hanya menemani adik bermain. So, better to ask them more about your job desk and privacy!

IRLANDIA

Informasi umum tentang au pair:

1. Imigrasi Irlandia hanya memperbolehkan pelajar non-EU bekerja 20 jam per minggu di tahun akademik, hingga 40 jam in line with minggu saat libur sekolah. Diskusikan kembali dengan keluarga angkat soal jam kerja karena kebanyakan keluarga menginginkan au pair kerja sampai 30 jam according to minggu.

2. Kamu bisa memilih apakah ingin tinggal dan makan di rumah host family, makan saja, atau mencari tempat tinggal dan makan sendiri di luar. Hal ini menentukan berapa uang saku yang akan kamu terima setiap minggunya. Perlu diperhatikan ya, upah yang akan kamu terima bukanlah upah au pair tapi upah sebagai domestic workers.

Kita ambil contoh tinggal dan makan di rumah host family, maka mereka harus membayar kamu €7,32 per jam. Tapi karena disini sifatnya akomodasi dan makan tidak gratis, jadi gaji kamu akan dikurangi €54,13 per minggu. Jadi kalau bekerja selama 30 jam, gaji kamu per minggu kasarnya €165,47.

3. Au pair normalnya bekerja dari Senin-Jumat dan mendapatkan libur berbayar 2 minggu per tahun. Tidak ada aturan resmi tentang hari libur au pair di Irlandia, maka sebaiknya diskusikan dulu dengan host family.

4. Au pair wajib mengikuti kursus bahasa Inggris full-time yang sekolahnya terakreditasi minimum 15 jam per minggu. Cek daftar sekolahnya di situs Accreditation and Co-ordination of English Language Service.

5. Untuk memperjelas status pekerjaan kamu, sangat disarankan untuk mengisi surat kontrak kerja bersama calon keluarga angkat.

Dokumen yang harus dipersiapkan:

Silakan baca langsung di situs imigrasi Irlandiauntuk informasi lengkapnya.

SPANYOL

Informasi umum tentang au pair:

1. Tidak ada aturan resmi tertulis berapa lama au pair harus bekerja, namun direkomendasikan selama 30 jam per minggu.

2. Uang saku yang diterima sedikitnya ?70 in step with minggu.

Three. Au pair biasanya libur 1 hari in keeping with minggu dan disarankan memiliki libur berbayar selama 4 minggu dalam waktu 12 bulan masa kerja.

4. Au pair wajib mengikuti kursus bahasa Spanyol yang sekolahnya resmi dan terdaftar selama minimum 20 jam per minggu. Cek tempat kursus bahasa terakreditasi disini . Durasi kursus bahasa juga harus sama dengan lama tinggal di Spanyol.

5. Tidak ada aturan resmi tentang kontrak kerja di Spanyol, namun surat kontrak kerja bisa diunduh disini (berbahasa Spanyol) dan disini (berbahasa Inggris).

Dokumen yang harus dipersiapkan:

Silakan baca infonya dengan sangat teliti di situs imigrasi Spanyol disini (berbahasa Spanyol).

ITALIA

Informasi umum tentang au pair:

1. Direkomendasikan 30 jam in line with minggu dan tidak lebih dari 5 jam according to hari.

2. Uang saku au pair di Italia antara 250-300 Euro in line with bulan.

3. Au pair biasanya libur 1 hari in keeping with minggu dan direkomendasikan sekali sebulan jatuh di hari Minggu. Silakan diskusikan lagi dengan keluarga angkat berapa hari libur yang bisa kamu dapatkan dalam waktu 12 bulan. Au pair direkomendasikan mendapat libur berbayar 2 minggu jika bekerja selama 6 bulan.

4. Diwajibkan mengikuti kursus bahasa Italia yang sekolahnya terakreditasi dan terdaftar sebagai syarat mengajukan visa. Daftar sekolahnya bisa cek disini .

5. Sebagai bukti akomodasi, host family wajib melengkapi form ini yang harus juga dilampirkan saat mengajukan visa.

6. Diwajibkan calon keluarga dan au pair berunding bersama untuk mengisi surat kontrak kerja. Meskipun tidak ada aturan baku tentang kontrak kerja di Italia, tapi kamu boleh menggunakan kontrak kerja yang sesuai dengan regulasi Eropa yang bisa diunduh disini (berbahasa Italia) dan yang ini (berbahasa Inggris).

Dokumen yang harus dipersiapkan:

Untuk mengajukan visa pelajar Italia, kamu harus datang ke Kedutaan Italia di Jakarta langsung atau bisa memakai jasa VFS Global. Syarat dokumen lebih lengkapnya bisa dilihat di situs VFS berikut .

**INGGRIS**

Yang satu ini sebetulnya pengecualian, tapi ternyata banyak juga yang tanya pengajuan visanya bagaimana. FYI, Inggris juga tidak menerima pemegang paspor Indonesia menjadi au pair kesana. Jalan lain yang bisa kamu pilih sama seperti 3 negara di atas; pakai visa pelajar jenis Short-term Study Visa yang berlaku maksimum 11 bulan. Tujuan visa ini tidak sama dengan urusan kuliah, tapi kursus bahasa Inggris. Silakan buka situs Imigrasi Britania Raya  untuk info lengkap mengenai persyaratan dokumennya. Satu hal lagi, jenis visa ini tidak memperbolehkan pelajar bekerja paruh waktu.

Saya sempat baca satu atau dua pengalaman orang Indonesia yang berkesempatan jadi au pair di Inggris. Mereka juga pakai visa pelajar, tapi saya tidak tahu kronologis mereka mendapatkan visanya bagaimana. Namun kalau memang ingin pakai cara yang sama, mungkin kamu tidak harus mengatakan ke kedutaan kalau ada embel-embel jadi au pair setelah sampai di Inggris untuk menghindari visa ditolak.

Catatan!!

Meskipun kamu sudah melengkapi semua berkas, namun tidak menjamin bahwa visa kamu akan di-approve pihak kedutaan. Perlu dimaklumi juga bahwa mungkin ada biaya administrasi yang berlaku dari pihak penyelenggara kursus bahasa, seandainya visa kamu ditolak dan tidak jadi datang kesana.

Semoga informasi ini membuka kesempatan kamu untuk menjadi au pair di 3 negara lain di luar negara yang sudah pernah saya rekomendasikan. Jangan lupa perbanyak informasi tentang calon keluarga angkat dan regulasi yang berlaku di tiap negara sebelum mengajukan aplikasi visa. Good luck!

Tips 72 Jam di St. Petersburg, What to Do?|Fashion Style

Jalan-jalan ke negara sebesar Rusia, pastinya tidak akan cukup dijelajah hanya dalam waktu satu minggu, apalagi kurang dari 3 hari. Tapi daripada harus repot-repot mengurus visa Rusia dari Oslo, saya dan seorang teman mengambil kesempatan ke Rusia hanya 72 jam saja tanpa visa .

Destinasi kami kali ini adalah St. Petersburg dan memang hanya akan fokus di kota ini saja. St. Petersburg adalah kota terbesar nomor 2 di Rusia berpopulasi 5 juta penduduk yang atmosfir kotanya katanya tidak jauh beda dari Moskow. Kota ini juga menawarkan banyak bangunan cantik, musisi jalanan yang suaranya menggema di pusat kota, hingga kuliner tradisional yang pantang untuk dilewati. Satu lagi, karena tinggal di Norwegia yang mana salah satu kota termahal di Eropa, datang ke St. Petersburg jadi angin segar untuk kami karena biaya hidupnya yang sangat murah dibandingkan Oslo.

Kalau kamu tertarik mengunjungi St. Petersburg kurang dari 72 jam saja, simak cerita saya di bawah ini karena siapa tahu menginspirasi perjalanan kamu selanjutnya! FYI, kami datang ke Rusia tidak dalam rangka backpacking-an alias menghemat biaya sebesar-besarnya. Jadi kalau gaya jalan ini dirasa kurang cocok, just skip! 😉

1. Berkunjung ke Hermitage Museum

Yang suka maupun tidak suka sejarah, seni, budaya, dan interior, tetap wajib mengunjungi museum seni terbesar kedua di dunia ini! Kunjungan ke St. Peterseburg akan sangat hampa tanpa Hermitage dan Winter Palace-nya. Museum yang ditemukan di tahun 1764 ini menyimpan lebih dari 3000 artefak kuno, seni rupa, lukisan, koin, hingga perhiasan, yang tentunya akan memanjakan mata di setiap ruangannya yang luar biasa megah. Kami tak berhenti berdecak dengan interior dan artefak kuno yang dibuat di masa lalu.

Harga tiket masuk ke Hermitage sebesar 700 RUB (154 ribu Rupiah/€9.70) untuk satu hari kunjungan dibeli dari mesin tiket di dekat gerbang masuk demi menghindari antrian loket yang sangat panjang. Saran saya, tidak usah beli tiket dari situs mereka karena harganya lebih mahal. Mengelilingi Hermitage juga tidak cukup dalam waktu 1 hari, karena kami keliling 2 jam pun kaki sudah gempor!

Hermitage Museum

Palace Square, 2

Jam buka:

Selasa, Kamis, Sabtu, Minggu  10.30 - 18.00

Rabu, Jumat 10.30 - 21.00

Situs: Hermitage

2. Mampir ke Church of the Savior on Spilled Blood

Kalau di Moskow ada Red Square yang terkenal dengan Saint Basil, di St. Petersburg ada gereja berbentuk sama namun lebih kecil. Gereja yang dibangun di tahun 1883 ini menghadap dua sisi, Griboyedov Canal dan Mikhailovsky Garden, yang sama cantiknya. Jika tertarik masuk ke dalam gereja, kita perlu mengeluarkan kocek 500 RUB (110 ribu Rupiah/€7). Meskipun puncak gereja saat itu sedang direnovasi, namun tidak mengurangi kemegahan asitekturnya dari luar.

Sekalian melintasi gereja ke area kanal, kita akan berlabuh di Nevsky Prospect, daerah yang terkenal dengan tempat makan dan belanja di kanan kiri jalan rayanya. Jangan lupa menikmati suasana kota St. Peterseburg yang sangat hidup dengan nyanyian para musisi jalanan dan bangunan unlimited bergaya Art Nouveau yang terpampang sepanjang jalan.

3. Mencicipi dumpling khas Rusia

Baru kali ini saya dan seorang teman jalan-jalan, lalu memesan makanan tanpa harus melihat harganya dulu. Makan malam pertama kami di St. Petersburg diawali dengan memesan Pelmeni, dumpling khas Rusia, yang sudah saya incar sebelum kesini. Kalau kamu suka dumpling, saya sangat merekomendasikan datang ke restoran monocuisine di Nevsky Prospect ini! Apa itu restoran monocuisine? Restoran yang hanya menyediakan satu jenis makanan saja di dalam menu mereka; dalam hal ini hanya dumpling.

Dumpling yang ditawarkan lumayan beragam dari Pelmeni, Manti, Ravioli, Gedza, Khinkali, yang semuanya enak-enak! Isinya pun macam-macam, dari ayam, sapi, babi, domba, labu, sayuran, hingga keju. Harga yang ditawarkan juga sangat murah, berkisar 140-520 RUB tergantung porsi. Dari 8 menu utama, kami memesan 6 dumpling berbeda hingga mengundang mata pengunjung ke meja kami.

Di restoran ini ternyata paling sering orang memesan satu jenis dumpling saja, tapi porsinya bisa 8-9 buah. Sementara kami, memesan sedikit, namun berbeda-beda. Total yang kami habiskan untuk berdua hanya 2260 RUB (497 ribu Rupiah/€32) saja dan pulang dengan perut penuh! Mahal? Tentu saja tidak dibandingkan dengan Oslo. Tapi jangan malas untuk mengantri dulu selama 20-40 menit karena tempat ini selalu penuh pengunjung!

Pelmenya

Fontanka river embankment, 25

Jam buka:

Senin - Minggu  11-23.00

Situs: Pelmenya

4. Nonton ballet atau opera di Mariinsky Theatre

Gambar diambil saat makan malam di L'Europe

Dibuka pada tahun 1860, Mariinsky Theatre menjadi teater musik terkemuka dengan bangunan bersejarah tempat para masterpiece Rusia manggung di abad ke-19. Saya sebetulnya sangat tertarik menyaksikan ballet disini karena Rusia adalah salah satu negara dengan pentas ballet terkemuka di dunia. Sayangnya, tiket untuk menonton Swan Lake saat itu mahal sekali, paling murah dari balkon yang tersedia harganya 8400 RUB (1,85 juta Rupiah/€117). Sejujurnya harga tersebut sangat wajar, namun karena kami masih ada perjalanan lain jadinya masih disimpan dalam bucket list dulu.

Tapi bagi kalian yang suka opera, ballet, atau konser musik klasik, boleh saja menyisihkan sedikit uang untuk menonton pertunjukkan di teater historikal ini. Saya pernah nonton ballet sekali di Denmark, lalu jadi ketagihan ingin nonton lagi kapan-kapan.

Mariinsky Theatre

Theatre Square, 1

Situs: Mariinsky

5. Fine dining dengan menu tradisional

(ki-at) "Egg in Egg", Hot Smoked Sturgeon, Borsch Beetroot Soup

(ki-ba) Steamed Kamchatka crab, Beef Stroganoff, Medovik Honey Cake

Dari dulu saya memang ingin sekali fine dining di restoran high-end di Eropa. Tidak hanya ingin mencicipi makanannya, tapi juga ingin merasakan atmosfir restoran dan servisnya yang pasti berbeda dari Indonesia. Maklum, saya anak daerah dimana restoran berkelas tidak tersedia di kota tersebut.

Di St. Petersburg, kami sepakat ingin bergaya sedikit fancy dan elegan di salah satu restoran mewah di hotel bintang 5, L'Europe Restaurant. Ada dua tempat pilihan saya sebetulnya, Palkin dan L'Europe. Tapi karena L'Europe memiliki tema 'Tchaikovsky Night' setiap Rabu dan Jumat, yang akan menyajikan pertunjukkan musik klasik, ballet (yes!), dan opera secara langsung, makanya saya pilih saja tempat ini. Restorannya sangat megah berhiaskan gelas kaca dan atap bergaya Art Nouveau yang dibangun sejak tahun 1905. Kabarnya dulu para aristokrat Rusia selalu datang ke restoran ini untuk makan malam.

Menu yang kami pilih adalah 6-course makanan tradisional Rusia dengan cita rasa mewah. Salah satu yang terkenal di Rusia dan mahal adalah "egg in an egg" berisi scrambled egg dan black sturgeon caviar. Untuk gambaran, kami berdua menghabiskan 17.240 RUB (3,8 juta Rupiah/€239) untuk menikmati sajian malam itu. Kalau kamu ke Rusia, saya rekomendasikan mencicipi sup Borsch di kafe-kafe di luar. Supnya sangat segar berisi buah bit dan potongan daging sapi yang biasanya dilengkapi dengan krim. I love this soup!

L'Europe Restaurant

Mikhaylovskaya Ulitsa, 1/7

Jam buka (makan malam):

Sabtu - Jumat  18.00 - 23.00

Situs: Belmond Grand Hotel Europe

6. Belanja kaviar di food hall tertua

Teman jalan saya kali ini sangat family-oriented sampai berniat harus membelikan keluarganya suvenir dari Rusia. Satu lagi, doi kalau cari suvenir, tidak ingin yang abal-abal dan harus berkualitas tinggi. Ada satu tempat yang saya rekomendasikan kalau kamu punya selera yang sama dengan doi, datanglah ke toko suvenir gourmet di pusat kota.

Tempat ini sebetulnya adalah food hall tertua di dunia yang dibangun pada tahun 1902, meskipun perusahaan penjualannya sudah beroperasi sejak 1857. Didesain oleh keluarga arsitek, tak heran mengapa bangunan bergaya Art Nouveau ini akan menjadi salah satu tempat paling bersejarah di abad ke-20.

Kalau kamu suka cokelat, permen, atau makanan homemade Rusia dengan kemasan mewah, this is the place you have to go! Teman saya sampai berkeliling berkali-kali karena bingung harus membeli apa. Too many things to buy, too little money. Untuk satu kemasan black caviar seberat 25 gram saja, doi menghabiskan 4500 RUB (990 ribu Rupiah/€63). Cokelat berbentuk lucu biasanya dihargai 900 RUB (197 ribu Rupiah/€13). Vodka pun dijual dengan rasa bermacam-macam, dari jeruk nipis hingga blueberry.

The Kupetz Eliseevs

Nevsky avenue, 56

Jam buka: Setiap hari  10.00 - 23.00

Situs: Kupetz

7. Beli boneka Matryoshka paling murah

Suvenir Rusia biasanya sangat identik dengan boneka Babushka atau Matryoshka yang dapat diisi dengan boneka lebih kecil. Bahasa lainnya, boneka beranak. Di semua toko suvenir kita akan menemukan banyak sekali jenis boneka lukisan tangan dari yang kecil hingga sangat besar berisi 25 anak!

Tapi, boneka ini sayangnya tidak murah. Harga boneka sedang beranak 4-9 biasanya ditawarkan seharga 2500-15.000 RUB tergantung jenis tinta lukisnya. Katanya tempat terbaik membeli Matryoshka sebetulnya adalah Moskow, karena harganya lebih murah dan bentuknya juga bervariasi. Namun jika ingin sekali membawa oleh-oleh Matryoshka dari St. Petersburg, belilah di pedagang gerobak di luar Church of the Savior on Spilled Blood. Akan ada banyak pedagang yang menjajakan Matryoshka dan harganya bisa ditawar.

Boneka termini yang cukup menarik perhatian saya sepanjang 5 cm harganya 900 RUB. Di sisi lain, boneka berbentuk kucing sekisaran 7 cm dipatok harga 2000 RUB. It's an expensive souvenir to buy, for sure!

8. Metro tour

St. Petersburg boleh jadi negara tercantik di Eropa, terutama untuk urusan bangunan historis dan interior megahnya. Kalau punya waktu, jangan lupa mencoba metro yang tidak hanya berfungsi sebagai alat transportasi, tapi juga menyajikan keindahan dan arsitektur stasiunnya yang berbeda dari kebanyakan stasiun di Eropa.

Stasiun yang wajib kunjung contohnya Avtovo, Kirovsky Zavod, Narvskaya, Pushkinskaya, Ploshchad Vosstaniya, Sportivnaya, Mezhdunarodnaya, dan Admiralteyskaya. Karena waktu yang sangat terbatas, kami hanya bisa mengunjungi 3 dari banyak stasiun berarsitektur keren di St. Peterseburg. Token metro pun bisa dibeli lewat mesin atau loket seharga 45 RUB (10 ribu Rupiah/63 sen) sekali jalan.

TOP TIPS:

1. Kalau kita datang ke restoran atau kafe dan puas dengan pelayanan mereka, sangat disarankan untuk memberi tip 10-15% dari harga total makanan yang dipesan. Upah pekerja jasa seperti ini tidak terlalu baik di Rusia, makanya kebanyakan pelayan mendapatkan upah tambahan dari tip pengunjung.

2. Untuk kota sebesar St. Petersburg, banyak pegawai kafe atau anak muda yang bisa berbahasa Inggris. Tidak perlu takut tersasar juga di kota ini karena nama jalan tetap ditulis dengan huruf latin bergandengan dengan Cyrillic.

3. Naik metro di St. Peterseburg itu lamaaaa sekali! Bukan karena metro-nya lambat, tapi karena stasiunnya sangat jauh di bawah tanah dan panjang. Kalau sedang terburu-buru, saya sarankan tidak usah naik metro karena untuk satu transit saja membutuhkan waktu 20-30 menit.

4. Jarak 1,5 km itu terlihat dekat, namun akan terasa sangat jauh juga jika harus berjalan kaki. Opsi lainnya kalau malas jalan kaki atau naik metro adalah dengan naik bus. Tiket bus di St. Petersburg sekali jalan hanya 40 RUB (8900 Rupiah/57 sen). Tidak perlu membeli ticket in advance karena di dalam bus sudah ada kernet yang akan mendatangi kita untuk membeli tiket.

5. Kartu kredit berlaku hampir di semua restoran dan kafe di daerah turis. Namun mengantongi uang saku tidak ada salahnya juga untuk naik transportasi umum atau memberi tip.

Tips Visa dan Izin Tinggal (Residence Permit), Apa Bedanya?|Fashion Style

Saya sering kali mendapatkan pertanyaan seputar visa dan izin tinggal di Eropa yang herannya, masih banyak au pair ternyata belum mengerti pengertian dan fungsi keduanya untuk apa. Bahkan ada banyak yang bingung dan menukarbalikan fungsi dari Visa dan Izin Tinggal.

Agar lebih tahu fungsi dokumen tersebut, mari kita pahami dulu apa makna keduanya. Menurut Direktorat Jenderal Imigrasi Republik Indonesia, visa adalah sebuah dokumen izin masuk seseorang ke suatu negara yang bisa diperoleh di kedutaan dimana negara tersebut mempunyai Konsulat Jenderal atau kedutaan asing. Visa adalah tanda bukti ‘boleh berkunjung’ yang diberikan pada penduduk suatu negara jika memasuki wilayah negara lain yang mempersyaratkan adanya izin masuk.

Sementara Izin Tinggal Terbatas (temporary residence permit) adalah kartu yang diberikan kepada Warga Negara Asing yang akan tinggal di Eropa untuk beberapa bulan. Jangka waktu tersebut dari 6 bulan, 1 tahun, hingga 2 tahun, dan dapat diperpanjang. Pemegang kartu ini tidak perlu memperpanjang Visa mereka setiap bulan.

Sudah paham sampai sini? Bahasa simpelnya, Visa itu adalah kunci kamu masuk Eropa yang biasanya berupa stiker yang ditempelkan di paspor, sementara Izin Tinggal adalah KTP yang menjelaskan kamu adalah penduduk sementara Eropa.

Tipe Visa umumnya ada three;

1. Visa turis Schengen tipe C

2. Visa jangka pendek selama ninety hari

3. Visa jangka panjang tipe D (> 90 hari)

Kalau kamu ingin ke Eropa dan daftar aplikasi au pair dari Indonesia, maka kamu perlu Visa sebagai kunci masuk Eropa. Sebagai au pair, nantinya kita akan mendapatkan Visa Jangka Panjang Tipe D yang berlaku tergantung keputusan imigrasi setempat. Ada yang 25 hari, 30 hari, one hundred eighty hingga 365 hari.

Visa Jangka Panjang Tipe D Belgia yang berlaku selama 365 hari

Visa Jangka Panjang Tipe D ini menunjukkan bahwa kita akan tinggal di Eropa selama lebih dari 3 bulan. Tidak cukup dengan Visa saja, setelah tiba di negara tujuan, kita harus mendaftarkan diri untuk mendapatkan Izin Tinggal Sementara (Temporary Resident Permit). Berbeda dengan Visa yang fungsinya sebagai kunci masuk,Permit ini fungsinya lebih sakti karena kita sudah terdaftar sebagai penduduk setempat yang mendapatkan fasilitas hampir sama dengan warga negara asli.

Kartu tanda penduduk sementara au pair di Denmark yang masa berlakunya disesuaikan dengan masa kontrak kerja

FAQ:

Lanjut ke beberapa pertanyaan yang sering kali masuk ke saya, silakan cek di bawah ini karena siapa tahu bisa menambah pengetahuan dan menemukan jawaban yang selama ini dicari.

1. Apa beda Visa Schengen Tipe C dan Visa Jangka Panjang Tipe D?

Tipe C itu hanya diberikan bagi turis atau kunjungan lain yang kurang dari 90 hari. Artinya si pengunjung tidak bermaksud tinggal lebih lama di Schengen Area. Sementara Tipe D diperuntukkan bagi orang yang tujuannya tinggal lebih dari 90 hari di satu negara Schengen Area, contohnya sekolah, au pair, atau bekerja.

2. Saya sudah di Eropa, sudah mendapat Izin Tinggal dari Denmark. Bisakah saya jalan-jalan ke Italia atau Belanda langsung? Perlukah apply visa lagi?

Bisa langsung saja kesana dan tidak perlu apply visa lagi. Pemegang kartu izin tinggal salah satu negara di Schengen Area bisa sebebasnya jalan-jalan ke 26 negara Schengen.

Ibaratnya saja Schengen Area itu adalah sebuah rumah yang memiliki 26 bilik. Kamu sudah punya kunci masuknya, sudah di dalam rumah, sudah jadi penghuni rumah tersebut. Apakah masih perlu kunci masuk dari dapur ke kamar mandi? Tidak, karena setiap bilik memiliki kesatuan di satu rumah.

Namun, meskipun sudah punya kartu izin tinggal dan ingin jalan-jalan keliling negara Schengen, tetap jangan lupa bawa paspor.

Three. Saya sekarang tinggal di Belanda, ingin jadi au pair ke Prancis, apakah harus buat visa lagi kalau ingin jadi au pair disana?

Tidak perlu. Silakan saja pindah dari Belanda ke Prancis tanpa harus buat Visa baru. Mengapa, karena kamu adalah penduduk sementara Belanda dan memiliki Izin Tinggal yang berlaku.

Yang perlu kamu buat itu sebetulnya Residence Permit baru. Kamu sudah di Belanda, ingin jadi au pair di Prancis, maka dokumen yang kamu tujukan tujuannya untuk mendapatkan permit tinggal di Prancis, bukan lagi Visa Prancis.

4. Saya memiliki Izin Tinggal Denmark selama 2 tahun, tapi tidak cocok dengan host family-nya. Ingin pindah ke Jerman langsung, apakah memungkinkan? Apakah bisa langsung kesana tanpa harus punya permit Jerman dulu?

Jadi sebetulnya, kalau ingin menuruti regulasi resmi dari imigrasi, your residence permit belongs to your host family. Artinya, kalau kamu sudah tidak tinggal di rumah itu lagi, kamu harus mengembalikan kartu Izin Tinggal ke balai kota. Namun, banyak au pair yang tidak mengembalikan kartu ini dan disimpan saja saat masa berlakunya masih lama.

Namun, dari pengalaman dan banyak informasi yang saya baca, kamu boleh saja tinggal di Jerman menggunakan permit dari negara Schengen lainnya. Seperti yang saya ibaratkan tadi, saat kamu sudah berhasil masuk Eropa dan jadi penghuni di salah satu negaranya, akses tinggal di negara tetangga juga lebih mudah.

Di Norwegia atau Denmark contohnya, kamu boleh apply residence permit au pair langsung disana kalau kamu sudah memiliki kartu Izin Tinggal salah satu negara Schengen. Salah satu teman saya, kabur ke Jerman saat masih membawa permit au pair Belgia yang masa belakunya masih panjang. Di Jerman, doi baru mengurus dokumen baru untuk mengurus kependudukannya.

Ada lagi cerita teman lain yang kabur ke Belanda menggunakan permit au pair Belgia. Tidak hanya tinggal, teman saya ini juga cari black job sebagai nanny yang gajinya €1000/bulan. Doi tinggal di Belanda sampai permit Belgianya akan habis, lalu kembali lagi ke Belgia untuk daftar kuliah. Possible? Tentu saja!

5. Kak, saya punya Visa masuk Belgia yang masa berlakunya 12 bulan. Kemarin punya juga Izin Tinggal, tapi sudah dicabut host family dan sekarang tidak punya KTP Belgia lagi. Apakah saya betul-betul harus pulang?

Tidak!

Even your residence permit belongs to your host family, tapi Visa Belgia kamu juga adalah kunci keluar masuk Schengen Area yang bisa kamu gunakan selama 12 bulan — meski tanpa residence permit. Jadi kalau kartu Izin Tinggal kamu ditarik atau sama sekali belum memegang, jangan panik!

Di Belgia sistemnya "2 weeks out". Jadi kalau dalam waktu 2 minggu tersebut kamu belum juga dapat family baru, regulasi imigrasi Belgia memaksa kamu untuk keluar dari negara mereka a.k.a pulang. Kamu tidak harus pulang ke Indonesia kalau belum mau. Silakan cari keluarga di negara baru, langsung pindah kesana, dan apply langsung di negara tersebut. Denmark dan Norwegia adalah salah 2 negara yang memungkinkan calon au pair apply residence permit langsung disana.

6.  Nin, tiap negara kan beda-beda peraturan, bukankah kita tidak bisa menganggap semua negara Schengen punya regulasi yang sama?

Betul. Makanya, sebelum mengatakan bahwa pindah-pindah negara Schengen itu mudah, kamu tetap harus mengecek dulu semua regulasi yang berlaku di situs imigrasi negara tujuan. Contohnya, kamu sudah punya Izin Tinggal Jerman, namun ingin jadi au pair Swiss, apakah memungkinkan? Bisa jadi tidak. Mengapa, karena sesuai peraturannya yang ketat, Swiss hampir menutup rapat aplikasi au pair untuk warga non-EU. Jadi meskipun kamu punya Izin Tinggal dari Jerman, namun kewarganegaraan kita punya imbas yang besar pula.

7. Kak, saya sekarang masih tinggal di Austria, ingin lanjut au pair ke Prancis. Apakah boleh submit aplikasinya langsung di Austria tanpa pulang dulu?

Tentu saja! Syarat apply di negara-bukan-asal-au pair biasanya lebih mudah ketimbang di Indonesia. Yang pertama, tentu saja kita bebas Visa untuk masuk — karena sudah berada di Schengen Area. Yang kedua, beberapa syarat biasanya tidak diterapkan kalau kita apply bukan di negara asli. Contohnya, kalau daftar di Indonesia, ada kemungkinan kamu harus legalisasi sana-sini dulu sebagai kelengkapan dokumen. Sementara kalau apply di luar Indonesia, syarat tersebut tidak berlaku. Yang ketiga tentu saja soal biaya transportasi (jika harus bayar sendiri) yang jauh lebih murah kalau harus terbang sekitaran Eropa.

Kamu tinggal datang ke konsulet jenderal atau kedutaan besar negara tujuan, masukkan aplikasi au pair, lalu tinggal tunggu keputusan. Selagi menunggu keputusan, kamu juga bisa berkenalan dan mengunjungi dulu calon keluarga angkat yang akan tinggal bersama kamu nantinya. Banyak juga au pair yang bahkan langsung pindah ke rumah keluarga angkat, sekalian menunggu keputusan tentang permit mereka.

Lebih mudah kan?

8. Nin, sekarang saya punya Visa Denmark selama 6 bulan, tapi belum dapat kartu Izin Tinggal karena sudah angkat kaki duluan dari rumah host family. Apakah boleh cari keluarga lain di negara berbeda dan pindah langsung kesana?

Untuk pertanyaan ini, silakan kamu lihat dulu regulasi au pair di negara yang kamu tuju. Beberapa negara ada yang memperbolehkan kamu langsung apply di negaranya jika termasuk golongan yang bebas Visa (karena sudah ada) dan memiliki tempat tinggal.

Kalau menurut saya, Visa fungsinya tidak sesakti kartu Izin Tinggal. Jadi kalau kamu hanya punya Visa, saran saya ada 2;

1. Tetap cari keluarga pengganti di negara tersebut

2. Jadi nanny lepas selama masa berlaku Visa

Teman saya punya pengalaman di Denmark saat dia harus di-kick out dari sana kurang dari 1 bulan saja. Karena belum punya kartu Izin Tinggal dan trauma tinggal di Denmark, akhirnya teman saya ini cari keluarga baru di luar Denmark. Baru 5 hari, doi sudah dapat tawaran jadi au pair selama 4 bulan di Swedia. Tak pikir panjang, langsung diterimanya. Namun jatuhnya seperti di bawah tangan karena mereka tidak tanda tangan surat kontrak dan teman saya ini harus pulang sebelum masa Visanya habis.

9. Punya Visa/Izin Tinggal yang masih berlaku dari Swedia, tapi niat pulang dari Schiphol di Amsterdam, apakah memungkinkan? Saya dengar kalau imigrasi sana sangat ketat.

Boleh. Bisa dari mana saja. Kamu tidak perlu pulang dari negara dimana kamu tinggal sebelumnya. Cukup menuju konter imigrasi dan menunjukkan paspor. Pengalaman saya selama ini, keluar area Schengen tidak pernah dipersulit asal Visa/Izin Tinggal kita belum habis. Meskipun petugas imigrasi ada yang terlalu strict, tapi kalau sudah menyangkut au pair, tidak akan ada masalah. Mereka sudah tahu au pair itu apa dan paham kalau kita masuk ke Eropa atas dasar izin tinggal yang legal.

Teman saya dapat Visa Tipe D dari Denmark, tidak mengantongi Izin Tinggal, pulang melenggang saja dari Swedia. Tidak ada pertanyaan apa-apa dan aman.

10. Saya lagi jalan-jalan di Eropa pakai visa turis three bulan, bolehkah langsung mendaftar jadi au pair disini?

Tidak bisa, karena kamu ke Eropa pakai visa kunjungan jangka pendek yang sebetulnya tidak bisa diperpanjang. Kalau ingin jadi au pair, sebaiknya pulang saja dulu ke Indonesia dan daftar ulang disana.

That's a wrap! Postingan kali ini memang saya dedikasikan untuk izin tinggal au pair, namun kurang lebih sama juga berlakunya untuk tujuan jenis lain; seperti berkuliah. Semoga membantu dan silakan tinggalkan komen di bawah kalau masih ada yang ingin ditanyakan seputar kedua dokumen au pair ini.