Monday, May 18, 2020

Tips 'May 17th' di Pulau Pribadi |Fashion Style

Bulan Mei adalah Norwegian's month karena setiap tanggal 17, akan ada perayaan terbesar di setiap sudut Norwegia untuk merayakan hari nasional mereka. Setelah penandatanganan konstitusi negara oleh Majelis Eidsvoll pada tahun 1814, secara resmi Norwegia merdeka dan independen dari kekuasaan Swedia selepas Perang Napoleon.

Untuk menghormati semangat patriotik ini, semua orang Norwegia tumpah ruah ke jalanan dan merayakan pesta nasional secara meriah baik berkelompok ataupun personal. Orang-orang biasanya berdandan sangat formal memakai kostum tradisional "Bunad", lalu bersuka cita di jalanan sambil menikmati parade anak-anak, mengibarkan bendera, dan menikmati marching band.

Sudah dua tahun ini saya absen menyaksikan May 17th di Oslo karena harus kerja. Host family saya memang tidak terlalu nyaman dengan keramaian sehingga tiap tahun memutuskan untuk tidak pernah ada di Oslo saat perayaan berlangsung. Alih-alih bersuka cita bersama semua penduduk Oslo, tahun ini saya harus ikut mereka lagi ke pulau pribadi tak jauh dari Bergen.

Mendengar kata-kata 'pulau pribadi' mungkin akan sedikit berlebihan karena kita akan berpikir soal pulau dan mansion mewah yang jauh dari pusat kota. Saya dulu juga berpikir seperti itu. Mungkin karena terlalu sering nonton film Hollywood yang terlalu glamor dan lebay dalam memamerkan harta.

Tapi tidak untuk pulau pribadinya orang Norwegia. Di pulau-pulau kecil biasanya sudah dibangun kabin musim panas atau rumah liburan yang sering diiklankan untuk dijual kembali. Kabin-kabinnya pun sangat khas Norwegia dengan material kayu yang vintage. Uniknya, kebanyakan kabin ini sudah ada sejak abad ke-16.

Bangunan di pulau milik keluarga saya ini sebetulnya sudah dibeli sejak lama oleh keluarga host mom untuk ditempati secara turun-temurun. Bangunannya sangat menarik karena sudah ada sejak abad ke-17. Pulau ini dulunya ditemukan oleh seorang pelayar Belanda yang menjadikan tempat ini terkenal dan dijadikan sentra perdagangan penduduk sekitar. Makanya kata teman saya, interiornya mirip rumah nenek-nenek. Tak usah heran, orang Eropa memang paling bisa menjaga bangunan tua tanpa harus merobohkannya.

Bangunan di pulau ini ada 3, bangunan utama berwarna putih, kamar tamu yang berwarna merah, dan rorbua atau kabin nelayan di depan. Satu lagi kabin kecil untuk mesin kapal dan satu sel mini mirip rumah Hobbit yang dulunya digunakan untuk memasukkan tahanan kriminal sebelum dijebloskan ke penjara di kota. Sounds hystorical, doesn't it?!

Kembali ke acara May 17th keluarga saya, tahun ini lebih sepi dari tahun kemarin karena tamu yang datang hanya 1 keluarga kecil. Tahun lalu lebih ramai karena teman-teman host mom lengkap memakai Bunad, baik yang laki-laki, wanita, dan anak-anak. Meskipun hanya dihadiri 1 keluarga, namun perayaan tetap berjalan seperti biasanya dengan mengadakan parade kereta, bernyanyi bersama, lalu mengibarkan bendera di puncak tertinggi pulau.

Perayaan biasanya diawali dengan minumchampagne di pagi hari, lalu menikmati sajian khas seperti telur dadar dan salmon. Karena kali ini acaranya di pulau sendiri, jadinya suasana memang terasa lebih akrab dan syahdu tanpa huru-hara seperti jalanan ibukota. Semua orang bebas melakukan kegiatan apapun setelahnya, dari berperahu sampai berendam sebentar di laguna kecil di sisi pulau.

Karena May 17th adalah acara penting bagi orang Norwegia, tidak ada salahnya berbusana sedikit konservatif saat perayaan berlangsung. Memang tidak ada aturan resmi kita harus memakai apa. Namun lebih baik menghindari baju-baju mini nan ketat atau jins, karena orang-orang Norwegianya sendiri terlihat sangat rapi.

Tahun ini adalah tahun terakhir saya jadi au pair keluarga ini dan tentu saja kesempatan menikmati tiap sudut pulau tidak akan saya lewatkan. Apalagi foto-foto saya tahun kemarin semuanya hilang.

Sejak jadi au pair keluarga mereka, saya akui bahwa nasib saya lebih beruntung dari orang Norwegianya sendiri. Diajak naik kapal menuju Bergen, dibawa ikut ke pulau pribadi, sampai menginap di bangunan tua yang sudah ada sejak lama. Semuanya tentu saja gratis!

Enak kan jadi au pair kalau kebetulan dapat keluarga yang loyal? I am literally working while travelling!

Selamat tinggal, Pulau Pribadi! Kesempatan merayakan May 17th selama dua tahun ini begitu mengesankan dan betul-betul membawa pengalaman sangat menakjubkan bagi saya.

Selamat ulang tahun, Norwegia! Hiipp, hippp, huurrraahh!

Tips 6 Cara Dapat Uang Tambahan Selama Jadi Au Pair|Fashion Style

Meskipun uang saku au pair sudah disesuaikan dengan gaya hidup dan pengeluaran pelajar lokal di negara tersebut, namun tak jarang au pair tetap harus ekstra irit setiap bulannya. Ongkos transportasi, jajan di luar, serta biaya jalan-jalan, seringkali membuat banyak au pair memutar otak bagaimana mengatur keuangan agar tak sampai angka 0 sebelum habis bulan.

Memang, biaya hidup tergantung gaya hidup. Walaupun sudah berusaha super hemat, tak sedikit au pair yang kurang puas dengan uang saku yang diterima lalu mencari kerja sampingan lain. Terlepas dari sifatnya yang ilegal, uang tambahan yang diterima memang cukup lumayan.

Tapi tahu kah kalian kalau sebagai au pair, kita juga bisa cari kerja sampingan lain untuk dapat uang tambahan? Bukan blackwork yang harus cleaning rumah dan osek-osek WC orang dulu. Kerjanya bisa dilakukan di rumah atau bahkan saat 'nongkrong' di toilet! Uang yang dihasilkan memang tidak sebesar dan seinstan kalau mengambilblackwork. Namun kerjanya legal, bisa sambil santai, dan kalau serius, jumlah uang tambahan yang didapat bisa lumayan!

1. Mengumpulkan botol bekas

Untuk mengurangi limbah plastik dan menjaga lingkungan, pemerintah di banyak negara Eropa mengajak warganya untuk tidak membuang botol atau kaleng minuman di tempat sampah, namun menukarkannya dengan uang tunai. Contohnya di Denmark atau Norwegia, satu botol plastik atau kaleng alumunium dihargai 1-3 krona (cek value-nya di label kemasan!). Karena berharga, seringkali kita melihat banyak homeless yang mengaduk-aduk isi tempat sampah hanya untuk menemukan botol plastik bekas, terutama saat ada event besar.

Biasanya keluarga angkat belanja banyak produk minuman yang botolnya sering dibuang begitu saja. Coba mulai sekarang mulai teliti mengecek berapa value botol minuman yang terbuang dan kumpulkan saja untuk ditukarkan di mesin daur ulang. Satu sampai sepuluh botol mungkin belum terlalu berharga, namun kalau kita rajin mengumpulkan botol sampai 1 bulan saja, tak jarang bisa dapat 50-200 krona! Keluarga saya di Denmark rajin sekali minum soda botolan yang dalam satu bulan, bisa saja terkumpul sampai 50-an botol! Lumayan kan, menjaga lingkungan sekalian dapat uang tunai?!

2. Jual barang sekon

Salah satu godaan terbesar au pair adalah belanja baju atau sepatu; baik bekas, diskonan, atau baru. Tanpa disadari biasanya banyak sekali baju atau sepatu menumpuk di kamar, sampai bingung akan dikemanakan kalau harus pulang atau pindah negara lagi. Sebetulnya, selain disumbangkan lewat kontainer baju bekas, kita juga bisa cari uang lewat barang-barang sekon yang kita punya.

Jangan salah, orang-orang Eropa juga suka barang bekasan asal kondisinya masih bagus. Tidak hanya pakaian, tapi juga barang-barang elektronik dan perabot rumah tangga lainnya. Jadi kalau ada pakaian yang kita malas pakai tapi kondisinya masih bagus, jual saja di situs barang bekas lokal! Tidak perlu memasang harga terlalu tinggi mentang-mentang di Eropa, asal barang laku dan keluar lemari, kita bisa stress-free.

3. Mengkomersilkan skill

Jangan remehkan keahlian masak, seni, atau fotografi yang kita punya! Seorang teman au pair di Belgia, bisa mengumpulkan cukup uang hanya dari keahlian masak dan jiwa kreatifnya, lho! Berbekal ilmu dari yang tadinya hanya hobi, teman saya ini akhirnya percaya diri membuka katering sederhana dan mempromosikan banyak jenis masakan Asia ke teman-teman terdekat dan keluarga pacarnya. Satu porsi bisa dihargai €5-20 tergantung jenis masakan.

Tidak hanya sampai disitu, karena juga berbakat melukis, si teman ini membuka pesanan kartu ucapan atau lukisan handmade. Semuanya dilakukan sendiri dan dipromosikan lewat sosial media atau mulut ke mulut saja. Karena promosinya bagus dan orangnya gigih, saya tak pernah melihat si teman ini kosong pesanan. So, tidak perlu malu mengkomersilkan skill yang kita punya di Eropa karena bisa jadi ladang rejeki!

4. Jual jasa online

Kalau bakat kamu bukan di handmade craft dan memasak, ada cara lain menjual jasa lewat internet. Situs seperti Fiverr dan UpWork adalah salah dua situs terbesar yang mewadahi perusahaan/perorangan untuk mencari atau menjual jasa lewat media daring. Ada banyak sekali jasa yang bisa kamu tawarkan, dari membuat situs, menyelesaikan event project, sampai jadi virtual personal assistant. Jenjang karir dan gaji yang ditawarkan perusahaan pun bervariasi dari enty-level sampai profesional.

Di Indonesia sendiri, kita bisa ikut menjual jasa di Projects.co.id sebagai content writer, desainer poster, atau juga penerjemah. Tak jarang perusahaan yang tadinya hanya merekrut kita sebagai pekerja lepas, bisa menawarkan pekerjaan full time sebagai remote worker yang dibayar lebih dari 2000 USD untuk satu kali proyek! Karena kerjanya freelance, kita tetap bisa menyiasati waktu sebagai au pair sekalian mengerjakan proyek sampingan.

Five. Mengisi survei daring

Selama ini mungkin kita berpikir bahwa mengisi survey dari perusahaan hanyalah sukarela untuk membantu perusahaan tersebut memahami produk mereka dari feedback konsumen. Tapi ternyata, ada banyak situs yang mau membayar kita hanya untuk mengisi survey! Beberapa situs survey berbayar yang bisa dicoba adalah Mobrog , PanelPlace , Toluna , YouGov , LifePoints , iSay , Opinion Outpost , dan Hiving .

Karena tinggal di Norwegia, saya mendaftarkan diri ke situs survey berbayar yang juga berfokus di produk-produk lokal. Bahasanya memang jadi bahasa lokal, tapi lumayan sekalian belajar. Untuk satu kali mengisi survey, kita bisa dibayar 3-20 NOK tergantung berapa lama waktu pengisian. Poin atau uang yang terkumpul bisa gunakan untuk membeli giftcard, ditransfer ke PayPal, ataupun ditukar poin dari maskapai penerbangan.

6. Ikut lomba atau kuis

Daripada bosan dengan pekerjaan rumahan dan sepi teman kencan , coba iseng-iseng buka situs pencarian lomba atau kuis, siapa tahu bisa menang hadiah uang tunai atau barang elektronik! Sewaktu di Denmark, saya sempat ikut lomba blog #PejuangIrit yang diselenggarakan oleh Shopee dan menang uang tunai 2,5 juta Rupiah. Padahal itu adalah lomba blog pertama saya dan tak disangka langsung menang. Artikelnya bisa kamu baca disini .

Saya juga pernah ikut lomba menulis "Colourful Europe" yang diadakan Energy Au Pair Norway di musim panas 2 tahun lalu dan ternyata menang juga. Hadiahnya memang bukan uang, tapi paket lengkap yang berisi parfum, speaker, payung, dan masih banyak lainnya. Lumayan sekali untuk koleksi pribadi! Ini tulisan saya saat menang lomba saat itu. Grammar berantakan, tapi masih menang.

Faktanya, cari uang tambahan selama jadi au pair sangat memungkinkan dan tidak hanya lewat babysitting dan cleaning. Ada banyak cara lain yang bisa kita coba untuk mengasah kemampuan, mengembangkan jaringan, serta menambah uang saku selain berkutat di urusan rumah tangga. Tertarik juga untuk mencoba?

Sunday, May 17, 2020

Tips Dilema Au Pair: Jalan-jalan atau Menabung?|Fashion Style

Sebagai au pair yang tinggal di Benua Biru, salah satu privilege yang didapat adalah bisa jalan-jalan keliling Eropa dengan mudah. Hari ini bisa sarapan di Stockholm, siangnya lunch di Kopenhagen, lalu lanjut makan malam di Amsterdam. Besoknya, tiba-tiba sudah lunch di Paris, lalu dinner di Milan. Life is a luxury!

Tak heran mengapa sosial media au pair Eropa kebanyakan berisi foto jalan-jalan yang memamerkan gaya hidup anak muda zaman sekarang untuk tidak pernah absen travelling. Belum lagi karena kemudahan transportasi dan pendeknya jarak antar negara Eropa, membuat kesempatan travelling ke banyak tempat terasa lebih mudah dan cepat. Beda halnya kalau masih tinggal di Indonesia, Eropa seperti mimpi belaka.

Meskipun mudah, nyatanya keliling Eropa juga tidak murah. Apalagi uang saku au pair biasanya tetap harus dibagi untuk membayar pajak , ongkos transportasi dalam kota, beli baju, dan juga menabung. Inginnya terus jalan-jalan, tapi di sisi lain, harus menabung untuk simpanan masa depan. So, what should we choose between travelling and saving money? Atau, mana yang harus jadi prioritas?

I have been there, saat memilih lebih memprioritaskan jalan-jalan daripada tabungan! Di Denmark, jatah libur au pair 25-30 hari per tahun. Berbeda halnya dengan Belgia yang hanya dapat 14 hari per tahun. Lalu saya dapat libur full weekend ditambah public holidaysyang membuat keinginan untuk keluar Denmark pun lebih sering. Kalau diingat-ingat, saya dulu bisa travelling hampir setiap bulan! Belum lagi padatnya acara hang out di kota membuat saya seringkali harus bertahan dengan sisa uang 10 krona sebelum habis bulan.

Saya tidak pernah menyesal rutintravelling sampai harus mengorbankan uang jajan. Apalagitravelling ke Benua Biru memang mimpi saya sejak di bangku kuliah. Alasan klasik lain saat itu; "Tak apalah, mumpung masih muda. Kapan lagi? Uang bisa dicari, tapi kesempatan jalan-jalan keliling Eropa belum tentu bisa didapat sekembalinya ke Indonesia." Cukup beralasan, karena dulunya saya memang sudah menargetkan Denmark sebagai negara terakhir jadi au pair, sebelum akhirnya settle down di Indonesia.

Tapi, haruskah gaya hidup seperti ini sampai mematikan semangat kita untuk menabung? Bukankah uang saku au pair di beberapa negara termasuk sangat lumayan? Setelah masuk tahun ke-5 jadi au pair di Norwegia, these are what I have learned about doing both; travelling AND saving money!

1. Saving cash IS A MUST!

Sure, kita masih muda. Sure, kesempatan tidak akan datang dua kali. Sure, kapan lagi keliling Eropa. Tapi sebagai generasi muda yang mulai memikirkan masa depan; menikah, beli rumah, peduli kesehatan, atau melanjutkan pendidikan, jangan selalu tergoda untuk terus memuaskan gaya hidup. Saya cukup kaget ketika pertama kali au pair di Belgia, uang tabungan saya hanya tinggal 2,5 juta Rupiah saja. Sekembalinya dari Denmark, hanya bersisa 10 juta, itu pun langsung digunakan lagi untuk travelling. I earned money for travelling only? Really?!

Sampai di Norwegia, saya akhirnya mulai mengurangi kegiatan jalan-jalan dan hasrat untuk menabung pun lebih besar. Setelah menerima uang saku, uangnya langsung saya sisihkan untuk tabungan sekitar 20-35 persen. Saya bagi uang tabungan ke rekening Indonesia, rekening Denmark, rekening lokal, lalu untuk ikut arisan emas di Indonesia. Kalau masih ada sisa uang dari pengeluaran setiap bulan, saya tabung lagi sisanya ke rekening lokal.

Mengapa harus menabung ke Indonesia, karena saya tidak tahu nasib saya setelah jadi au pair akan kemana lagi. Kalau pun harus pulang dan menetap di Indonesia, artinya saya punya sedikit tabungan sebelum dapat kerja dan penghasilan tetap. Kalau ending-nya harus tinggal lebih lama di Eropa, artinya saya akan tetap menabung ke Indonesia yang uangnya bisa digunakan untuk dana darurat keluarga atau dana pensiun nanti. Sementara karena rekening di Denmark masih aktif, saya sisihkan saja sedikit uang untuk tabungan darurat lain disana.

Tapi kalau setelah masa au pair kita berencana lanjut kuliah, ikut Working Holiday Visa (WHV) di Australia , atau menyicil rumah di Indonesia, tentu saja dana yang dibutuhkan lebih besar lagi. Harusnya kita bisa menabung 50-60 persen dari uang saku setiap bulannya dan menjadikan tabungan sebagai prioritas utama ketimbang jalan-jalan.

Sejujurnya, saya juga tidak ingin munafik bahwa menabung itu sulitnya bukan main. Sudah susah-susah menyimpan uang dan berusaha konsisten, ada saja pengeluaran darurat. Belum lagi karena ingin hidup hemat, kita harus rela selalu absen acara hang out agar tidak tergoda jajan atau belanja di luar. Kalau sudah begini, cara lainnya adalah menabung di rekening teman atau buka rekening deposito yang uangnya tidak bisa kita tarik semaunya. I knoooow, it's insanely tough! Tapi ingat lagi, tabungan itu sebetulnya uang kita yang manfaatnya akan kembali ke kita juga.

2. Travelling is also A NEED!

Saya mengenal banyak au pair yang tidak terlalu tertarik travelling dan hanging out karena memang prioritas utamanya adalah menabung. Saya salut, but at the same time, kasihan. Salut, karena mereka bisa menabung sampai 70 persen uang sakunya ditambah cari kerja tambahan lagi di luar. Kerja keras yang mereka lakukan akhirnya terbayar karena bisa mengumpulkan banyak uang untuk modal kuliah atau mencicil rumah.

Tapi, saya juga kasihan karena mereka melihat program au pair sebagai ladang uang semata. Jadinya seperti money-oriented karena hanya berusaha earning money sebanyak mungkin, tanpa perlu earning experience yang juga berharga untuk mengenali potensi diri, memperluas networking, dan memperkaya cerita hidup. Padahal tiap orang pasti jenuh dengan rutinitas hariannya dan jalan-jalan ke tempat baru bisa jadi cara menghilangkan penat sekalian bersenang-senang. A full-time job shouldn't stop you from satisfying your wanderlust!

Tidak usah juga harus seperti saya dulu yang gila travelling setiap bulan sampai menguras uang tabungan. Kalau memang harus menghemat, bisa pergi ke negara-negara murah di Eropa Timur atau Eropa Tengah. Sekarang tidak perlu pusing bagaimana caranya bisa travelling on budget, karena informasi sudah bertebaran dimana-mana. Jika harus berhemat, pergilah ke 2-3 negara saja selama 12 bulan kita au pair. Pilihlah negara-negara yang berbeda dari negara yang kita tinggali agar pengalaman travelling-nya tidak hanya sebagai city break dan lebih berkesan.

Kota-kota di Eropa itu sebetulnya hampir mirip sesuai letak geografisnya dan tidak perlu semua negara harus didatangi. Contohnya, kalau kamu merasa Paris terlalu mahal, pergilah ke Praha yang lebih kalem dan murah. Belum mampu ke Portugal, pilihlah Kroasia. Kalau memang Islandia masih kejauhan, datanglah ke Norwegia untuk melihat keindahan alamnya yang luar biasa.

Jangan sampai ingin hidup hemat dan mengumpulkan uang banyak, kita jadi lupa caranya bersenang-senang. Belum mampu terbang jauh, mampirlah ke negara tertangganya saja. Tidak cukup uang untuk liburan panjang seperti teman-teman lainnya, maka cukup liburan saat weekend. Pick your own cities and schedule!

Kesimpulannya, travelling boleh jadi prioritas asal sudah menabung minimal 15-20 persen. Kalau memang punya planning lain selepas au pair yang membutuhkan dana lebih banyak, maka konsistenlah menabung 50-60 persen setiap bulan. Travelling harus tetap direncanakan, tapi cukup ke 2-3 negara favorit saja. Being a tourist in our host country sebetulnya tetap seru dan adventurous, kok!

We are young. We want experience, yet we also need money for the future!

Tips Road Trip Impian ke Pulau Lofoten, Norwegia|Fashion Style

Sudah lama sebetulnya saya merencanakan ingin road trip ke Pulau Lofoten. Dulu inginnya ke Norwegia Utara bersama Michi—yang belum tahu siapa itu Michi, baca cerita saya disini ! Lalu karena sadar rencana tersebut hanya angan-angan belaka, saya lempar lagi rencana ini ke teman-teman au pair Indonesia di Denmark. Seorang au pair sudah mengantongi SIM Eropa dan sering antar-jemput host kids-nya, jadi saya anggap bisa diandalkan untuk jadi sopir 😛. Rencana sudah dibuat cukup matang sampai menghitung harga ongkosnya juga. Lagi-lagi, rencana tinggalah rencana.

Tahun ini, saya akhirnya bisa mewujudkan trip impian lewat darat ke Lofoten! Beruntung, seorang cowok Norwegia, sebut saja Mumu, secara spontan menawari saya perjalanan ke Lofoten melihat midnight sun.Rencana ini juga akhirnya bukan hanya wacana, meskipun sudah direncanakan Desember tahun lalu. (Next time mungkin saya akan sedikit cerita siapa itu Mumu)

Mengapa Lofoten?

Popularitas Lofoten naik drastis beberapa tahun ke belakang sejak seorang fotografer memamerken jepretan fotonya di Instagram. Banyak orang akhirnya penasaran dimana pulau cantik itu berada, hingga di tahun 2017, lebih dari 1 juta pengunjung memadati pulau ini setiap tahun. Padahal penduduk asli Lofoten sendiri tidak lebih dari 25 ribu jiwa. Puncak keramaian turis biasanya dimulai akhir Juni hingga pertengahan Agustus tepat saat liburan sekolah. Kami cukup beruntung datang kesini di awal Juni sebelum libur sekolah musim panas. Sudah terlihat beberapa rombongan turis memang, terutama dari Jerman dan Amerika, namun kebanyakan para lansia yang berjalan sambil menggendong kamera mereka.

Dimulai dari Oslo, kami menyusuri beberapa kawasan Norwegia Utara, sebelum berlabuh di Lofoten. Saya juga tidak sendirian merancang trip kali ini karena Mumu berinisiatif mengganti rute untuk mengunjungi banyak tempat. Beruntungnya lagi, Mumu sudah beberapa kali mengunjungi Lofoten karena ini juga kampung halaman neneknya. Perjalanan jadinya lebih mudah karena selain sudah tahu beberapa tempat, sebagai native, Mumu tidak kesulitan membaca rute, menemukan rules, dan berkomunikasi dengan warga setempat.

Svolv?R

Trip kami dimulai dari Svolv?R menuju ke ujung selatan pulau. Dari Skutvik, kami naik feri selama 1 jam 50 menit menuju wilayah administrasi sekaligus ibukota Pulau Lofoten ini. Meskipun lebih jauh mengemudi ke utara, namun biaya feri dari Skutvik ke Lofoten lebih murah dan cepat ketimbang dari Bodø.

Svolv?R is an amazing place! Salah satu desa tercantik di Lofoten ini menawarkan pemandangan luar biasa pegunungan, pantai, serta kabin nelayan (Rorbua) khas berwarna merah atau oker sebagai ciri utama Pulau Lofoten. FYI, Pulau Lofoten dulunya adalah kampung nelayan terbesar di Norwegia. Tak heran mengapa akan ditemukan banyak sekali kabin berwarna merah di sisi perairan yang jadi daya tarik Lofoten hingga saat ini.

Selain tempatnya yang cantik, Svolv?R juga seringkali dipenuhi turis saat musim panas karena menyediakan banyak restoran internasional beratmosfir hangat ala pedesaan yang cukup modern. Herannya, meskipun Lofoten adalah desa nelayan, sulit sekali menemukan restoran seafood di Svolv?R.

Kabelv?G

Tidak seperti tetangganya, banyak turis yang seringkali mengabaikan tempat ini. Satu-satunya tempat cantik di Kabelv?G yang kami singgahi adalah Pantai Rørvik. Beruntung karena bukan peak season, berjalan mengitari pantai jadi sangat tenang karena hanya tiga atau lima turis saja yang mampir untuk berfoto, lalu pergi.

Pasirnya putih bersih dan airnya biru jernih bergradasi. Cocok sekali untuk bersantai sekaligus berenang kalau airnya tidak terlalu dingin. Di sisi pantai juga disediakan selang air bersih untuk membilas dan minum.

Henningsv?R

Kata Mumu, Henningsv?R adalah desa yang wajib dikunjungi kalau datang ke Lofoten. Sama seperti Svolv?R, kebanyakan turis biasanya akan memadati desa ini saat musim panas. Pilihan tempat makan dan hiking paths menjadikan daya tarik lain bagi pengunjung.

Selain kabin nelayan yang berwarna merah, satu hal lagi yang pasti akan kita temui di pulau ini, jemuran ikan kod yang diasinkan. Mirip jemuran ikan asin di Indonesia, tapi di Norwegia ikannya digantung di kayu-kayu yang tinggi. Saya sebetulnya sudah melihat piramida jemuran ikan yang dikeringkan di Svolv?R, tapi di Henningsv?R ternyata jumlahnya lebih banyak. Jemuran ikan kod yang tergantung tak jauh dari pesisir pantai tidak hanya badan utuh, tapi juga jemuran kepalanya ikut diasinkan.

Sebelum memasuki pusat desa, kami juga melewati danau berwarna hijau permata yang cantiknya bukan essential! Mata betul-betul dimanjakan oleh segarnya air laut dengan latar belakang bukit bebatuan di sepanjang pulau.

Stamsund

Dari Henningsv?R, kami melipir ke Stamsund, desa neneknya Mumu. He was definitely going back to his childhood. Kami sekalian mampir ke rumah tinggal neneknya yang beberapa tahun lalu sudah dijual. Meskipun tak banyak yang bisa dilihat, tapi makan siang di restoran favorit Mumu di Stamsund semakin membuat kami malas berpindah.

Disini juga saya menemani Mumu memancing di laut lepas sampai dapat 4 ikan Batubara untuk lauk makan malam. It was so fun! Baru 1 menit melempar umpan, Mumu sudah berhasil menjerat ikan berukuran sedang.

Eggum

Kalau winter ada aurora borealis yang biasanya sering 'diburu' pendatang di Lofoten, maka summer ada midnight sun. Karena masuk lingkar arktik, wilayah Norwegia Utara selalu terang benderang karena matahari bersinar selama 24 jam saat musim panas. Sunset biasanya akan dimulai pukul 12 lalu bersinar kembali jam 1 pagi.

Untuk menyaksikan midnight sun, Eggum adalah salah satu tempat terbaik yang sering juga dijadikan camping spot. Sayangnya karena saat itu angin terlalu kencang dan menjadikan malam makin dingin, maka kami batalkan melihat midnight sun disini. Kata Mumu, midnight sun sama kerennya dengan aurora borealis karena matahari hanya menggantung di langit tanpa tenggelam. Pergerakkan matahari yang turun sebentar lalu naik lagi merupakan fenomena alam luar biasa untuk diabadikan.

Leknes

Kami sebetulnya tidak memasukkan Leknes ke daftar kunjungan di Lofoten. Tadinya ingin hiking sepanjang 2 km menuju Pantai Kvalvika sekalian mendirikan tenda, namun celakanya paha Mumu teriris pisau cukup dalam saat pendakian. Mau tidak mau kami harus turun dan menuju rumah sakit terdekat untuk menjahit luka Mumu.

Sepulang dari rumah sakit jam 2.30 pagi, kami sepakat menuju Pantai Haukland untuk bermalam di dalam mobil saja. Saat libur musim panas, tempat ini katanya penuh ramai oleh turis yang berkunjung atau beristirahat mendirikan tenda dan memarkir campervan. Terusan pantai ini adalah Uttakleiv yang sama populernya dan selalu penuh oleh turis.

Meski tidak jadi melihat keindahan Pantai Kvalvika yang bersembunyi di balik bukit, namun Haukland tidak kalah kerennya. Garis pantainya cukup panjang untuk berjalan-jalan sehingga katanya juga, pantai ini mirip seperti yang ada di Seychelles.

Reine

Foto-foto Lofoten yang ada di net kemungkinan besar diambil di Reine dengan latar belakang gunung tinggi menjulang dengan kabin nelayannya di sisi gunung. Desa di wilayah selatan Lofoten ini juga jadi salah satu destinasi terbaik dan terfavorit saya. Reine menggabungkan dua kawasan; rumah untuk orang lokal dan kabin nelayan yang selalu disewakan bagi turis. Karena sangat dekat dengan Moskenes, banyak juga para pendatang yang berlabuh dari Bod? Memulai petualangannya di Lofoten dari sini.

?

Di alfabet Norwegia, ? adalah huruf terakhir dan juga desa paling ujung di Pulau Lofoten. Tidak banyak yang bisa dilakukan di tempat ini selain hiking dan memancing. Karena sedang tidak berangin, saya dan Mumu sepakat memancing lagi di sisi laut. Baru 15 menit memancing, Mumu sudah menjerat 4 ikan Batubara yang ternyata lebih besar dari di Stamsund!

"It is easier to fish in the ocean karena ikannya lebih banyak dari air tawar," katanya.

Tak heran mengapa pesona Pulau Lofoten begitu tenar bagi para turis, internasional maupun lokal. Sepanjang jalan saya melihat bukit dan gunung kokoh dikelilingi laut yang menenangkan perasaan. Bunga katun dan kuning nan lembut menambah kesan damai di sekeliling pulau. Saya yang biasanya hanya melihat hutan berpohon besar di Norwegia Selatan, merasa beruntung bisa merasakan vegetasi lain di Utara.

Inilah Norwegia yang selama ini saya bayangkan saat musim panas; desa yang hijau dikelilingi bangunan berwarna-warni yang menambah kesan ceria. Kebanyakan rumah yang bermaterial kayu seperti rumah nenek-nenek semakin membawa memori zaman dulu. Sederhana namun syahdu. (Cek postingan ini untuk tahu berapa saya dan Mumu menghabiskan uang selama liburan!)

Tips Svartisen - Engenbreen: Camping di Dekat Gletser Abadi|Fashion Style

Mumu, cowok Norwegia yang road trip bersama saya ke Utara Norwegia, berkali-kali mengatakan bahwa kami harus memasukkan Svartisen ke dalam agenda perjalanan sepulang dari Pulau Lofoten . Mumu sangat penasaran dengan tempat ini, hingga tertarik untuk mencoba panjat es yang ditawarkan oleh pengelola Svartisen.

Svartisen adalah gletser terbesar kedua di Norwegia dengan luas 370 meter persegi dan 60 lidah gletser yang membujur dari atas gunung. Ada 2 wilayah Svartisen yang sering dikunjungi turis, yaitu Austerdalsisen dan Engenbreen. Austerdalsisen letaknya lebih ke dalam gunung, berjarak sekitar 32 km dari Mo i Rana dan bisa ditempuh selama 20 menit naik kapal. Karena punya waktu hanya 2 hari mengunjungi Svartisen, kami putuskan untuk datang ke Engenbreen yang hanya 10 menit naik kapal dari Holandsvika.

Walaupun Norwegia memang menjual alamnya yang spektakuler, tapi saya tidak pernah tahu kalau ada tempat sebagus Svartisen. Dari jalan raya, kami sudah bisa melihat lidah gletser membujur dari atas gunung hingga hampir ke danau. Ditambah lagi kokohnya pegunungan dan sejuknya warna air laut berbiru turkis, membuat saya tidak berhenti berdecak kagum. Padahal katanya Svartisen jadi salah satu tempat terpopuler di Norwegia, tapi saya belum pernah mendengar gaungnya sampai saya sendiri bisa melihat betapa cantiknya tempat ini!

Lidah gletser Engenbreen terletak di Kotamadya Meløy dan sudah terlihat dari jalanan sepanjang pantai (Fv17). Untuk mengunjungi Engenbreen, kami harus naik shuttle boat dari dermaga kecil di Holandsvika yang berjarak 158 km dari Mo i Rana. Meskipun katanya kapal ini muat sampai 30 orang, tapi penumpang yang kala itu naik tidak pernah sampai 15 orang. Bisa jadi juga karena belum masuk peak season, jadinya kapal yang digunakan lebih kecil.

Bagi yang tertarik, silakan cek jadwal (2019) shuttle boat-nya disini . Shuttle boat ini juga hanya beroperasi dari akhir Mei hingga akhir September, serta dikenakan biaya 200-250 NOK untuk tiket pulang pergi. Tiket bisa dibeli di tourist information center di Mo i Rana atau langsung ke nahkoda dengan uang tunai atau kartu kredit.

Herannya saat kami kesini, nahkoda kapal sama sekali tidak menagih uang tiket, baik saat berangkat ataupun saat kembali. Padahal Mumu dari awal sudah bertanya dan si nahkoda sendiri yang katanya akan datang dan menagih uang tiket. Tapi ternyata, kami naik shuttle boat gratis pulang pergi.

Setelah sampai di dermaga Engenbreen, pengunjung harus berjalan kaki atau naik sepeda melihat lebih dekat gletsernya sejauh 3 km. Total pulang pergi bisa sampai 4 jam berjalan kaki. Kalau tidak mau repot, bisa juga menyewa sepeda yang terparkir di dekat dermaga. Tidak ada informasi yang jelas soal penyewaan sepeda ini. Yang kami baca dari kertas yang tertempel di dermaga, harga sewa sepeda mulai dari 30 NOK/jam, lalu 80 NOK untuk seharian. Jika ingin menyewa trailer, ditambah lagi ongkos sewanya.

Karena membawa banyak sekali barang untuk perlengkapan camping, kami putuskan menyewa 2 sepeda dan salah satunya memakai trailer. Tujuan kami saat itu ingin camping di Brestua yang berjarak hanya 1,5 km dari dermaga.

Brestua ini bisa dibilang adalah pusat informasi di Engenbreen yang menyediakan restoran, kabin, serta camping spot. Dibuka hanya saat musim panas dari akhir Mei sampai akhir September. Yang tertarik bermalam disini dengan cara camping, Brestua menarik komisi sebesar 100 NOK per orang. Tersedia juga toilet dan kamar mandi gratis bagi para pengunjung selama 24 jam.

Herannya lagi, seorang pengelola restoran yang juga merangkap customer service di Svartisen hanya menyuruh kami membayar total 100 NOK, padahal di situsnya sendiri biaya tersebut untuk satu orang. Soal informasi tiket shuttle boat dan penyewaan sepeda pun, pengelola ini tidak tahu. Jadinya kami saat itu hanya membayar biaya camping saja. Ya sudahlah, rejeki. Daripada kebingungan lebih lama.

Di sekitar Brestua sebetulnya banyak sekali camping spot bagus yang langsung menghadap danau dan lidah gletser. Sayangnya, hari itu betul-betul berangin dan kami nyarishopeless ingin mendirikan tenda dimana. Saya mati-matian ingin sekali bangun tidur, buka tenda, lalu langsung melihat danau dan gletser terpampang di depan mata. Tapi Mumu juga merasa mendirikan tenda di lapangan terbuka hampir impossible.

Sudah mencari ke daerah sekitar pepohonan, kami juga kesulitan menemukan tanah datar dan kotoran sapi ada dimana-mana. Akhirnya daripada gagal, kami tetap mendirikan tenda di lapangan terbuka di seberang pepohonan tak jauh dari danau. Angin yang meniup memang masih kencang, tapi setidaknya sedikit terhalangi oleh jajaran pohon di seberangnya. Usaha mendirikan tenda ini pun tidak mudah karena kami berulang kali harus diterpa angin serta pondasi tenda yang seringkali jatuh.

Untungnya angin mulai reda sekitar jam 11 malam. Kami bisa keluar tenda dan masak untuk makan malam. Menu hari itu ikan Batubara hasil tangkapan Mumu serta fish sauce yang kami beli di supermarket sebelumnya.

This is my favourite camping spot so far! Danau air tawarnya bersiiiih sekali hingga membuat saya dan Mumu ingin toes dipping. Saking jernihnya, Mumu juga mengambil air minum untuk dimasak dari sini. Mumu juga rasanya gatal ingin nyemplung ke danau atau naik canoe menyusuri danau yang memang luar biasa indahnya! Kami sampai berencana ingin mandi sebentar di danau, tapi airnya terlalu dingin.

Kata Mumu, 20 tahun lalu lidah gletser membujur sampai ke dalam danau. Karena efek pemanasan worldwide, lidah gletser semakin lama semakin pendek. Bisa-bisa, 20-30 tahun kemudian sudah tidak ada lagi lidah gletser yang membujur ke bawah gunung di Svartisen.

Karena berada di lingkar arktrik, musim panas di Norwegia Utara berarti siang menjadi sangat panjang dan matahari tidak pernah tenggelam. Kami bisa main sebentar di danau sampai jam 2 pagi tanpa harus takut gelap. Tempat itu juga serasa milik pribadi karena tidak ada orang yang camping di tanah terbuka selain kami. Ada satu tenda yang kami lihat bermalam disana, tapi itu pun cukup jauh dari lokasi kami.

Jam 5 pagi,camping spot kami kedatangan gerombolan sapi ternak yang mencari makan di sekitar Brestua. Karena jumlahnya yang banyak, sapi-sapi ini menjadi malapetaka karena berisik sekali! Beberapa sapi bahkan berjalan sangat dekat dengan tenda kami sampai tersangkut tali tenda beberapa kali. Saya sedikit takut juga kalau saja sapi-sapi ini menyeruduk tenda yang berwarna merah menyala itu. Meskipun akhirnya tidak.

Siangnya, suasana camping spot masih tenang dan damai karena kami sama sekali tidak melihat pengunjung lain berjalan di sekitar area situ. Still felt like it was our own place! Sayangnya karena harus segera pindah ke tempat lain, kami tidak tertarik berjalan melihat gletser lebih dekat, ataupun mengikuti salah satu kegiatan yang dikelola Kotamadya Meløy.

Padahal saya dan Mumu sudah sangat tertarik mengikuti isklatring atau panjat es selama 3,5 jam seharga 650 NOK, tapi ternyata mereka tidak membuka kegiatan ini lagi. Ada banyak aktifitas lain yang waktunya lebih panjang dan mahal disini . Brestua juga mengelola guided tour sederhana untuk melihat dua mamalia jinak terbesar di Eropa, moose atau rusa besar, bernama Arnljot dan Wilma. Harga tiket masuk untuk melihat rusa besar ini sebesar 100 NOK.

One night was definitely not enough in Engenbreen because we needed mooore! Namun saya sangat merekomendasikan tempat ini jika kalian tertarik ke Norwegia Utara via darat!

Saturday, May 16, 2020

Tips Your New Bucket List: Melintasi Lingkar Arktik!|Fashion Style

Naik balon udara di Cappadocia? Berfoto di depan Menara Pisa di Roma? Melihat theNorthern Lights di Abisko? Bungee jumping di Christchurch? Apalagi destinasi favorit dan aktifitas impian yang ada di bucket list mu?

Saya dari dulu memang sangat terobsesi dengan negara dingin di kutub utara. Kalau lagi belajar geografi atau fisika astronomi, selalu tertarik menyimak kehidupan orang-orang Eskimo yang tinggal di dekat kutub dan perbedaan musimnya yang sangat ekstrim dari Indonesia. Beruntung sekarang saya tinggal di Norwegia, negara di Utara Eropa yang cukup dekat dengan kutub utara. Beberapa minggu lalu pun saya akhirnya bisa mencoret satu lagi aktifitas di bucket list; melintasi Lingkar Arktik!

Ada 2 garis melingkar tak kasat mata yang melintasi dua kutub di bumi, Lingkar Arktik di utara dan Lingkar Antartika di selatan. Di utara, Lingkar Arktik hanya melintasi sedikit negara seperti Norwegia (Saltfjellet), Swedia (Jokkmokk), Finlandia (Rovaniemi), Rusia (Murmansk), Amerika Serikat (Alaska), Kanada (Dempster Highway), Greenland (Sisimiut), dan Islandia (Grimsey Island). Lingkar Arktik ini menandai bahwa kawasan tersebut menjadi 'kingdom of light' saat musim panas karena matahari bersinar selama 24 jam, dan juga saat musim dingin karena sangat identik dengan the Northern Lights (Aurora Borealis). Musim dingin di kawasan Lingkar Arktik bisa menjadi sangat ekstrim dengan gelap yang panjang dan suhu yang selalu di bawah 0° C.

Selain ada di dalambucket list, melintasi Lingkar Arktik merupakan pengalaman berharga bagi saya yang hanyatraveller musiman danfirst-time explorer ini. Apalagi tidak setiap tahun saya bisa jalan-jalan ke Eropa Utara lewat darat.

Meskipun tidak pernah sama setiap tahun, tapi in step with Juni 2019 ditetapkan bahwa Lingkar Arktik berada di sixty six?33' Lintang Utara. Karena ekstrimnya temperatur dan lingkungan, diketahui hanya four juta orang yang bermukim di kawasan Lingkar Arktik hingga saat ini. Pemerintah Rusia bahkan memberikan upah minimum yang sangat tinggi bagi para penduduk yang mendiami kawasan di Lingkar Arktik.

Untuk melintasi Lingkar Arktik, kita hanya bisa melakukannya lewat darat dengan mobil atau kereta, dan lewat laut dengan naik kapal. Lingkar Arktik biasanya ditandai dengan sebuah monumen dan crains atau tumpukkan batu di sekelilingnya.

Di Norwegia, Lingkar Arktik melewati kawasan Saltfjellet yang memisahkan bagian Helgeland dan Salten. Bisa dibilang, lingkar ini juga memisahkan hampir setengah wilayah Norwegia. Dengan overall 40% wilayah yang berada di Lingkar Arktik, Norwegia memiliki banyak variasi alam yang luar biasa indah, dari jurang, gunung kokoh yang terjal sampai fjord yang tenang, gletser, dan juga kampung nelayan yang tenteram.

Untuk melintasi Lingkar Arktik di Norwegia ini, pengunjung dari Oslo hanya mengambil rute E6 sekitar 1 jam-an dari Mo i Rana. Biasanya pengunjung yang melintasi Lingkar Arktik juga bagian dari road trip atau tur ke Norwegia Utara.

Di sini Lingkar Arktik tidak hanya ditandai dengan monumen, tapi juga Arctic Circle Center yang dibangun tahun 1990 bersamaan selesainya jalan tol E6 yang melintasi gunung Saltfjellet. Di dalamnya kita bisa menemukan kafe, bioskop, exhibition center, serta toko suvenir yang menjual banyak barang khas Norwegia Utara.

Kalau kebetulan lagi lapar dan ada uang lebih, coba sekalian mencicipi makanan khas gunung di Norwegia; apapun yang berbau hasil buruan seperti rusa, kijang, atau babi hutan. Makan di kafetaria ini pun bisa dijadikan bucket list tambahan kalau mampir kesini. Karena Arctic Circle Center tutup saat musim dingin, sangat direkomendasikan datang di musim panas.

Jika malas makan makanan berat, coba saja duduk sebentar di dalam kafe sambil menyesap kopi dan makan wafel. Wafel di Norwegia lebih sering disajikan agak dingin dan berbentuk lembaran, bukan seperti wafel di Belgia yang tebal. Harga selembar wafel 40 NOK dan dimakan dengan krim plus selai stroberi atau raspberi.

Toko suvenir di Arctic Circle Center boleh juga jadi tujuan terakhir sebelum pergi sekalian cuci mata. Saya kira yang akan beli tidak banyak, tapi ternyata hampir tiap turis yang datang pasti keluar membawa buah tangan. Di Norwegia ini, tiap toko suvenir tidak pernah menjual barang yang sama. Barang yang dijual biasanya berkaitan dengan sejarah dan landmark tempat tersebut. Di toko ini saya menemukan banyak sekali suvenir lucu yang memang disesuaikan dengan Lingkar Arktik.

Tempelan kulkas atau gantungan kunci bentuknya macam-macam dan tidak pasaran. Mata saya sudah terfokus pada tempelan kulkas berbentuk makhluk lucu nan fluffy seharga 59 NOK per buah di atas. Hewannya macam-macam dari mulai domba, kijang, anjing, tikus, hingga rusa. Karena semuanya lucu-lucu dan sulit memilih mana yang harus dibeli, Mumu, cowok Norwegia yang pergi bersama saya road trip, menyuruh mengambil saja dua-duanya. Anyway, kebetulan saat itu Mumu yang membayar sekalian saya dihadiahi scarf bermotif Fair Isle karena kelupaan bawa dari rumah.

Rekomendasi untuk kalian yang berencana road trip ke Norwegia Utara saat musim panas; jangan lupa mampir ke Arctic Circle Center, berfoto di monumen Lingkar Arktik, mencicipi menu fast food khas gunung, serta membawa suvenir lucu sebagai pertanda pernah melintasi Lingkar Arktik yang jauh dari Indonesia ini! Bagi yang tertarik mengabadikan pengalaman selain dengan foto, kita juga bisa mendapatkan sertifikat digital"I have crossed the Arctic Circle" secara gratis dari sini .

Tips Pengumuman Penerimaan Mahasiswa di Norwegia|Fashion Style

Bulan Juli adalah waktu yang saya tunggu sehubungan dengan pengumuman penerimaan mahasiswa baru semester musim gugur tahun ini. Jujur saja, dari awal daftar kuliah sebetulnya ada perasaan pesimis apakah saya berhasil masuk di kampus yang saya tuju. Apalagi saya anaknya cukup tahu diri bahwa IPK pun tak sampai 3 dan nilai IELTS juga pas-pasan. Belum lagi banyak kampus di Norwegia punya passing grade yang tinggi terhadap calon mahasiswanya.

Tahun lalu, saya sempat mengobrol dengan seorang cewek Moldova yang sedikit skeptis dengan peluang saya diterima di kampus Norwegia. Saat tahu usia saya sudah late 20s, dia membuat saya down dengan isu yang katanya 50% calon mahasiswa yang diterima kuliah Master usianya masih di bawah 25.

"What?? Am I not young enough to continue my Master’s?!" tanya saya penasaran.

"Kamu tidak tahu kan kalau disini ada praktek diam-diam dari komisi penerimaan mahasiswa baru, bahwa prioritas lebih ditujukan ke calon mahasiswa di bawah 25 tahun? Lagipula orang-orang disini well-educated semua. Jadi wajar saja kalau usia 23 sudah lulus S1 lalu langsung lanjut S2," katanya.

Setelah cerita panjang lebar, ternyata si cewek Moldova ini merasa kecewa mengapa dia tidak diterima di satu pun kampus Norwegia meskipun nilainya diyakini sangat baik. Ceritanya ingin lanjut kuliah Arsitektur, sudah mendaftar ke hampir semua universitas di Norwegia, sudah legalisasi dokumen juga ke NOKUT, tapi tidak ada yang diterima. Mungkin karena kekecewaan ini, adanya pikiran negatif bahwa orang lain bisa lulus pun seperti mustahil.

Saya sempat menanyakan langsung ke pihak kampus apakah isu yang dikatakan si cewek Moldova benar, yang akhirnya dibantah oleh kampus tersebut. Selagi kita berkualifikasi, umur tak jadi masalah, apalagi untuk kuliah S2.

Ngomong-ngomong, karena hasil pengumuman sudah keluar, saya tak sabar ingin berbagi berita; baik atau buruk.FYI, saya ikut pendaftaran gelombang ketiga karena tinggal di Norwegia dan mempunyai residence permit yang masih berlaku. Untuk gelombang ketiga ini, pendaftaran dimulai dari Februari-April, lalu pengumumannya di bulan Juli. Gelombang ini juga hanya diperuntukkan bagi orang-orang Nordik serta non-Eropa yang bermukim di Norwegia. Artinya, saya berkompetisi dengan penduduk Nordik lainnya untuk mendapatakan satu kursi di kampus Norwegia.

1. Oslo Metropolitan University (OsloMet)

Untuk kampus yang ini, sebetulnya gelombang pendaftaran untuk mahasiswa asing hanya dijadwalkan dari Oktober-Desember saja. Saya juga sudah mendapatkan hasilnya awal Maret lalu. Kalau kalian sempat baca cerita saya saat mendaftar kuliah , sebetulnya tidak ada program studi di kampus ini yang cocok dengan background S1 saya. Tapi karena daftarnya juga gratis, jadinya iseng saja memasukkan aplikasi ke program yang 'mungkin' bisa dikait-kaitkan dengan pendidikan terakhir. Program studi yang dipilih adalah International Education Development dengan spesialisasi tentang Education, Culture and Sustainable Development dan Inequality, Power and Change.

Hasil: Tidak berkualifikasi - "You were lack of a relevant specialization to the programs you have applied for."

2. University of Oslo (UiO)

Karena harus lanjut au pair sampai habis kontrak tahun depan, saya memang lebih fokus memilih kampus yang ada di Oslo saja. UiO adalah kampus tertua di Norwegia yang memiliki program studi kuliah lebih variatif serta relevan dengan pendidikan saya dulu. Dari awal memang niatnya sudah ingin kuliah disini saja, sampai menghabiskan waktu 1,5 bulan untuk menulis motivation letters yang ditujukan ke tiga program yang saya pilih, yaituEntrepreneurship, Assessment and Evaluation, dan Higher Education. Dari situs resmi UiO, tertulis juga bahwa ketiga program ini persaingan jumlah peminat dan kursi yang disediakan sangat kompetitif.

Hasil: Diterima - Entrepreneurship

3. University of Bergen (UiB)

Daftar ke kampus ini sebetulnya modal iseng karena deadline pendaftarannya juga di bulan April. Program studi yang tersedia kebanyakan tentang ilmu eksak yang kajiannya lebih mendalam. Banyak program yang tidak tersedia bagi mahasiswa asing, namun hanya bagi penduduk Norwegia saja. Selain karena beberapa mata kuliah memakai bahasa lokal, beberapa kajian di program tersebut memang lebih menyesuaikan letak geografis dan SDA Norwegia sebagai lahan minyak dan tambang. Program yang saya pilih adalah Fisika dengan spesialisasi di bidang Medical Physics and Technology dan Measurement Science.

Hasil: Tidak berkualifikasi - “Your academic background was insufficient to be eligible for admission.”

Dari ketiga kampus dan program studi yang saya daftar di atas, bisa dikatakan UiO memang paling banyak peluangnya. Selain melihat dari mata kuliah yang kita ampu saat S1, ada juga syarat tambahan untuk melengkapi dokumen dengan menyertakan CV dan surat motivasi. Mungkin bisa jadi, saya diterima di UiO karena komisi penerimaan mahasiswa juga mempertimbangkan isi surat motivasi saya. Karena kalau ingin dilihat secara keseluruhan, justru pendidikan terakhir saya kemarin lebih memenuhi syarat masuk ke UiB. Nyatanya, keputusan penerimaan sekali lagi kembali ke kampus masing-masing.

Bagi kalian yang tertarik mendaftar kuliah ke Norwegia dan penasaran berapa banyak peminat dan jumlah kursi yang ditawarkan di masing-masing program, silakan buka statistik tahunannya disini (bahasa Norwegia). Kalau syarat dokumen terpenuhi, nilai mencukupi, serta pendidikan atau pengalaman kerja terakhir selaras dengan bidang yang akan kita pelajari, masuk kampus Norwegia tidaklah mustahil. Bahkan kabar yang saya dengar, sebetulnya banyak juga pendaftar yang sudah tahu dari awal tidak berkualifikasi, tapi nekad mendaftar. Tipe pendaftar seperti ini sebetulnya bukan pesaing berat dan akan tersingkirkan dengan sendirinya.